METRUM
Jelajah Komunitas

Konflik Israel-Hamas, PBB Prihatin atas Banyaknya Jurnalis Tewas

Ketika dua lagi jurnalis terbunuh sewaktu meliput perang di Gaza, PBB menyatakan bahwa mereka prihatin atas tingginya jumlah korban tewas yang sejauh ini tercatat. Hampir 80 pekerja media terbunuh sejak Oktober.

GAZA – Hari yang suram ketika kepala biro TV Al Jazeera di Gaza Wael al-Dahdouh untuk terakhir kalinya mengucapkan selamat tinggal kepada Hamza al-Dahdouh.

Dilansir dari VOA, selain rekan reporter di Al Jazeera, Hamza adalah putra Wael. Bersama seorang jurnalis lainnya, Hamza terbunuh di dekat Rafah, Minggu lalu.

Bagi Wael al-Dahdouh, kehilangan Hamza menambah duka keluarga. Pada Oktober, serangan Israel menewaskan istrinya, putranya yang berusia 15 tahun, putrinya yang berusia 7 tahun, dan seorang cucunya. Putranya yang lain, Yehia, terluka parah. Dahdouh pun terluka ketika menjalankan tugas pada Desember.

Sambil berderai air mata, Wael al-Dahdouh mengatakan, “Bagaimana seseorang bisa menerima kematian putra sulungnya? Dia adalah segalanya dalam hidup saya. Saya telah kehilangan sebagian anggota keluarga saya – istri saya, putra saya Mahmoud, serta Sham dan Adam. Bagaimana saya bisa menerima ini?”

Putra Dahdouh, Hamza, dan jurnalis lepas kantor berita Prancis, AFP Mustafa Thuraya sedang kembali dari tugas pada hari itu ketika serangan udara Israel menghantam kendaraan mereka.

Militer Israel mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa pasukannya, IDF, telah “mengidentifikasi dan menyerang seorang teroris.” Ditambahkan, pihaknya “mengetahui laporan” bahwa “dua tersangka lain” di dalam kendaraan itu juga terkena serangan.

Kedua jurnalis yang terbunuh pada Minggu adalah korban terbaru yang tewas dalam apa yang menurut para pengawas merupakan jumlah korban tewas yang tak tertandingi bagi media dalam perang. Hingga Senin, setidaknya 79 jurnalis telah terbunuh, hampir semuanya orang Palestina, kata Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ).

Tingginya jumlah tersebut dalam waktu singkat membuat PBB prihatin. Seorang juru bicara PBB, Florencia Soto Niño, pada Senin mengulangi seruan agar jurnalis tidak menjadi sasaran.

“Jurnalis, mereka mempertaruhkan nyawa untuk menyampaikan kebenaran kepada semua orang di seluruh dunia. Dan ini semakin sulit mengingat kondisi yang mereka hadapi di sana,” ujarnya.

Kedutaan Besar Israel di Amerika tidak menanggapi permintaan VOA untuk komentar. Tetapi juru bicaranya pernah mengatakan bahwa pasukannya tidak pernah dengan sengaja menarget jurnalis.

Investigasi yang dilakukan berbagai organisasi, termasuk Reuters membantah klaim tersebut. Hasil analisis bulan lalu menunjukkan bahwa tembakan tank Israel pada Oktober menewaskan jurnalis kantor berita tersebut, Issam Abdallah, dalam serangan yang tampaknya disengaja. Hasil investigasi mendapati bahwa Israel mengetahui lokasi tim jurnalis tersebut.

Kepala biro di Lebanon Maya Gebeily mengatakan Reuters menuntut pertanggungjawaban. Dia menyoroti kondisi berbahaya di tempat rekan-rekannya bekerja.

Melalui Skype ia mengatakan, “Ini adalah pola yang sangat buruk di mana kita melihat jurnalis tidak bisa melakukan tugas dan terhambat dalam melakukan pekerjaan mereka karena pemboman yang tidak pandang bulu.”

Dengan adanya pertempuran sengit, sementara akses ke Gaza terbatas, laporan dari jurnalis lokal sangatlah penting, kata Gebeily.

Masih melalui Skype, Gebeily menambahkan, “Kalau ada jurnalis di sana dan menyampaikan siaran-siaran langsung, pertanggungjawaban akan semakin memungkinkan.”

Sementara Dahdouh lagi-lagi harus memakamkan anaknya, Pengadilan Kriminal Internasional mengonfirmasi kepada Reporters Without Borders atau Wartawan Tanpa Batas, bahwa kejahatan terhadap jurnalis termasuk dalam penyelidikan yang mereka lakukan terhadap perang tersebut. (M1-VOA/ka/lt)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.