METRUM
Jelajah Komunitas

Komunikasi Santun

Oleh: Suwatno*

PEMILIHAN umum kepa­la daerah (pil­ka­da) tidak perlu diha­dapi dengan suasana genting dan men­cekam manakala semua pihak menjalaninya seca­ra tulus untuk mengabdikan diri kepada bangsa dan negara. Siapa pun yang me­nang, hakikatnya, mereka ­ingin me­nyejahterakan rakyat demi kebahagiaan yang sama.

Kalau ada calon kepala daerah yang menyebab­kan disintegrasi bangsa, toh seluruh bangsa Indonesia sepakat, ”Negara Ke­satuan Republik Indonesia (NKRI) harga ma­ti.”

Bersikap optimistis dapat me­nempatkan hati ki­ta lebih tenang dan tenteram. Kita harus yakin, Indonesia akan menjadi negara maju sebagaima­na pernah diraih negara-negara maju sebelumnya. Kita akan menjadi negara dengan per­tum­buh­an ekonomi tertinggi dengan tingkat kesejahteraan rakyat terbaik di dunia. Kita akan menjadi negara dengan pemimpin yang adil dan rakyat yang makmur. Jika sekarang terasa ”ge­lap”, yakinlah dinamika kehidupan berbangsa dan bertanah air yang terasa pahit saat ini merupakan masa transisi dari bangsa berkembang me­nuju negara maju yang diridai Allah SWT.

Meski demikian, semua pihak ha­rus waspada, sebab godaan kehi­dup­an berbangsa dan bertanah air tidaklah kecil. Alih-alih segera ber­ubah dari negara berkembang me­nuju negara maju, kadang terasa, negeri ini mundur beberapa puluh tahun ke belakang, seperti mau kembali menjadi negara terjajah. Na’udzubillah min dzalik. Kita ti­dak mau lagi menjadi negara terjajah. Undang-Undang Dasar 1945 yang menjadi dasar konstitusi ki­ta sudah menetapkan, penjajahan di atas bumi harus dihapuskan. Allah menciptakan segala se­su­atu tidak pernah sia-sia. Jangan-jangan, rasa ta­kut kembali dijajah yang menghantui kita justru menjadi perekat seluruh komponen bangsa untuk kembali bersatu setelah bercerai-berai.

Tanpa disadari, bayangan akan kembalinya Indonesia menjadi bangsa terjajah menyebabkan tumbuhnya nasionalisme di hati bangsa Indonesia. Mereka yang tadinya tidak peduli, justru semakin memperhatikan keadaan tanah airnya. Ge­nerasi muda yang tadinya apatis, justru sema­kin mencintai tanah kelahiran beserta seluruh ke­kayaan alamnya. Semua gangguan dan godaan malah berubah dari ancaman menjadi peluang. Semua rintangan kali ini mudah-mudahan menjadi momentum bersatunya seluruh komponen bangsa.

Bersatunya hati semua komponen bangsa yang prihatin akan ma­sa depan negara harus dikelola agar menjadi sesuatu yang lebih produktif. Misalnya, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang kompetitif, memba­ngun ekonomi masa depan yang le­bih digdaya, dan mem­ba­ngun ulang sistem budaya yang berbasis nilai lokal tetapi terbuka bagi kemajuan. Intinya, masa krisis merupakan masa penting menuju perubahan. Jika tidak terkendali, masa krisis beru­bah menjadi bencana. Akan te­tapi, dengan ke­sadaran semua komponen bangsa disertai doa yang tiada henti, kita berharap masa krisis segera berakhir dan kemudian me­nuju iklim yang lebih kondusif bagi perbaikan masa depan.

Modal yang kita miliki adalah semua orang selama ini keukeuh ­ingin NKRI dengan semboyan ”NKRI har­ga mati”. Semboyan tersebut mes­tinya diikuti perilaku dan komunikasi yang santun. Bu­kan sebalik­nya, ingin mempertahankan kesatuan dan persatuan dengan kebenaran tunggal, kebenaran diri sendiri. Yang lain salah dan jelek. Apa­lagi ungkapannya di­sertai caci maki dan peri­sak­an. Bagaimana mungkin NKRI dapat di­pertahankan? Maka, mempertahankan NKRI ha­rus dilakukan de­ngan komunikasi yang santun, sa­ling menghargai, dan saling memberi.

Mari kita mempertahankan sifat bangsa Indo­ne­sia yang santun dan religius. Sifat ini merupa­kan karakter asli bangsa Indonesia. Kalau kita ber­ubah menjadi beringas dan mengabaikan kultur yang ada di masyarakat, kita telah tercerabut dari akar budaya kita sendiri sebagai bangsa Ti­mur. Perbedaan dan masalah sesungguhnya selalu mun­cul setiap waktu dan setiap tempat. Mes­ki demikian, besar atau kecilnya perbedaan dan masalah tidak me­nentukan penyelesaian.

Solusi masalah harus dilakukan dengan komunikasi yang baik, yak­ni menggunakan bahasa yang santun dan perilaku yang lembut. Se­besar apa pun perbedaan dan persoalan jika semua pi­hak menyadari perlunya penyelesaian bersama, semua dapat diselesaikan. Sebaliknya, sekecil apa pun persoalan kalau di­selesaikan dengan perilaku yang kasar dan ugal-ugalan, persoalan bukan selesai, melainkan menum­puk persoalan di atas persoalan.

Penulis setuju Indonesia sebagai negara hukum, tetapi setiap persoal­an tidak harus dibawa ke ra­nah hu­kum. Sedikit-sedikit lapor polisi, sedi­kit-sedikit maju ke meja hijau. Laku­kanlah secara ber­tahap, kita coba selesaikan masalah dengan bermusya­warah, saling mendengar­kan argumen saudara kita sebangsa dan setanah air. Kalau memang salah, sa­ling meminta maaf. Akan tetapi, ka­lau sama-sama benar, mengapa ha­rus berkonflik? Damai itu indah. (Sumber: “PR” 13/02/17)***

* Penulis adalah Guru Besar Komunikasi Organisasi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPI, Ketua Prodi Pendidikan Ekonomi Sekolah Pascasarjana UPI.

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: