MALANG (METRUM) – Nama Gunung Kawi selama ini kerap dilekatkan dengan citra mistis, pesugihan, dan kisah-kisah angker. Stereotip tersebut kini coba dipatahkan oleh musisi asal Gunung Kawi, Matoha Mino, melalui karya terbarunya berjudul “Gunung Kawi”.
Musisi berusia 57 tahun yang lahir dan besar di Desa Wonosari, Gunung Kawi, Kabupaten Malang, itu mengaku gagasan lagu tersebut telah lama terpendam sejak 2005–2008. Kala itu, ia sering mendengar anggapan bahwa Gunung Kawi identik dengan praktik pesugihan dan makhluk gaib.
“Ide lagu ini sudah lama mengendap di kepala saya. Dulu sering sekali dengar orang bilang ‘Gunung Kawi itu tempat pesugihan, jangan ke sana nanti ketemu tuyul, genderuwo, dan setan’. Bahkan ada yang menganggap orang datang ke Gunung Kawi pasti cari duit ghaib. Sebagai orang yang lahir dan besar di sana, rasanya kesal sekali stereotip ini terus dipelihara lewat film horor dan sinetron,” ujar Matoha.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, ayah dari penyanyi Madukina dan musisi Hanafi Madu W. itu kemudian menuangkan lirik-lirik yang menampilkan sisi lain Gunung Kawi sebagai tempat ziarah para pahlawan, yakni Eyang Djoego dan Eyang Soejono (RM Iman Soedjono), yang merupakan laskar Pangeran Diponegoro pada masa perjuangan melawan Belanda.
“Gunung Kawi bukan tempat pesugihan. Ini adalah tempat ziarah, tempat berdoa, dan wisata ritual yang bahkan didatangi tamu dari mancanegara,” tegasnya.
Melalui lagu ini, Matoha mengajak masyarakat untuk kembali pada esensi doa yang benar, yakni memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa sembari tetap diiringi dengan usaha nyata. Menurutnya, wisata ziarah hanyalah satu sisi dari kekayaan nilai Gunung Kawi. Masih banyak makna dan esensi lain yang dapat digaungkan lebih luas melalui karya seni.
Dalam penggarapan musik, Matoha kembali menghadirkan unsur gamelan Jawa, sebagaimana yang pernah ia lakukan saat terlibat dalam soundtrack film “KKN: Desa Penari”. Namun kali ini, gamelan dipadukan dengan nuansa musik Islami melalui iringan terbangan atau musik sholawatan. Proses penulisan lirik memakan waktu sekitar dua pekan dan dikerjakan bersama almarhum Irwan Sumadi.
Setelah komposisi rampung, Matoha mengajak grup musik Islami Tajidor (Terbang Jidor) “Kyai Zakaria” untuk berlatih. Instrumen gamelan, drum, viola, keyboard, serta berbagai perkusi turut memperkaya aransemen lagu “Gunung Kawi”, yang dimainkan langsung oleh Matoha bersama putranya, Hanafi Madu W.
Keterlibatan keluarga juga menjadi bagian penting dalam proses kreatif ini. Sang istri, Dwi Siswa, berperan mengoordinasikan paduan suara anak-anak di sekitar kediaman mereka. Sementara itu, putrinya Madukina turut membantu mengarahkan karakter vokal, memilih busana dan gaya visual, hingga menentukan konsep sampul serta strategi perilisan digital.
Matoha mengungkapkan, penggunaan bahasa Indonesia dalam lagu ini dilakukan secara sengaja agar pesan dapat diterima lebih luas oleh masyarakat.
“Berbeda dengan lagu ‘Dhat’ yang menggunakan bahasa Jawa dan Sanskerta kuno, lagu ini saya tulis dengan bahasa Indonesia agar lebih universal. Tujuan saya meluruskan stigma, jadi bahasanya harus mudah dipahami, sederhana, dan tidak menimbulkan tafsir ganda. Saya juga ingin lagu ini bisa dinyanyikan bersama-sama,” jelasnya.
Single “Gunung Kawi” resmi dirilis secara digital sejak 31 Desember 2025 dan kini telah tersedia di berbagai platform layanan streaming musik. (M1)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.