METRUM
Jelajah Komunitas

Monetisasi atau Romantika Klik

(Review Bab I Buku: Selling Social Media of Social Networking The Political Economy of Social Networking, Daniel Faltesek, 2018, Bloomsbury Publishing, NY)

Oleh Amalia Setiawati., S.Sos., M.I.Kom*

DANIEL Faltesek merupakan asisten profesor di Oregon State University IOWA, Studi Media. Pada sub bab bukunya mengenai monetisasi ini, beliau menjelaskan mengenai monetisasi dalam website. Berdasarkan artikel ini, pereview melihat bahwa monetisasi ini telah menjadi pengganti tempat dari proses bisnis, termasuk penjualan periklanan, strategi lead generation[1], pengelolaan inventori dan pelayanan konsumen, di antara banyak yang lainnya.

Amalia Setiawati., S.Sos., M.I.Kom

Artikel ini mengatakan bahwa, monetisasi berasal dari kata money, yang mana, tidak jelas tepatnya apa itu monetisasi, namun hal tersebut menghasilkan kekayaan. Review literatur mengenai uang dan monetisasi dalam bab ini mengungkapkan sebuah kekosongan yang penting.

Monetisasi seringkali didefinisikan sebagai salah satu ekspansi yang cepat dari pemproduksian uang resmi atau ekspansi uang untuk terus berkembang dalam kehidupan sosial: hal ini bukanlah sebuah kejelasan dalam memahami penggunaan istilah mengenai dunia sosial media. Dari keterbatasan tersebut, bab ini akan mengungkapkan pengertian monetisasi dalam politik ekonomi media sosial, di mana, monetisasi tersebut berupa arbritase, ekstraksi dan alkimia. Sebuah metafora yang membuat bisnis ini sebenarnya jauh, namun sekarang bisa dipahami.

Monetisasi ini jika dipahami secara sederhana adalah konten media dalam jejaring internet yang memiliki banyak iklan. Di luar gagasan tentang apa itu bisnis, impian monetisasi membawa logika diri individu yang romantis sebagai tema sentral. Bukan hanya karena mereka mengklaim mendapatkan nilai dari orang-orang, perhatian mereka, atau klik mereka, tetapi mereka juga harus berteori tentang siapa orang-orang itu, dan bagaimana rasanya menjadi orang yang diperhatikan.

Monetisasi adalah konsep penentu nilai seseorang atau sesuatu di era ini. Skema monetisasi ditempatkan dalam bahasa dominan perusahaan media sosial untuk menjual iklannya, khususnya dalam untuk mendapatkan gagasan grafik sosial (Facebook) dan grafik minat (Twitter) dan apa model monetisasi yang berbeda ini, analisis segmentasi pasar, iklan. Pinterest[2] akan dianggap sebagai pendatang dari luar, karena berjaringan luas harus dianggap sebagai properti utama sesuai dengan wacana industri media sosial, tetapi layanan Pinterest memasuki fase beta tertutup yang penggunaannya baru terbatas untuk kalangan tertentu saja.

Di bulan kesembilan (2010) setelah peluncuran, Pinterest mempunyai pengguna sebanyak 10.000 orang. Berdasarkan hal tersebut, pereview menemukan sebuah fenomena yang diharapkan dapat mewakili penjelasan mengenai monetisasi media sosial ini, dengan meruju pada jumlah followers atau pengikut. Kerinduan kolektif dunia akan koneksi tidak hanya membentuk ulang daftar perusahaan Fortune 500 dan menjungkirbalikkan industri periklanan, tapi juga menciptakan ukuran status sosial baru: jumlah orang yang mengikuti, menyukai, atau menjadi “teman” pengguna media sosial.

Untuk sebagian pekerja di dunia hiburan dan pebisnis, status virtual ini adalah mata uang di dunia nyata. Jumlah follower di jejaring sosial membantu menentukan siapa yang akan mempekerjakan mereka, berapa bayaran mereka untuk pemesanan dan endorsement, bahkan bagaimana konsumen potensial menilai bisnis dan produk mereka. Jumlah follower yang tinggi juga penting untuk mereka yang disebut sebagai influencer atau pesohor media sosial. Semakin banyak orang yang dijangkau oleh influencer, semakin banyak uang yang mereka dapatkan[3].

Fenomena ini mengingatkan pereview akan judul dari artikel ini, di mana, penulis buku menuliskan “the Romance of Click”, penggunaan kata tersebut seakan-akan menggambarkan bahwa romantika “klik” yang dilakukan oleh para pengikut sebuah ruang di akun media sosial merupakan penyumbang terbesar atas pendapatan nilai uang bagi monetisasi media sosial. Oleh sebab itu, penulis buku menggunakan kata “romance” yang diinterpretasikan oleh pereview sebagai kata sanjungan bagi para pengikut akun media sosial yang mempersembahkan perasaannya melalui ikon ‘like” yang disediakan dalam sebuah tautan media sosial.

Pereview dalam hal ini mencoba untuk memahami konsep monetisasi melalui referensi lain, yaitu yang disebut dengan monetisasi adalah sebuah proses untuk membangun situs yang baik dan sangat berkualitas dari segi informasinya, di mana tujuan akhirnya adalah demi mendapatkan penghasilan dari situs. Intinya adalah bagaimana cara pemilik situs untuk membuat website agar memiliki nilai jual tinggi dan menjadi wadah uang.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas situs, baik dari membuat review suatu barang maupun jasa yang disebut dengan paid review, pemasangan iklan atau sponsor dalam situs, mengajak seseorang untuk bergabung dengan situs dan sebagainya. Sama seperti membangun bisnis lainnya, diperlukan modal berupa kemauan, rasa inovatif, tingkat kreativitas yang tinggi, ketekunan, sifat pantang menyerah dan kerja keras tanpa batas untuk dapat menjaring minat pengunjung situs agar mau melihat produk maupun jasa yang ditawarkan.[4]

Berdasarkan definisi tersebut, pereview berpendapat bahwa monetisasi merupakan salah satu proses untuk mengubah kemampuan sebuah akun media sosial yang awalnya dijadikan sebagai wadah informasi, berubah menjadi sebuah ruang yang memiliki nilai uang atau dijadikan sebagai salah satu sumber penghasilan bagi pemilik situs itu sendiri. Sejarah monetisasi ini dikaitkan kepada konteks kesejarahan uang, penulis menyertakan beberapa ahli yang mendefinisikan uang. Pereview berusaha untuk memahami karya penulis mengenai apa yang menjadi kaitan antara kesejarahan uang dengan konsep monetisasi yang sedang dibahas dalam sub bab ini.

Kisah monetisasi ini membutuhkan sebuah diskusi mengenai uang itu sendiri, di mana, uang berkaitan dengan kajian budaya. Seperti halnya, Noam Yuran dalam tulisannya berjudul “What Money Wants”, menceritakan mengenai ekonomi dan hasrat. Uang merupakan objek hasrat yang pertama dan utama. Anthony Giddens dan Clifford Geertz keduanya menggunakan monetisasi untuk merujuk pada proses rasionalisasi. Marx menganggap monetisasi sebagai salah satu fase kapitalisme yang maju; uang adalah keterasingan. Uang dalam pengertian ini mendistorsi hubungan antara pekerja dan memberikan kekuatan untuk menghasilkan dunia yang seharusnya berasal dari distribusi materi.

Berdasarkan hal tersebut, pereview berpendapat bahwa, kaitan antara konsep uang dan monetisasi ini adalah sebuah hasrat. Monetisasi merupakan media atau alat untuk tercapainya hasrat manusia mengenai uang, karena uang membawa perubahan sosial. Monetisasi adalah prospek untuk membuat uang lebih banyak, lebih nyata, dan lebih kuat.

Kemudian, pada bahasan sebelumnya dalam review ini, penulis buku membagi kajian sub bab ini ke dalam tiga unsur yaitu: monetisasi sebagai arbitrase, ekstraksi dan alkimia. Pereview memulainya dengan konsep yang ditawarkan oleh penulis buku ini mengenai monetisasi sebagai arbitrase. Pereview menggunakan istilah arbitrase ini berdasarkan sudut pandang ekonomi. Arbitrase” (bahasa Inggris:arbitrage), yang dalam dunia ekonomi dan keuangan adalah praktik untuk memperoleh keuntungan dari perbedaan harga yang terjadi di antara dua pasar keuangan. Arbitrase ini merupakan suatu kombinasi penyesuaian transaksi atas dua pasar keuangan di mana keuntungan yang diperoleh adalah berasal dari selisih antara harga pasar yang satu dengan yang lainnya.[5]

Hal ini berkaitan dengan kebebasan para pemilik konten dan pengiklan untuk memilih media sosial sebagai pasar mereka. Arbitrage adalah permainan harga murni. Ini adalah bisnis klasik. Monetisasi sebagai arbitrase ini berkaitan dengan strategi lead generation.

Google Adsense

Berdasarkan hal tersebut, pereview berpendapat bahwa dalam proses monetisasi, pengiklan dapat memilih beberapa kanal media sosial untuk menawarkan produk mereka melalui program monetisasi ini. Proses monetisasi ini juga dapat disesuaikan dengan produk yang sedang kita jual, contohnya: periklanan mengenai kuliner, maka Google Adsense memilih kanal atau blog apa yang sesuai dengan tema periklanannya. Jumlah klik + jumlah pengunjung + jumlah iklan = keuntungan arbitrase.

Pereview berpendapat, sebelum masuk kepada kajian monetisasi yang lebih mendalam, pereview menjelaskan mengenai Google Adsense. Google Adsense merupakan sebuah program yang dikeluarkan oleh Google untuk jasa pengelolaan periklanan, di mana, semua pemilik akun atau pengguna internet dapat mempergunakan Google Adsense ini untuk mendapatkan uang dari periklanan yang disediakan oleh Google Adsense. Iklan yang ditampilkan oleh Google Adsense ini bisa berupa video, teks, gambar atau teks beserta gambar. Google Adsense mengeluarkan program ini, disebut sebagai monetisasi.

Bayaran yang ditawarkan oleh Google Adsense ini bermacam-macam istilah, yaitu: (1) CPA (Cost Per Action) Istilah yang digunakan dalam model pemasaran afiliasi (affiliate marketing), di mana merchant akan membayar kepada afiliasi jika referal melakukan sesuatu di situs merchant. Tidak harus berupa penjualan, tapi sebatas melakukan aksi, seperti misalnya berlangganan newsletter, mengisi survey dan sebagainya; (2) CPS (Cost Per Sale), dalam CPS, merchant akan memberi komisi kepada afiliasi ketika referal yang berasal darinya melakukan pembelian produk; (3) CPL (Cost Per Lead), merchant akan membayar jika mendapatkan calon prospek baru dari afiliasi.

(4) CR (Convertion Rate), istilah yang menunjukan persentasi dari jumlah pengunjung suatu situs yang melakukan action tertentu yang diharapkan, entah membeli produk, berlangganan via email dan lain sebagainya. Biasanya data ini digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan sebuah campaign (kampanye iklan); (5) CPC (Cost Per Click), jika diterjemahkan menjadi biaya per klik. Istilah ini merujuk kepada sistem periklanan dimana pemilik situs (biasa disebut sebagai penayang/publisher) akan menerima pembayaran dihitung berdasarkan jumlah klik yang dilakukan oleh pengunjung situs. Di lain pihak bagi pemasang iklan, akan membayar kepada penayang untuk setiap klik yang terjadi pada iklan mereka, maka dari itu model ini sering juga disebut PPC (Pay per Click) atau baiya per klik. Jadi CPC dan PPC keduanya identik, yang membedakan adalah dari dua sisi berbeda, CPC dari sisi publisher dan PPC dari sisi advertiser. Google Adsense menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia dengan singkatan BPK (Bayar per Klik).

(6) CPM (Cost Per Mile), Mille dalam Bahasa Latin, artinya adalah seribu. Jadi, secara umum CPM diartikan biaya per seribu. Ini merujuk kepada sistem periklanan dimana penayang (publisher) akan menerima pembayaran berdasarkan perhitungan per seribu kali laman tayang (impresi). Google Adsense menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia dengan singkatan BPS (Biaya per Seribu); (7) PPV (Pay Per View), Biaya per tampilan. Ini merujuk kepada model periklanan dimana pemasang iklan memasang iklan mereka pada jendela pop-up, pop-under, atau pun iklan sela (seperti misalnya situs akan menampilkan halaman sela penuh satu halaman, ketika anda berada pada satu halaman kemudian ingin keluar dari halaman tersebut, atau ketika misalnya Anda klik play suatu video, maka tidak langsung diputar tapi Anda terlebih dahulu disuguhi satu halaman penuh iklan). Model ini juga seringkali disebut CPV (Cost per View) jika dilihat dari sisi publisher.

(8) CTR (Click Through Ratio), adalah persentase jumlah pengunjung yang kemudian melakukan klik terhadap sebuah link atau pun iklan. Anda dapat menghitung nilai CTR dengan cara membagi jumlah klik terhadap iklan dengan jumlah tayangan halaman tersebut; (9) UV (Unique Visitor), alias Pengunjung Unik. Maksudnya adalah total orang yang berkunjung pada suatu situs pada rentang waktu tertentu, misalnya harian, mingguan, bulanan dan seterusnya. Kata ‘unik’ dipakai karena memang satu orang pengunjung bisa membuka halaman situs lebih dari satu kali; dan (10) PV (Page View), alias tampilan halaman. Adalah jumlah keseluruhan sebuah halaman situs ditampilkan dalam rentang waktu tertentu. Nilai PV akan selalu lebih besar dibandingkan nilai UV, karena tadi, setiap orang bisa saja membuka lebih dari satu halaman ketika mengunjungi suatu situs.

Berdasarkan hal tersebut, pereview dapat memahami konsep yang dimaksud dalam sub bab buku ini, di mana, penulis buku mengatakan bahwa monetisasi merupakan arbritase adalah dengan menggunakan istilah arbritase dalam kajian hukum, monetisasi ini sebagai jembatan penghubung yang netral antara pengiklan dan penerima jasa periklanan (dalam hal ini contohnya adalah blogger atau youtuber).

Google Adsense memiliki syarat yang ketat bagi kelayakan blog atau kanal pengguna internet ketika mereka mengajukan program monetisasi ini, Google Adsense juga akan mengadaptasikan periklanan yang telah ditentukannya sesuai dengan tema blog atau kanal yang dimonetisasi. Pereview berpendapat bahwa monetisasi ini menguntungkan dua belah pihak, yaitu antara pengiklan dan pembuat kanal atau blog. Pertama, pengiklan dapat dengan mudah menyebarkan promosinya melalui followers yang dihasilkan dari sebuah kanal atau blog yang telah diverifikasi oleh Google Adsense; kedua, para blogger atau youtubers atau pihak yang sudah dimonetisasi tersebut mendapatkan uang dari jumlah pencapaian respon pengguna lainnya yang telah disepakati oleh Google Adsense.

Google AdWords adalah iklan yang muncul dalam halaman hasil pencarian Google. Tidak hanya itu, iklan Google juga bisa muncul di jutaan website yang tergabung dalam jaringan Google, antaranya di gmail, youtube, dalam website milik perorangan yang didaftarkan dalam program Google Adsense. Google AdWords adalah alternatif pilihan bagi para pelaku usaha kecil menengah untuk mempromosikan produk atau jasa kepada pelanggan potensial secara luas. Google telah mengembangkan berbagai cara untuk ‘membantu’ mempromosikan usaha kecil menengah. Google AdWords adalah produk Google dalam periklanan Online yang dapat dimanfaatkan pelaku UKM meningkatkan keterlihatan mereka dalam internet.

Google AdWords bisa dibilang ‘ramah’ dalam urusan anggaran biaya. Karena Google sendiri tidak menentukan patokan minimal yang harus dikeluarkan dalam pengaturan iklan. Pengiklan dengan bebas dapat membatasi pengeluaran maksimal harian untuk menghindari pembengkakan budget. Selain efektivitas biaya, manfaat lain Google AdWords yang dapat di peroleh pelaku UKM adalah masalah bagaimana iklan dapat menjaring calon pelanggan. Berbeda dengan memasang iklan di Billboard, misalnya, iklan Google AdWords tayang pada orang yang tepat ketika orang tersebut sedang mencari produk atau jasa yang ditawarkan pengiklan. Mereka siap untuk membeli, mencari perbandingan, atau bahkan pada hari itu juga ingin membeli.

Pereview melihat fenomena ini merupakan salah satu bentuk implikasi perkembangan teknologi internet dalam memproduktifkan masyarakat untuk berinovasi dan berkreasi melalui akun yang dimilikinya. Pengantara AdMob adalah iklan layar penuh yang muncul di aplikasi pada titik jeda atau transisi yang alami. Contoh umum penggunaannya adalah setelah satu level diselesaikan dalam game. Pengiklan menggunakan pengantara untuk menciptakan pengalaman merek yang menarik, atau tindakan langsung, seperti mendorong unduhan aplikasi. Iklan video AdMob menghadirkan pengalaman merek yang kaya ke aplikasi pengguna, dan fitur format yang fleksibel memungkinkan pengguna untuk melewati video setelah lima detik.

Pereview menampilkan salah satu referensi pendapatan uang yang dihasilkan jika akun pengguna sudah dimonetisasi, sebagai berikut: Pendapatan per 1.000 tayangan (RPM) menunjukkan penghasilan tertaksir yang akan didapatkan untuk setiap 1.000 tayangan yang diterima. RPM tidak menunjukkan penghasilan yang sebenarnya; namun, jumlah itu dihitung dengan membagi penghasilan tertaksir dengan jumlah tampilan laman, atau kueri yang diterima, kemudian dikalikan 1.000. Rumus: RPM = (Penghasilan tertaksir/Jumlah tampilan laman) * 1.000. Misalnya: Jika penghasilan tertaksir adalah sebesar $0,15 dari 25 tampilan laman, RPM laman Anda sama dengan ($0,15/25) * 1.000 atau $6,00. Jika penghasilan tertaksir adalah sebesar $180 dari 45.000 tayangan iklan, RPM iklan sama dengan ($180/45.000) * 1.000 atau $4,00.

YouTuber

RPM merupakan nilai yang umum digunakan dalam program periklanan, dan ini mungkin berguna bagi pengguna jasa Google Adsense untuk membandingkan pendapatan di berbagai saluran yang berbeda.[6] Salah satu contoh yang berkaitan dengan monetisasi ini, adalah sebagai berikut:

Memiliki lebih dari 746 ribu pelanggan setia di kanal YouTube, Kevin Hendrawan menjadi salah satu selebritas media sosial paling berpengaruh saat ini. Konten videonya yang kerap membagikan momen jalan-jalan ke pelbagai tempat di seluruh dunia praktis menampilkan citra gaya hidup wah. Dari estimasi socialblade.com, pendapatan Kevin dari monetisasi YouTube saja mencapai 209 ribu dolar AS atau setara Rp3 miliar per tahun. Namun, Kevin menampik hal itu. Penghasilannya sebagai YouTuber diakui “tak banyak” untuk sekadar menutup ongkos produksi pembuatan video. Gaya hidupnya, menurutnya, jauh dari mewah.

Berapa sebenarnya penghasilan YouTuber sekelas dirinya? Dan bagaimana mereka mengelola pajak dari penghasilan iklan maupun aktivitas endorsement? Selasa pekan lalu, 13 Februari, Kevin datang ke kantor Tirto untuk untuk menjelaskannya kepada kami. Awal menjadi YouTuber, apakah sudah mempertimbangkan bidang ini sebagai pekerjaan utama? Perjalanan saya di dunia entertaintment mulai tahun 2014. Saya menang ajang kompetisi yang disiarkan di TV. Itu membuka jalan. Saya lalu sempat jadi presenter di stasiun televisi lalu di National Geographic di luar. Saya kemudian balik ke Indonesia, jadi presenter “Jalan-Jalan” di Net TV. Waktu itu saya ke Kutub Utara. Kemudian saya melihat masyarakat apalagi Generasi Milenial mulai beralih, sudah tidak mencari hiburan di TV tapi di YouTube.

Nah, saya mulai coba vlogging. Traffic-nya awal-awal masih kecil. Jadi kalau ditanya apakah waktu memulai sudah memikirkan YouTube sebagai bisnis, jawabannya enggak. Karena itu berjalan seiring waktu. Seiring naiknya traffic di YouTube, saya mulai meninggalkan TV dan fokus menjadi YouTuber dan media sosial. Pertama kali itu saya mencoba vlog—video blog. Puji Tuhan, saya mulai pas. Waktu tren datang, saya sudah mulai duluan. Dan mulainya saat itu cukup susah. Traffic belum ada dan saya sempat berpikir untuk berhenti.

Kenapa? Karena untuk menjalankan sulit karena saya harus mengerjakan semuanya sendiri. Ambil gambar sendiri, ngedit video sendiri, bikin ide sendiri; pendeknya, seperti satu tim produksi TV, kita hajar sendiri. Saya sempat bikin tiga bulan, upload banyak tapi enggak ada viewer-nya sama sekali. Pada saat itu saya berpikir untuk berhenti. Karena kalau pendapatan dari YouTube sendiri sebagai mata pencaharian, tidak besar. Biaya produksinya saja berapa? Tapi walaupun tekor, saya bikin terus. Berapa? Saya tidak bisa bilang angka tepatnya. Kan, kalau dari viewer-nya kita dapat duit. Tapi pendapatan yang diterima enggak bisa menutup pengeluaran untuk biaya produksi. Karena pendapatan YouTuber dari Indonesia itu saya bisa bilang sepersepuluh atau bahkan seperlimapuluh dari YouTuber Amerika. Range-nya beda.

Kemudian traffic saya naik terus. Sampai suatu hari saya bikin video tentang Pokemon Go. Traffic-nya bertambah sampai saya dapat viewer tembus dua juta lebih. Mulai dari situ, jadi banyak viewer di vlog saya. Jadilah channel Kevin Hendrawan seperti sekarang. Karena saya enggak bisa bohong saya harus punya laptop harus bisa ngedit. Kemudian saya memulai YouTube pada 2016, tentu berbeda pada tahun 2008. Itu pakai kamera CCTV saja orang sudah senang. Tapi saya memulai ketika sudah banyak pula yang besar. Mereka sudah punya modal untuk pakai kamera bagus, perlengkapan bagus, dan saya enggak bisa bohong saya harus keep up. Memang bukan segalanya tapi saya butuh kalau memang mau bersaing. Awalnya beli kamera, kemudian beli lighting, hingga sekarang kami punya satu studio. Apalagi orang nonton lewat handphone, jadi kualitasnya harus bagus. Tapi di masa itu saya enggak ada profit sama sekali. Kenapa bertahan? Karena saya anggap itu investasi.

Instagram itu aku pakai sebagai supporting saja. Misalnya ada video baru nih, aku promo di Instagram. Tapi traffic semuanya aku arahkan ke YouTube. Menjadi selebgram atau influencer tidak terlepas dari aktivitas endorse, bagaimana mekanismenya? Ya, kalau endorse sebenarnya simpel. Ada barang, kemudian ada sejumlah uang, ya di-endorse-lah. Simpelnya, bayar orang untuk promosi tapi di media sosial. Tarifnya? Ini yang sebenarnya agak abu-abu. Kenapa? Karena sesama influencer tidak saling kenal dan tidak ada yang bisa memberi standar kalau follower-nya atau subscriber segini, maka rate-nya sekian. Jadi kalau ditanya rate-nya berapa, jawabannya beda-beda. Tergantung kelasnya juga.

Ada orang yang fotonya bagus-bagus di Instagram, pasti harga endorse-nya lebih tinggi. Tapi kalau lebih tinggi pasti jumlahnya juga lebih sedikit. Hanya brand tertentu saja yang besar yang berani pasang endorse. Ada juga selebgram yang ambil semuanya. Mau ada lulur, pembesar ini-itulah, yang penting duit. Ya seperti itu yang kadang bikin aku miris. Karena kami enggak pernah tahu, kan, ada peng-endorse asal kasih barang tapi kami enggak pernah tahu itu barang tipuan atau palsu. Tarif endorse Anda siapa yang menentukan? Saya sendiri. Tapi saya tidak punya rate card.

Bagaimana menentukannya? Dilihat dari engagement postingannya. Karena gini: ada orang yang jumlah like-nya banyak, komentarnya enggak ada. Ada orang yang komentarnya banyak, tapi like-nya sedikit. Ada juga yang followers-nya banyak tapi likes-nya sedikit. Nah, yang kayak gitu, kan, dipertanyakan. Kami lihat perbandingan dari follower, like, dan komentar. Karena saya mengelola media sosial ini secara profesional, saya mencoba menciptakan standar saya sendiri.

Dan juga dilihat dari sosial ekonomi statusnya, yang follow ini siapa. Itu memengaruhi. Berapa persen cowok, berapa persen cewek. Jadi saya bisa memilah misalnya jika ingin di-endorse produk yang mungkin kebanyakan dipakai perempuan, mungkin bisa dilakukan karena follower saya kebanyakan perempuan. Misalnya begitu. Pendapatan mana yang lebih besar? Youtube atau Instagram? Kami dapat uang dari advertiser. Orang nonton YouTube pastinya YouTuber dapat nilai lebih. Tapi tidak setiap bulan banyak iklan. Dan banyak iklan bukan YouTuber yang menentukan, melainkan platform. Itu otomatis. Pilihannya cuma kami mau diaktifkan iklannya atau tidak.

Di bulan seperti Februari, Maret, atau di bulan-bulan kosong, perusahaan tidak terlalu mengeluarkan banyak iklan. Tapi kalau mau Lebaran, misalnya, baru banyak. Mungkin hampir 40 persen video ada iklannya. Kalau misalkan akhir tahun juga banyak iklannya. Tidak ada pendapatan tetap. Fluktuasinya sangat tinggi. Kalau bicara soal iklan dari viewer, tidak ada sama sekali. Misalnya, perusahaan A mau iklan di YouTube, mereka datang dengan budget tertentu dan meminta diiklankan di channel YouTube yang rata-rata viewer-nya adalah Milenial, dan YouTube menyebarkan iklan itu di YouTuber yang sesuai kriteria tadi. Banyak pelanggan belum tentu penghasilannya jadi lebih tinggi. Tergantung kontennya sesuai tidak dengan pengiklan. Jadi relatif. Kami jatuhnya, kan, creativepreneurship, seperti jualan di toko. Kalau lagi ramai ya ramai. Jadi kalau ditanya besaran mana, saya pun tidak tahu. Karena datangnya pekerjaan itu kami tidak bisa kontrol. Rata-rata pun tidak bisa bilang karena fluktuasinya luar biasa sekali.

Paling tinggi? Saya tidak bisa bilang. Tapi lebih dari cukup untuk biaya hidup. Lebih besar dari pekerjaan kantoran saya dulu. Kalau saya boleh defense, besarnya pendapatan tidak sebanding dengan risiko dari pekerjaannya. Apa risikonya? Kami tidak pernah tahu platformnya bertahan sampai kapan. Kalau Menkominfo bilang YouTube ditutup, dalam hitungan detik, pekerjaan kami hilang. Artinya, kami tidak punya job security. Kami tidak punya jenjang karier di pekerjaan. Ini murni entrepreneurship.

Berdasarkan socialblade.com, pendapatan Anda bisa mencapai 209 ribu dolar AS per tahun. Benar? Totally salah. Tidak ada sampai segitu sama sekali. Perbandingannya begini, Social Blade itu mengambil range. Di YouTube itu ada CPM atau cost per mille. Artinya, berapa uang yang kita dapatkan per seribu views yang ada iklannya. Social Blade tidak pernah tahu iklan di kanal saya ada berapa. Mereka hanya mengira-ngira. Kalau saya tinggal di Amerika dan semua video saya ada iklannya dan pelanggan saya besar, mungkin pendapatan saya bisa mencapai angka segitu. Bedanya begini: perusahaan di Amerika mau mengiklan untuk orang Amerika harganya beda dengan perusahaan Indonesia yang mau mengiklan untuk orang Indonesia. Kalau bisa lihat ada tabel CPM bahwa Indonesia itu dibandingkan Amerika Serikat atau Australia hanya seperseratusnya. Bahkan untuk yang batas bawah pun, tidak sampai segitu.

Kelihatannya YouTuber itu kaya sekali tapi sebenarnya jika hanya dari view saja, itu untuk menutupi biaya produksi tidak bisa. Saya misalnya vlogger travelling. Untuk produksi saya harus beli tiket, penginapan, segala macam. Tidak semua bisa endorse. Perusahaan juga punya rencana campaign. Kalau kami mau bikin video yang disponsori, tentu ada biaya ekstra untuk produksinya lagi. Ini, kan, Anda hitungannya freelancer.

Pajak Penghasilan

Bagaimana mekanisme pembayaran pajaknya? Kalau bayar pajaknya, kami ikut pajak pekerja kreatif selayaknya artis yang lain. Di situ ada pekerjaannya selebriti. Dan saya menggunakan konsultan dan pajak kami lumayan, kok. Tapi, sekali lagi, dari penghasilan YouTube sendiri itu sudah dipotong pajak. Karena biasanya begini, di YouTube itu ada perantaranya. Namanya MCN atau Multi Channel Network. Kalau YouTuber bergabung dengan ini, dan saya bergabung dengan ini, itu nantinya penghasilan yang kami dapatkan sudah langsung dipotong pajak. Jadi saat kami terima pendapatan dari YouTube itu sudah ada rinciannya berikut pajaknya. Per hari pun kelihatan penghasilannya. Jadi kami bukannya mendapatkan uang kaget. Tapi seandainya tidak tergabung dengan MCN, YouTuber bisa melaporkan sendiri pajaknya. Tapi saya boleh bilang, penghasilan itu tidak menutup. Tekorlah istilahnya.

Apa barang endorse paling mahal yang pernah diterima? Tiket jalan-jalan. Tidak semua konten ada endorsement. Itu artinya kami keluar biaya sendiri untuk produksi. Jadi subsidi silanglah. Menjadi selebgram ini bukan seperti orang yang mendapat uang kaget atau orang kaya mendadak. Ini sama dengan pekerjaan lain, hanya saja bidangnya kreatif. Kelihatannya menyenangkan. Tapi kami juga harus berpikir kontennya apa. Harus ide baru terus. Semakin bagus idenya, semakin besar pula biaya produksinya. Sementara jumlah view dan tarif iklan sama saja.

Ketika kami mendapat endorse dari perusahaan, nilai yang kami dapat sudah dipotong dengan pajak. Jadi saya tinggal setor bukti pemotongan pajak itu ke konsultan saya, nanti dihitung apakah kurang bayar atau lebih bayar. Kami semua sebenarnya sudah sangat aware. Kalau di lingkaran saya, semua bayar pajak. Kami saling berbagi dan cari tahu sendiri bagaimana mekanisme membayar pajak di industri ini. Dan kebetulan ada kawan kami, YouTuber juga dan dia orang pajak. Jadi kami sering berbagi.

Jadi, kalau dibilang influencer tidak bayar pajak, tergantung. Mungkin influencer abal-abal. Kami yang sudah menjadikan ini sebagai pekerjaan utama, kami bayar pajak. Pajak saya diberlakukan sama dengan artis, dan saya bisa bilang itu besar pajaknya dibandingkan dengan UKM. Kalau saya bisa memberi saran, pajak kami seharusnya di bawah artis. Karena artis, kan, tidak butuh biaya produksi. Kalau kami, hitungannya entrepreneurship. Saya bukan orang yang suka protes, jadi apa pun mekanismenya saya siap taat. Tapi saya harus bilang, YouTuber dan artis itu berbeda.[7]

Selanjutnya, penulis buku ini, mengatakan bahwa monetisasi sebagai ekstraksi, yang dikaitkan kepada terminologi marketing sosial media. Pereview mengambil salah satu terminologi community management yang merupakan suatu proses membangun hubungan dengan sekelompok users berdasarkan minat yang sama. Community management dilakukan melalui proses social media monitoring dan dilanjutkan dengan melakukan engagement pada mereka yang memiliki ketertarikan yang sama atau relevan dengan bisnis. Social media strategist biasanya akan berkolaborasi dengan community manager untuk mengelola ini, salah satunya melalui aplikasi Foursquare (jejaring sosial berbasis lokasi).

Monetisasi yang menggunakan formula ekstraksi lokasi ini sangat menguntungkan pengiklan karena pengguna aplikasi ini dapat dengan mudah mengiklankan tempat yang dikunjungi melalui akunnya. Aplikasi Foursquare (4sq) menyediakan permainan bagi para penggunanya, dan menyediakan lencana (badge) yang dapat diperoleh dengan mengunjungi tempat-tempat tertentu, yang bisa langsung berkoneksi dengan akun Facebook atau Twitternya.

Komunitas 4sq di Indonesia sangat banyak dan saling berinteraksi untuk mendapat lencana yang banyak dan menjadi “mayor” (sebagai pengguna yang paling sering mengunjungi tempat-tempat tertentu) yang akan mendapatkan banyak keuntungan, seperti diskon besar atau reviewer kuliner yang akan monetisasi kembali melalui Google Adsense.

Terakhir, penulis buku memformulasikan monetisasi sebagai alkimia (penarikan energi user), yang dapat dilihat dari aplikasi Zynga. Zynga adalah pembuat permaianan jejaring sosial yang didirikan oleh Mark Pincus, Michael Luxton, Eric Schiermeyer, Justin Waldron, Andrew Trader, dan Steve Schoettler. Di waktu bersamaan Zynga mengakuisisi YoVille, sebuah permainan virtual terkenal.[8] Salah satu raksasa itu, adalah Zynga, perusahaan game yang belakangan ini mencuri perhatian dunia. Inilah perusahaan yang dalam waktu sangat singkat muncul sebagai raksasa game di sosial media. Inilah perusahaan yang membuat perusahaan raksasa yang sudah puluhan tahun berkecimpung dalam dunia game gentar.

Zynga menjadi ”raksasa” bukan tanpa alasan. Setiap bulannya ada 250 juta pengguna yang aktif memainkan sebuah fenomena baru yang disebut dengan social game, yakni sebuah permainan yang terintegrasi dengan sosial media. FarmVille, Mafia Wars, Zynga Poker, FrontierVille, serta Cafe World adalah game yang sudah sangat populer di Indonesia. Meski tidak ada data yang mengungkap berapa jumlah penggunanya, namun judul-judul tersebut sudah tidak asing bagi mereka yang aktif berjejaring sosial. Semua game itu dibuat oleh Zynga. Tapi, yang membuat ngeri para kompetitor adalah perkembangan Zynga yang begitu cepat. 250 juta pengguna online yang memainkan game mereka setiap bulannya diraih dalam waktu kurang dari dua tahun. Ini menunjukkan betapa cepatnya bisnis social game ini tumbuh. Dalam 9 bulan pertama tahun ini saja, Zynga mencatat laba bersih sebesar USD30.7 juta dari total pendapatan total mereka sebesar USD828.9 juta[9].

Berdasarkan hal tersebut, pereview berusaha memahami kaitan antara monetisasi sebagai alkimia dengan Zynga ini, melalui analisis interaksi pengguna Zynga.  Dengan bermain zynga poker (game poker online dalam facebook), chips yang ada dalam game ini bisa dijual belikan dengan kisaran harga $1M (1 million) chips antara Rp10.000 s/d Rp 15.000 (tergantung harga pasaran yang berlaku). Melalui Facebook ada sebuah produk baru yang diciptakan dalam lingkungan para penggemar games poker, yang disebut dengan ‘chips poker’. Selain itu, bentuk pertukaran chips juga dapat berupa barang seperti pulsa elektronik, yaitu mereka menetapkan nominal chips yang dibandingkan dengan suatu nominal pulsa.

Pereview melihat bahwa hal tersebut merupakan monetisasi yang bukan diciptakan oleh penyedia aplikasi, namun sebagai bentukan dari komunitas game Zynga. Namun, menurut pereview, hal tersebut masih dikategorikan sebagai monetisasi karena akun pengguna dapat dijadikan sumber penghasilan atau dengan kata lain, mengandung nilai ekonomi.***

*Penulis adalah Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid Jakarta, Dosen di Universitas Wanita Internasional (IWU) Bandung.


[1]Ilham Mubarak. 10 Istilah Marketing Online yang Wajib Anda Ketahui. https://www.niagahoster.co.id/blog/istilah-marketing-online/amp/#2_Lead_Generation (Diakses 14/05/2019) Lead Generationadalah istilah yang digunakan dalam ilmu pemasaran Usaha atau aktivitas yang dilakukan untuk menarik perhatian orang asing ini disebut dengan lead generation. Secara sederhana, lead generation merupakan proses menarik orang-orang agar mengetahui perusahaan kita dan mengubah mereka menjadi calon konsumen potensial. Lead generation ini bertujuan untuk mendapatkan leads yang merupakan calon pelanggan potensial.    

[2] Bambang Winarso. 2015. Apa itu Jejaring Sosial Pinterest. https://dailysocial.id/post/apa-itu-pinterest (Diakses 14/05/2019).  Memulai kiprah di tahun 2010, Pinterest merupakan jejaring sosial yang menawarkan konsep unik dan berbeda dari layanan serupa lainnya. Di Pinterest pengguna dapat mengoleksi dan berbagi foto secara leluasa, tanpa dihantui oleh berbagai limit yang mengekang. Foto-foto yang dibagikan tidak terbatas pada foto yang Anda unggah, melainkan mencakup foto dari pengguna lain dan situs-situs tertentu.

[3] Ester Christine Natalia. 2018. Monetisasi Media Sosial Marak, Jual Beli Follower Jadi Solusi. https://www.cnbcindonesia.com/fintech/20180220135221-37-4861/monetisasi-media-sosial-marak-jual-beli-follower-jadi-solusi (Diakses 14/05/2019)

[4] Noviyanto. Mengenal Jenis-jenis Monetisasi dari Website. https://koinworks.com/blog/mengenal-jenis-jenis-monetisasi-dari-website/ (Diakses 14/05/2019)

[5] Arbitrase. https://id.wikipedia.org/wiki/Arbitrase (Diakses 14/05/2019)

[6] Pendapatan per seribu tayangan (RPM). https://support.google.com/adsense/answer/190515?hl=id (Diakses 14/09/2019)

[7] Restu Diantina Putri. Kevin Hendrawan: “Sebagai YouTuber, Kami Sering Tekor. https://tirto.id/kevin-hendrawan-sebagai-youtuber-kami-sering-tekor-cEUP. (Diakses 14/05/2015)

[8] Wikipedia. Zyngahttps://id.wikipedia.org/wiki/Zynga (Diakses 14/05/2019)

[9] Cakdan. 2011. Zynga, Perusahaan Game Termahal Dunia. https://cakdan.com/2011/12/19/zynga-perusahaan-game-termahal-dunia/ (Diakses 14/05/2019)

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: