METRUM
Jelajah Komunitas

Manajemen Berat Badan dengan Akupunktur

Oleh dr. Sherlly Surijadi, MARS. SpAk*

HIDUP sehat saat ini menjadi trend di masyarakat urban, terutama kaum eksekutif. Namun untuk menjalani gaya hidup ini ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena kunci keberhasilan untuk hidup sehat berhubungan dengan pola hidup manusia, yang terdiri dari pola makan, pola aktivitas, pola istirahat dan tingkat stress. Sedangkan pola makan individu yang hidup di kota besar berhubungan dengan profil berat badan yang cenderung meningkat.

Sherlly Surijadi (Dok. RS Boormeus).*

Kelebihan berat badan (overweight) serta kegemukan (obesitas) sudah menjadi masalah kesehatan di kota besar. Seseorang dikatakan menderita kelebihan berat badan bila Indeks Mässa Tubuh melebihi 25 ka/m dan menderita obesitas bila melebihi 30 kg/m.

Penderita kelebihan berat badan dan obesitas memiliki resiko lebih besar terhadap sejumlah masalah medis termasuk penyakit gula atau kencing manis (diabetes), darah tinggi (hipertensi), gangguan metabolisme lemak (dislipidemial) seperti peningkatan kadar LDL (kolesterol jahat] dan trigliserida atau penurunan kadar HDL (kolesterol baik) yang dapat menyebabkan timbulnya plak di pembuluh derah (atherosklerosis), penyakit kardiovaskuler seperti penyakit jantung koroner, stroke, dan henti napas pada saat tidur (sleep apnea) yang lama-kelamaan dapat menyebabkan gagal jantung dan dapat berujung pada kematian. Obesitas juga memicu produksi hormon teptin dan estrogen. yaitu hormon yang mendorong perkembangan sel-sel abnormal yang mengarah pada tumor.

Penelitian di Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebutkan bahwa peningkatan berat badan akan meningkatkan resiko radang pada sendi lutut sebesar 10- 15% pada wanita dan 5-10% pada pria. Wanita usia lebih 60 tahun yang menderita kelebihan berat badan dan obesitas sangat rentan terhadap permasalahan lutut.

Terjadi pula gangguan pada keseimbangan hormonat, berupa siklus haid tidak teratur, endometriosis dan infertilitas (tidak subur). Dalam keadaan yang ekstrim, dapat menimbulkan hiperandrogenisme yaitu suatu keadaan dimana jumlah hormon androgen meningkat sehingga terjadi hirsutisme (tanda-tanda maskutip) seperti berjerawat. Pertumbuhan bulu di wajah dan badan, dan beberapa mengalami perubahan suara menjadi lebih berat.

Selain itu, penderita obesitas akan mengalami masalah keseimbangan karena mereka menjadi lebih lambat dan canggung sehingga mengalami harmbatan dalam kebebasan bergerak yang berpengaruh pada produktifitas dan kinerja. Menurut penelitian dari Universitas Wake Forest, penderita yang memiliki ukuran lingkar pinggang dan pinggul di atas 75 cm akan mengalami penurunan kekuatan otot.

Akibatnya mereka tidak lagi memiliki energi yang cukup untuk melakukan berbagai aktivitas. Konsekuensi psikis akibat menderita kelebihan berat badan dan obesitas juga berat dan termasuk didalamnya persepsi yang buruk terhadap citra diri, mengganggu kualitas hidup dan pada penderita obesitas berat dapat depresi. Kebanyakan mengalami minder dan kurang percaya diri sehingga kurang berhasil dalam pergaulan dan sulit mendapatkan pekerjaan. Mereka juga tidak bisa mengikuti perkembangan mode (fashion) karena sulit menemukan ukuran pakaian yang sesuai dan indah dilihat bila digunakan pada tubuhnya.

Obesitas merupakan suatu masalah serius dengan angka kejadian cukup tinggi dan terkadang usaha terapinya mengalami suatu keadaan refrakter dimana terapi pada suatu titik tertentu tidak memberikan hasil seperti sebelumnya, sehingga banyak penelitian dilakukan sebagai pendekatan pelengkap dan alternatif.

Terdapat dua cara yang dianjurkan. Pertama, paradigma diet dimana pasien mengurangi atau tidak makan sama sekali, namun pendekatan diet ini dianggap tidak efektif dan cenderung berbahaya. Kedua, diet dengan meningkatkan pemasukan bahan makanan tertentu namun mengurangi lainnya, misalnya mengurang asupan karbohidrat atau mengkombinasikan metode diet tersebut dengan akupunktur.

Akupunktur telah dipraktikkan di Cina sejak beberapa ribu tahun lalu dan penggunaannya meningkat di seluruh dunia untuk terapi banyak penyakit, salah satunya untuk obesitas. Cara kerjanya melalui sistem saraf pusat dengan mempengaruhi tingkat neurotransmitter karena stimulasi yang ditimbulkan oleh saraf tepi pada titik akupunktur. Stimulasi saraf ini kemudian membawa sinyal ke sistem saraf pusat, yaitu ke sumsum tulang belakang (medula spinalis). Kelenjar pituitari dan otak bagian tengah. Sistem saral sentral yang telah teraktivasi ini kemudian melepaskan neurokemikal seperti endorfin, monoamin dan kortisol. Dengan demikian terjadi efek penurunan nafsu makan dan keinginan untuk makan yang berpengaruh pada penurunan berat badan.

Dengan peningkatan pelepasan neurotransmiter tersebut, juga memperbaiki mood, pada akhirnya mempengaruhi pengaturan asupan makanan.

Dapat disimpulkan akupunktur dapat menekan nafsu makan, menurunkan stress dan depresi karena peningkatan endorfin dan serotonin tubuh. Di samping itu, akupunktur dapat menjadi alternatif yang baik karena pasien tidak perlu mengonsumsi obat-obatan yang memiliki elek samping, sehingga akupunktur relatif aman.***

*Penulis dokter spesialis akupunktur di RS Boromeus dan Santosa Hospital Bandung Central di Kota Bandung.

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: