METRUM
Jelajah Komunitas

Kiat Bugar di Bulan Ramadan

Oleh Ahmad Nada*

ADA yang berbeda dalam melaksanakan saum puasa Ramadan tahun ini dengan sebelumnya. Bulan puasa yang kali ini jatuh pada 24 April hingga jelang akhir Mei 2020 itu terasa sepi, tak semeriah biasanya. Pada masa-masa sebelumnya, sekitar 30 hari puasa dijalani dengan pelbagai ritual yang melibatkan banyak orang. Mulai dari salat berjamaah, ngabuburit, buka puasa bersama, hingga sahur on the road. Namun kondisi saat ini begitu memprihatinkan, ini tak lepas dari pandemi Corona COVID-19 yang melanda dunia.

Di balik itu, jika saya perhatikan, ada yang tidak berubah, yakni ketika berbuka atau sahur masih makan dan minum sepuasnya tanpa melihat apa yang kita konsumsi, seberapa banyak, dan apa efeknya bagi tubuh. 

Ahmad Nada.*

Masalah yang cukup lazim di Bulan Ramadan ini: makan berlebihan! Kondisi perut kosong di siang hari, dibalas dengan menjejali makanan di malam hari. Belum lagi minimnya aktivitas dapat menimbulkan kondisi kebugaran tubuh yang terus menurun.

Hasilnya, seringkali saya dengar keluhan lemas dan ngantuk menghinggapi teman-teman dalam menjalankan aktivitas di bulan suci ini. Padahal, puasa Ramadan bukan halangan untuk tetap beraktivitas seperti biasa. Dengan berpuasa bukan berarti mengurangi aktivitas hingga seminim mungkin, tetapi menjaga bagaimana kondisi tubuh tetap pada kondisi fit dan normal sesuai dengan keadaan puasa yang sedang dijalani.

Pada saat berpuasa, apalagi sebulan penuh, aktivitas tubuh harus tetap dilakukan dan mendapatkan porsi yang layak, asupan makanan  yang seimbang dan tidak berlebihan, dan kontrol kedua hal tersebut sangat penting. Tanpa aktivitas tubuh atau olahraga serta asupan yang sesuai, anda akan merasa kekurangan energi, kebugaran, dan berat badan justru bertambah pesat.

Rasa lemas saat berpuasa, menurut dr.Samuel Oetoro, MS.Sp.GK, ahli gizi dari Semanggi Spesialist Clinic, disebabkan karena menurunnya gula darah secara berlebihan. Nah, jika gula darah turun terlalu rendah, kita akan merasa lemas, letih, lesu bahkan sampai merasa pusing di kepala. 

Tips untuk mengatasi lemas dan agar tubuh tetap berenergi ketika berpuasa diantaranya adalah banyak mengkonsumsi buah-buahan, awali berbuka dengan minum, asupan air yang cukup (8 gelas setiap hari (akumulasi ketika sahur dan berbuka), mengonsumsi makanan berprotein, mengonsumsi lemak baik, batasi garam, jangan memasak makanan terlalu lembek, saat sahur pilih makanan yang kaya nutrisi & serat dan sempatkan olahraga agar tubuh tetap bugar sepanjang hari.

**

Di balik itu, berbagai penelitian telah mengungkapkan adanya mukjizat puasa ditinjau dari perpekstif medis modern. Penelitian meta analisis atau penelitian terhadap berbagai Abstrak Terkait ini diperoleh dari Medline dan jurnal lokal di negara-negara Islam 1960-2009.

Seratus tiga belas artikel yang memenuhi kriteria untuk pemilihan kertas dikaji secara mendalam untuk mengidentifikasi rincian bahan terkait. Hasilnya, terdapat manfaat luar biasa dan tidak disangka sebelumnya oleh para ilmuwan tentang adanya mukjizat puasa Ramadan bagi kesehatan manusia. Seperti meningkatkan fungsi otak, menurunkan kadar kolesterol, menetralkan racun, memperbaiki dan merestorasi fungsi kerja sel, bermanfaat bagi jantung, penurunan glukosa dan berat badan, sangat efektif meningkatkan konsentrasi urin dalam ginjal serta meningkatkan kekuatan osmosis urin, bermanfaat dalam pembentukan sperma, memperbaiki hormon testoteron dan performa seksual, bermanfaat untuk penderita radang persendian (encok) atau rematoid arthritis, meningkatkan sistem kekebalan tubuh,  dan masih banyak lagi.

Jadi, selain bernilai ibadah, dalam puasa ramadan juga terdapat keistimewaan suatu berkah dalam kesehatan. Seperti ditegaskan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Suny dan Abu Nu’aim: “Berpuasalah maka kamu akan sehat.” 

Oleh sebab itu, berpuasa bukan sekedar mengosongkan perut, tapi waktu mengisinya (berbuka) juga perlu diperhatikan. Makan dan minum janganlah berlebihan atau kekenyangan. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam surat Al’araf ayat 31 yang artinya: “Dan makan dan minumlah kamu, akan tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan.”

Rasulullah dalam setiap berbuka atau katakanlah setiap waktu makan, tidak pernah terlalu kenyang. Bahkan tidak sampai kenyang kurang lebih 2/3 dari perut itu yang diisi, dan 1/3 lagi dikosongkan hal ini dijelaskan oleh Rasulullah dalam salah satu haditsnya, bahwa beliau tidak makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang.

Oleh sebab itu, sangat penting untuk memilih makanan yang tepat untuk berbuka dan sahur selama Puasa Ramadan. Menurut Dr. Tirta Prawita Sari, MSc, Sp. Gk, Ketua Yayasan Gema Sadar Gizi, ketika sahur sebaiknya memilih makanan yang indeks glikemiknya (nilai karbohidrat) rendah. Dr. Tirta menyarankan untuk menghindari makanan seperti mi instan saat sahur, karena kandungan glikemiknya tergolong tinggi. Makanan yang indeks glikemiknya tinggi membuat seseorang lebih cepat lapar. 

Saya jadi teringat teman kuliah saya dulu yang seringkali mengantuk di ruangan ketika kuliah selama Bulan Ramadan. Saya ingat, menu sahurnya seringkali mi instant disanguan. Ramadan ujian bagi teman saya itu. Maklum anak kost, segitu juga uyuhan!***

*Penulis, praktisi media dan Sekjen Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Barat

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: