METRUM
Jelajah Komunitas

Kebersamaan Diaspora Indonesia di AS: Jadi Sukarelawan, Hadiri Buka Puasa Gratis di Masjid

Tinggal jauh dari tanah air terkadang mendatangkan kerinduan yang mendalam, khususnya di bulan Ramadan. Inilah yang lantas mendorong diaspora muda Muslim Indonesia untuk bergabung dengan komunitas muslim setempat, demi mendapatkan rasa kebersamaan.

WASHINGTON, D.C. – Diaspora Indonesia Satrio Adnan Hammami hijrah ke Amerika setelah lulus SMA tahun 2018. Tinggal di negara yang mayoritas penduduknya non-Muslim, awalnya Satrio lebih sering menjalani ibadah bulan Ramadan sendirian.

Ia pun lalu terdorong untuk bergabung dengan komunitas masjid Indonesia, IMAAM Center di Silver Spring, Maryland.

“Saya tahun-tahun pertama kerjaannya ya menyendiri saja. Enggak pernah involved di sebuah komunitas. Cuman belakangan ini saya sering ke IMAAM menemukan teman-teman yang luar biasa baik. Jadi saya setiap ke IMAAM merasakan kebersamaannya,” ujar Satrio saat dihubungi VOA.

Tidak hanya bisa beribadah bersama teman-teman Indonesia, Satrio juga aktif menjadi sukarelawan di IMAAM Center hampir setiap harinya selama bulan Ramadan.

Bulan Ramadan memang menjadi salah satu bulan tersibuk di IMAAM Center yang menggelar berbagai program dan kompetisi bertema Ramadan, juga buka puasa bersama yang disediakan secara gratis setiap harinya. Acara buka puasa bersama ini terbuka tidak hanya untuk jemaah asal Indonesia, tetapi juga untuk umum.

Acara buka puasa bersama yang diadakan masjid Indonesia IMAAM Center di Silver Spring, Maryland terbuka untuk umum (dok: VOA)
Acara buka puasa bersama yang diadakan masjid Indonesia IMAAM Center di Silver Spring, Maryland terbuka untuk umum (Foto: Dok. VOA).*

Tahun ini Satrio bertugas mencari sukarelawan yang dapat membantu masjid dalam melangsungkan berbagai kegiatannya, juga menyampaikan berbagai pengumuman di masjid. Ia juga kerap membantu menyajikan makanan dan membersihkan masjid setelah acara selesai.

“Jadi tahun ini, tahun pertama yang saya benar-benar involved, karena yang menggerakan hati saya ya persaudaraan di IMAAM Center inilah,” tambahnya.

Biasa menjalani ibadah Ramadan bersama keluarga, untuk pertama kalinya, Andriana Wirrotama yang berdomisili di Maryland sejak 2019 lalu harus melalui bulan Ramadan seorang diri.

Pasalnya, ayah Andriana yang ditugaskan di Amerika belum lama ini kembali ke Indonesia bersama ibu dan adiknya, karena masa tugasnya sudah berakhir.

Mahasiswi S1 jurusan kesehatan masyarakat di University of Maryland ini mengaku rindu akan masakan ibunya, juga beribadah bersama keluarganya.

“Kalau ada mama, makanan buka puasa sudah ada, terus masaknya biasanya bareng-bareng, bukanya juga bareng-bareng. Kita juga pas Ramadan tahun lalu ia juga sering keliling DMV (DC-Maryland-Virginia) untuk nyari-nyari masjid gitu, dan kita ganti-gantian salatnya. Misalkan di masjid di Virginia hari Sabtu, terus masjid di Maryland hari Minggu,” cerita Andriana.

Untuk mengobati rasa rindu akan kebersamaan di bulan Ramadan, Andriana pun kerap pergi ke masjid Indonesia IMAAM Center di Silver Spring, Maryland untuk sesekali menghadiri acara buka puasa, serta berkegiatan bersama teman-teman sesama muslim.

“(Aku mendekatkan diri dengan orang-orang) yang juga puasa sih, jadi bikin ramai. Misalkan seperti baca Alquran bareng-bareng sama teman, tadarusan bareng sama teman-teman,” jelas Andriana.

“Karena di IMAAM itu disiap(kan). Ada program untuk Zoom tadarus bareng-bareng. Biasanya Senin sampai Rabu. Satu jam sebelum buka, mungkin dari jam 6-7an,” tambahnya.

Andriana juga kerap mengikuti salat Tarawih di masjid Indonesia IMAM Center, yang menurutnya memiliki suasana yang berbeda dengan di Indonesia. Tidak hanya itu, ada hal-hal lain yang ia rindukan dari menjalankan ibadah bulan Ramadan di Indonesia, yang tidak bisa ia dapatkan di Amerika.

“(Di Indonesia) kan banyak anak-anak. Biasanya anak-anak pada main benteng kan, kalau misalnya di masjid Indonesia. Terus buka bersama sama keluarga besar aku juga kangen, terus undangan buka puasa sana-sini, itu yang aku kangen. Beli-beli takjil di pinggir jalan aku juga kangen, kalau di Indonesia lebih festive, lebih ramai,” ceritanya.

Teman-teman kuliah Andriana yang non-Muslim pun ikut menyemangatinya dalam berpuasa dan kadang menemaninya berbuka puasa.

“Teman-teman aku ada yang orang Hispanik, ada yang orang putih, Philippine, mereka mau banget ‘oh iya, gue mau puasa, buat gara-gara nemenin lo. Kita buka puasa bareng, yuk.,” papar Andriana.

“Dan bahkan mereka juga take the time out of their day untuk mempelajari Ramadan itu apa. Apa yang muslim dianjurkan untuk lakukan selama Ramadan,” lanjutnya.

Tahun ini adalah Ramadan ke-3 di Amerika bagi Faris Reyhan Zachary Pohan. Sebagai ketua departemen pemuda di masjid IMAAM Center di Maryland, Faris mengaku banyak bertemu teman baru di masjid, yang juga merantau dan menjalani bulan Ramadan tanpa keluarga seperti dirinya.

“Akhirnya ini yang mendorong saya untuk, bukan mengobati homesick sih, tapi lebih ke, ibaratnya kayak setelan pabriknya orang indonesialah, terutama buat saya ya, bulan Ramadan itu selalu bulan dimana sering ketemu temen, sering ngumpul, ya bisa dibilang nongkrong sembari ibadahlah, ingin ikut membantu menyukseskan Ramadan di IMAAM ini,” ujar Faris kepada VOA.

Selama tinggal di Amerika, lulusan S1 jurusan hukum dari Universitas Indonesia ini mengaku belum pernah menemukan tempat lain yang mengadakan acara buka puasa dengan nuansa Indonesia.

Mulai dari makanan yang disediakan seperti rendang, karedok, bubur kacang hijau yang langka di Amerika, hingga para jemaah yang hadir, yang hampir seluruhnya warga Muslim Indonesia.

“Jadi inilah tempat yang tepat buat saya untuk aktiflah di bulan puasa ini sebagai Muslim Indonesia,” ucap Faris.

Berkumpul dengan sesama muslim Indonesia juga mendorong Faris untuk merencanakan berbagai kegiatan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya di Amerika, namun merupakan kegiatan yang cukup lazim di Indonesia.

“Saya sama teman-teman mau meng-organize, Insha Allah pengin coba minggu ini, dan ini cukup menantang, karena belum pernah ada di Amerika sebelumnya, tapi sering diadakan di Indonesia,” ujar Faris.

“Jadi kita mau coba, malam-malam habis salat Tarawih, bagi-bagi makan ke orang homeless misalnya, selebihnya kita bisa hangout atau kita bisa itikaf sambil ngaji, tapi yang penting ngumpul,” tambahnya.

Terkait bulan Ramadan, Faris berharap Ramadan kali ini bisa mendatangkan berkah dan menjadi “momen kebangkitan spiritual.”

Andriana dan Satrio juga saling menyemangati sesama Muslim dalam beribadah dengan konsisten, juga tidak lupa untuk melakukan hal-hal yang baik.

“Pokoknya tetap semangat dan jangan malas-malas ke masjid, dan banyak-banyak bikin doa untuk saudara seiman kita yang ada di Gaza, yang ada di Yemen, yang Rohingya, semua umat muslim di dunia yang sedang tertindas, tetap libatkan mereka dalam doa kita,” pungkas Satrio. (M1-VOA/di/ab)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.