METRUM
Jelajah Komunitas

Ini Die Wayang Kulit Punye Betawi

WAYANG adalah salah satu khazanah budaya tanah air yang banyak ditemui di berbagai daerah, terutama di pulau Jawa. Begitu juga dengan kota Jakarta, sebagai pusat negara, yang dulu dikenal dengan sebutan Batavia lalu berubah menjadi Sunda Kelapa dan Jayakarta juga memiliki seni tradisional wayang kulit yaitu Wayang Kulit Betawi.

Sejarah

Sejarah wayang kulit Betawi konon dimulai sekitar tahun 1628 dan 1629. Bermula ketika Sultan Agung Anyakrakusuma mengerahkan prajurit Mataram menggempur Batavia. Peristiwa ini terjadi saat Batavia dipimpin oleh Gubernur Jenderal Belanda, Jan Pieterzoon Coen.

Pasukan dari Mataram mendiami sebuah rumah di Jakarta yang menjadi pos peristirahatan dan di pos itulah seorang tentara Mataram setiap malam bercerita tentang tokoh-tokoh dan peristiwa pewayangan. Ternyata tampilan wayang dari Mataram ini begitu memukau penduduk setempat. Kemudian muncullah satu bentuk baru dari wayang kulit Jawa, yaitu wayang kulit Betawi.

Disebut Juga Wayang Tambun

Ada beberapa pengamat yang menjuluki Wayang Betawi dengan sebutan Wayang Tambun. Istilah itu mereka gunakan berdasarkan sejarah penyebaran kesenian Betawi. Wayang kulit Betawi, merupakan salah satu kesenian tradisional Betawi yang berkembang di daerah pinggiran kota Jakarta, yang saat ini dikenal dengan daerah Botabek, khususnya di daerah Tambun, Bekasi, maka Wayang Betawi disebut juga Wayang Tambun.

Lakon dan Lagu

Wayang kulit Betawi lebih sering membawakan cerita atau lakon kehidupan sehari-hari. Namun kadang mengambil lakon dari wayang golek (Sunda) yang berasal dari kitab Mahabrata. Dalam wayang kulit Betawi, unsur seni Sunda sangatlah kental.

Meski dialog dengan bahasa Betawi, namun musik pengiring hingga lantunan lagunya berasal dari tanah Padjadjaran. Lagu-lagu yang mengiringi pergelaran wayang kulit Betawi adalah lagu-lagu Sunda yang disebut juga lagu-lagu Sunda Gunung.

Bahasa Pengantar

Dalam tiap petunjukan wayang kulit Betawi, ada tiga bahasa yang digunakan yaitu: Jika ceritanya tentang karakter wayang terhormat seperti Batara Kresna, Bima, Arjuna dan lainnya maka dalang akan menggunakan bahasa Sunda atau Jawa. Tapi jika ceritanya mengetengahkan karakter orang biasa seperti Gareng atau Petruk maka dalang akan menggunakan bahasa Betawi Klotokan (bahasa Betawi tulen).

Musik Pengiring

Saat pementasan, wayang kulit Betawi akan diiringi oleh gamelan Sunda laras Salendro yang terbuat dari logam besi atau berbahan perunggu. Gamelan yang mengiringi ini disebut juga Gamelan Ajeng, yang terdiri atas terompet, dua buah saron, gedemung, kromong, kecrek, gendang, kempul, dan goong.

Menurut catatan Inventarisasi dan Dokumentasi Budaya Betawi yang ditulis Srijono, alat musik pengiring wayang kulit seperti yang saat ini ada, baru mulai dikenal tahun 1925. Hal ini dikarenakan dahulu sampai tahun 1920, Wayang Kulit Betawi diiringi gamelan terbuat dari bambu yang bentuknya mirip seperti calung Banyumas.

Tempat dan Bentuk Pementasan

Pergelaran wayang kulit Betawi dahulu biasa dilaksanakan dalam bentuk arena. Pada umumnya bermain di atas tanah (tanpa panggung) di bawah “tarub” di halaman rumah. Sebagaimana wayang kulit pada umumnya, Wayang Kulit Betawi juga menggunakan kelir (layar) yang dalam bahasa setempat disebut “kere”.

Berbeda dengan Wayang Kulit di Jawa yang lebih menonjolkan wataknya sebagai seni “adhi luhung”, Wayang kulit Betawi lebih menonjolkan sifat kejelataannya, sederhana, polos dengan interaksi yang akrab antara penonton dengan dalang.

Ruwatan

Wayang kulit Betawi adalah satu-satunya kesenian yang digunakan untuk upacara ruwatan bagi warga asli Betawi. Ruwatan biasanya hanya dilakukan oleh para dalang yang dianggap telah memenuhi syarat yang secara spiritual telah matang dan mumpuni. Lakon yang dibawakan adalah lakon khusus Murwakala, yang menurut istilah setempat disebut lakon “Betara Kala” disertai sesajen lengkap.

Selain dipentaskan untuk upacara/ritual ruwatan, wayang kulit Betawi juga biasanya dipertunjukkan pada pesta pernikahan dan melepaskan “kaulan”, semacam nazar. (Vey si Sendal Jepit)***  

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: