METRUM
Jelajah Komunitas

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unla Belajar Jurnalisme Digital di Dapur Redaksi PRFM

KOTA BANDUNG (METRUM) – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Langlangbuana (Unla) mengunjungi Radio PRFM 107.5 News Channel (Grup Pikiran Rakyat) di Jalan Asia Afrika No. 77, Kota Bandung, Kamis (2/7/2026). Selama satu jam, pukul 11.00–12.00 WIB, mereka mempelajari secara langsung bagaimana newsroom PRFM mengelola radio, portal berita, dan media sosial dalam satu sistem kerja media konvergen.

Kunjungan industri tersebut didampingi dosen Ilmu Komunikasi FISIP Unla, Ahmad Nada Kusnendar, S.Sos., M.I.Kom. Rombongan diterima langsung oleh Pemimpin Redaksi PRFM, Iqbal Pratama Putra, bersama jajaran redaksi.

Pada sesi presentasi, Iqbal menguraikan transformasi PRFM dari radio konvensional menjadi media multiplatform yang mengintegrasikan siaran radio, portal berita, media sosial, hingga konten video digital.

“Masyarakat kini mengakses informasi dari berbagai platform. Karena itu, satu peristiwa kami kemas dalam berbagai format, mulai dari siaran radio, artikel berita, konten media sosial, hingga video pendek. Namun, di tengah tuntutan kecepatan, akurasi dan verifikasi tetap menjadi prinsip utama kami,” kata Iqbal.

Ia menjelaskan alur kerja redaksi dimulai dari agenda liputan harian, pemantauan isu melalui reporter lapangan, monitoring media sosial, hingga laporan warga atau citizen report. Seluruh informasi kemudian diverifikasi sebelum diputuskan layak tayang oleh editor.

Menurut Iqbal, partisipasi masyarakat menjadi salah satu kekuatan PRFM, terutama dalam menyampaikan informasi mengenai kondisi lalu lintas, pelayanan publik, cuaca, maupun berbagai peristiwa yang terjadi di Bandung Raya.

(Foto: Ikhsan).*

Meski demikian, setiap informasi dari masyarakat tetap melalui proses pengecekan berlapis.

“Netizen memang menjadi mata dan telinga kami di lapangan. Namun, setiap laporan harus melalui proses cek dan ricek, mulai dari identitas pengirim, lokasi, waktu kejadian, hingga konfirmasi kepada pihak terkait atau reporter. Jangan sampai kecepatan mengorbankan kebenaran,” ujarnya.

Sesi diskusi berlangsung interaktif. Rosalina, mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Unla, menanyakan mekanisme verifikasi berita yang dikirim masyarakat di tengah derasnya arus informasi media sosial.

BACA JUGA:  Pengukuhan Dua Guru Besar Universitas Langlangbuana

Menjawab pertanyaan tersebut, Iqbal menegaskan redaksi tidak pernah langsung memublikasikan foto atau video yang sumbernya belum jelas.

“Kalau hanya menerima foto atau video tanpa identitas yang dapat dipertanggungjawabkan, tentu tidak langsung kami tayangkan. Kami memastikan siapa pengirimnya, kapan peristiwa terjadi, apakah lokasinya sesuai, bahkan bila diperlukan meminta bukti tambahan atau konfirmasi kepada instansi terkait. Lebih baik sedikit terlambat daripada menyebarkan informasi yang keliru,” jelasnya.

Pertanyaan lain disampaikan Ilham Farid, mahasiswa Semester VI Kelas Media A2, mengenai topik pemberitaan yang paling diminati audiens PRFM.

Iqbal menyebut perkembangan Persib Bandung dan informasi lalu lintas menjadi dua isu yang hampir selalu mendominasi perhatian pembaca maupun pendengar.

“Persib memiliki basis pendukung yang sangat besar sehingga setiap perkembangan selalu mendapat respons tinggi. Di sisi lain, informasi lalu lintas menjadi kebutuhan harian masyarakat Bandung. Kedua isu itu menjadi kekuatan PRFM karena sangat dekat dengan kehidupan audiens,” katanya.

Selain kedua topik tersebut, PRFM juga secara konsisten mengangkat isu pelayanan publik, kebijakan pemerintah, pendidikan, ekonomi daerah, kebencanaan, cuaca ekstrem, hingga persoalan sosial yang berdampak langsung terhadap masyarakat.

Mahasiswa juga mendapat gambaran mengenai tuntutan profesi jurnalis di era digital. Seorang reporter kini dituntut tidak hanya mampu menulis berita, tetapi juga memotret, merekam video, melakukan siaran langsung, serta mengelola konten untuk berbagai platform digital.

Usai sesi pemaparan, peserta diajak berkeliling newsroom dan studio siaran untuk melihat proses produksi berita secara langsung. Mereka menyaksikan koordinasi antara reporter, editor, produser, dan penyiar dalam mengolah informasi yang masuk secara real time, termasuk penggunaan sistem otomasi penyiaran dan perangkat audio digital.

Mahasiswa bahkan berkesempatan mencoba mikrofon siaran serta mengamati bagaimana penyiar menyampaikan informasi secara cepat, lugas, dan komunikatif kepada pendengar.

BACA JUGA:  FISIP dan Lemlit Unla Gelar Pelatihan Pengelolaan Jurnal Ilmiah

Dosen pendamping Ahmad Nada Kusnendar menilai kunjungan industri menjadi bagian penting dalam pembelajaran karena memberikan pengalaman nyata mengenai praktik kerja media.

“Materi yang dipelajari mahasiswa di kelas, mulai dari konvergensi media, manajemen newsroom, gatekeeping, SEO, monetisasi media hingga jurnalisme digital, hari ini dapat mereka lihat dan rasakan secara langsung. Pengalaman lapangan seperti ini menjadi bekal penting agar mahasiswa siap menghadapi kebutuhan industri media yang terus berubah,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan tersebut juga memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai pentingnya etika jurnalistik, akurasi, dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi kepada publik.

Melalui kunjungan industri ini, mahasiswa tidak hanya mengenal proses kerja media konvergen dari dekat, tetapi juga memahami bahwa kredibilitas media dibangun melalui disiplin verifikasi, kolaborasi antartim redaksi, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perilaku konsumsi informasi masyarakat. (M1)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.