METRUM
Jelajah Komunitas

Kompak Melakukan Protes, Ayah dan Anak Ditangkap Bersama

PADA usia 7 tahun, Julia Young melihat poster Malcolm X di sebuah supermarket. Dia pikir aktivis kulit hitam itu ada hubungan saudara dengan ayahnya, karena namanya sama-sama Malcolm. Meskipun warna kulit, usia dan latar belakang mereka berbeda.

Dia kemudian memperoleh temuan, mereka memiliki persamaan: yaitu sama-sama memperjuangkan hak-hak sipil dan HAM. Julia didukung oleh ayahnya, seorang aktivis yang kini berusia 73 tahun. Keduanya bahkan pernah ditangkap bersama dalam sebuah aksi protes di Washington DC.

Ketika ada aksi unjuk rasa terkait kematian warga kulit hitam dalam tahanan polisi, ayah dan anak ini langsung bergabung.

“Ayah dan ibu mengajarkan saya untuk peduli pada orang lain, pada ketidaksetaraan dan ketidakadilan di dunia,” kata Julia Young, seperti dilansir dari VOA.

Ilustrasi. Seorang gadis duduk di atas bahu ayahnya, selama demonstrasi damai, ketika masyarakat bereaksi terhadap penembakan Michael Brown di Ferguson, Missouri 14 Agustus 2014. (Foto: REUTERS)
Ilustrasi. Seorang gadis duduk di atas bahu ayahnya, selama demonstrasi damai, ketika masyarakat bereaksi terhadap penembakan Michael Brown di Ferguson, Missouri 14 Agustus 2014 (Foto: REUTERS).*

Keduanya giat memperjuangkan keadilan sosial lewat profesi masing-masing. Malcolm adalah pengacara yang memperjuangkan hak-hak narapidana. Julia mengajar sejarah di universitas dan menulis buku tentang imigrasi.

Pada bulan Juli, mereka mengikuti protes bagi anak-anak imigran di luar Gedung Capitol. Julia memberitahu ayahnya mengenai rencana aksi pembangkangan sipil.

“Saya email ayah saya dan mengajak, ‘Mau ditangkap bersama-sama?” kata Julia.

“Lalu saya jawab, Julia, keluarga yang ditangkap bersama, akan terus bersama,” tambah Malcolm Young, sang ayah.

Akhirnya mereka ditangkap. Dalam situasi yang rumit, ikatan antara ayah anak ini justru semakin kuat.

“Saya merasa emosional melihat ayah saya diborgol,” kata Julia.

Seorang pemrotes berpose untuk foto-foto di sebelah kendaraan polisi yang terbakar di Los Angeles selama demonstrasi atas kematian George Floyd. seorang pria kulit hitam yang terbunuh dalam tahanan polisi di Minneapolis, 30 Mei 2020. (Foto: AP/Ringo H.W. Chiu)
Seorang pemrotes berpose untuk foto-foto di sebelah kendaraan polisi yang terbakar di Los Angeles selama demonstrasi atas kematian George Floyd. seorang pria kulit hitam yang terbunuh dalam tahanan polisi di Minneapolis, 30 Mei 2020 (Foto: AP/Ringo H.W. Chiu).*

Sementara Malcom mengkhawatirkan anaknya. “Julia dipisah dari saya dan saya mencari-cari apakah dia baik-baik saja. Saya melihat dia sedang melihat ke arah saya, dari jauh berbisik ‘Apakah kamu baik-baik saja?’ Tentu saya senang karena puteri saya merasa khawatir dengan keadaan saya.”

“Itu adalah momen solidaritas yang menenangkan, berdiri bersama orang-orang ini dan bersama ayah,” kata Julia.

Beberapa bulan kemudian, mereka ke Dilly, Texas, menemui para perempuan Hispanik yang mencari suaka di Amerika.

“Julia merasa saya menanyai para pencari suaka itu dengan terlalu intensif. Lalu Julia mengatakan, ‘Ayah, dia merasa tidak nyaman. Ini tidak baik,” kata Malcom.

“Beberapa hari kemudian, saya baru sadar bahwa Ayah sangat terampil untuk membujuk orang-orang yang mengalami trauma, untuk bercerita,” tambah Julia.

Bagi laki-laki yang sudah berunjukrasa semasa Perang Vietnam, Malcolm mengatakan masa depan Amerika terlihat lebih cerah.

“Menyaksikan Julia dan para pemuda lain berunjukrasa damai di jalan, dengan menyuarakan isu-isu keadilan rasial, ada harapan. Apabila belum terwujud hari ini atau kemarin, semoga besok,” kata Malcom.

Dan itu juga menjadi alasan bagi pasangan bapak putri ini untuk merayakan Hari Ayah. (M1-VOA/vm/jm)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: