METRUM
Jelajah Komunitas

Novelet Religi “Sang Tokoh”: Menjadi Manusia Super (3)

Oleh Wina Armada Sukardi

DORONGAN dari dalam diri sendiri, mestimulir Sang Tokoh untuk membuka matanya. Perlahan-lahan dia membuka kelopak matanya. Mula-mulai sedikit, lantas sedikit demi sedikit sampai akhirnya mata Sang Tokoh Terbuka seluruhnya. Dia memperhatikan keadaan sekeliling. Sang Tokoh mendapati dirinya sedang berbaring di tempat tidur. Di tangannya ada jarum infus.

Matanya mengikuti selangnya yang bermuara di botol yang tertempel di atas.

Di dadanya terpasang alat-alat pemindai dan pemantau yang hasilnya direfleksikan ke layar monitor di atas kepala agak kebelakang. Semua aktivis penting organ tubuhnya terekam disana.

Di sekelilingnya tembok putih dengan sekat-sekat gorden warna putih pula. Sadarlah Sang Tokoh, dia sedang berada di sebuah rumah sakit.

Manakala jiwa kembara rupanya jasadnya sedang “tertidur” di rumah sakit.

Baru saja kesadarannya pulih, dia mendengar suara, ”Matanya terbuka! Suster, matanya terbuka!”

Belum sempat Sang Tokoh memperhatikan dengan seksama, orang yang berbicara, sudah datang berlari-lari beberapa suster ke arahnya!

“Grafiknya sudah normal. Berarti jantungnya udah baik,” kata salah satu suster. “Segera panggil dokter!”
Hanya beberapa menit langsung ada empat dokter datang menghampiri Sang Tokoh. Mereka langsung meneliti kondisi Sang Tokoh. Denyut nadi diperiksa. Tekanan darah dicek. Mata, mulut, kuping, semuanya, satu persatu tak luput dari pemeriksaan. Teleskop ditempelkan di dada dan lainnya. Hasilnya?
“Semuanya oke,” kata salah seorang dokter dari mereka yang kelihatannya paling senior seraya memeriksa pula layar monitor dan alat-alat yang ada.
“Periksa darah lengkap ke lab secepatnya, dan besok MRI. Semuanya. Jangan ada yang terlewat, ” tambahnya. Dokter lain dan para suster mengangguk-anggukan kepala.

Sang Tokoh memperhatikan para dokter. Dia terkejut, kini Sang Tokoh memiliki kemampuan untuk membaca profil orang. Dia melihat tiga orang dokter ikhlas mengabdi kepada profesinya, tetapi seorang dokter dengan jelas terlihat oleh Sang Tokoh sangat ambisius, meski dia selalu tersenyum. Sang Tokoh sendiri tak faham bagaimana proses dia dapat memiliki kemampuan semacam ini.

Setelah itu dokter paling senior pergi diikuti dengan dokter lainnya. Beberapa suster masih ada di seputar tempat tidur.

Setelah pemeriksaan atas dirinya, Sang Tokoh baru menyadari keluargnya lengkap berada di sampingnya. Ibunya bersama dua kakak adik lelakinya berada di sebelah kiri. Sedangkan Ayahnya berdiri bersama adik perempuanya. Sedari tadi rupanya mereka hanya memperhatikan Sang Tokoh saja.

Begitu para dokter pergi, barulah mereka bereaksi. Mula-mula ibunya membelai kepala Sang Tokoh, kemudian mencium pipinya. Ibunya duduk di bibir tempat tidur. Ada air mata menetes dari kelopak mata ibunya.
Setelah itu kakak adik laki-lakinya sama-sama tersenyum dan memegang tangan sang tokoh.

Pada saat bersamaan adik perempuannya memeluk Sang Tokoh. Sementara Ayahnya cuma memperhatikan dengan seksama dengan suka cita. Cuma bibirnya merekah menunjukkan rasa bahagia.
Sang Tokoh belum dapat berbicara sama sekali. Dia masih agak bingung terhadap transisi kejadian yang dihadapinya pada dirinya. Peristiwa yang silih berganti dengan cepat.
“Kamu baik-baik saja kan, Nak,” ibunya bertanya.
“Memang ke kenapa?” tanyanya balik. Dia heran. Dirinya tak merasa terjadi apa-apa. Semuanya seakan tak ada yang aneh.

Keluarga Sang Tokoh saling berpandangan, namun sesaat kemudian lantas tersenyum.

Mereka mahfum rupanya Sang Tokoh belum faham apa yang terjadi pada dirinya. Dia belum mengetahui dirinya sudah tidak sadarkan diri total selama 30 hari. Tak memberikan reaksi apapun terhadap apapun yang terjadi di sekitarnnya. Matanya tertutup rapat. Jika dokter membukanya paksa, tak ada tatapan sama sekali. Kosong. Makannya sepenuhnya melalui infus. Tapi jantungnya masih terditeksi berdenyut normal. Para dokterpun dibuatnya bingung. Disebut hidup sudah seperti orang wafat, kecuali jantungnya masih berdenyut seperti biasa. Begitu juga otaknya masih belerja. Oleh sebab itu dibilang wafat juga tidak mungkin, lantaran masih ada kehidupan dalam diri Sang Tokoh. Dan itu terjadi setiap hari sejak dia tertabrak mobil. Selama 30 hari terus menerus tanpa henti.

Keluarga, kawan, tetangga dan handai taulan awalnya berdatangan membezoek silih berganti. Itu berlangsung sampai minggu kedua saja. Setelah itu hanya keluarga inti saja yang terus menungguinya.

Kasus Sang Tokoh telah menarik perhatian beberapa dokter dari luar dan dalam negeri. Setelah dua minggu Sang Tokoh tak siuman juga, beberapa dokter luar negeri datang. Mereka ingin mengetahui langsung keadaan Sang Tokoh. Mereka ikut memeriksa diri Sang Tokoh yang tak sasarkan diri. Mereka juga meneliti hasil-hasi laboratorium dan mesin-mesin alat kesehatan. Organ-organ tubuh Sang Tokoh masih berfungsi. Tak ada tanda-tanda kematian. Lalu mengapa Sang Tokoh tetap tak sadarkan diri? Inilah yang membuat mereka ikut bertanya-tanya. Tak ada satupun diagnosa yang tepat. Para dokter ahli dalam dan luar negeri menjadi bingung.

Dan kini, tetiba Sang Tokoh membuka matanya. Begitu aja. Begitu saja siuman. Begitu saja dapat berubah sadar.
“Lapar!” kata Sang Tokoh mengejutkan yang hadir disitu. Pertama mereka tak menyangka ada permintaan makan dari Sang Tokoh. Kedua, mereka bingung mau diberi makan apa, karena belum jelas apakah dari aspek medis boleh makan apa saja atau ada larangan tertentu. Kembali yang hadir disana saling memandang.

Suster berinisiatif memanggil dokter. Dokter yang datang kembali memeriksa kondisi Sang Tokoh. Setelah selesai, si dokter nampak berpikir lebih keras sejenak.
“Ya boleh diberi makan, kalau memang pasien minta,” kata dokter itu akhirnya menyimpulkan.
“Mau makan apa?” tanya Ibu Sang Tokoh.
“Apa saja. Yang penting cepat. Udah lapar,” jelas Sang Tokoh.
Adik lelaki Sang Tokoh bergegas keluar membeli makanan. Sang Tokoh sendiri mengubah posisinya dari tidur menjadi duduk.
Suasana tegang yang semula mengepung telah mencair. Sekaluarga merasa lega. Senang.
Bahagia.
“Kita semua senula khawatir banget,” ujar ibu Sang Tokoh memulai dialog.
“Memang kenapa?” tanya Sang Tokoh.
Berceritalah ibunya mengenai yang telah terjadi. Dari mulai Sang Tokoh tertabrak motor sampai tidak sadar diri selama 30 hari.
“Seperti mati suri,” tutur adik perempuannya.
Sang Tokoh cuma tersenyum.

Hasil pemeriksaan darah dan bagian dalam tubuh Sang Tokoh ternyata semua normal, bahkan baik. Tak ada tanda-tanda yang mengindikasikan Sang Tokoh mengalami penyakit di darah atau bagian tubuh dalam lainnya.

Dua hari kemudian Sang Tokoh sudah diperbolehkan pulang. Selain boleh memakai BPJS ternyata lantaran ini kasus khusus, seluruh biaya ditanggung negara.

Sang Tokoh pulang dengan berjalan kaki layaknya bukan orang pasien yang masuk dan lantas kekua rumah sakit karena sakit. Dia pulang seperti bukan orang yang baru saja jadi pasien rumah sakit. Sang Tokoh bahkan nampak lebih sehat dari para pengunjung rumah sakit yang ingin membezoek para pasien lainnya.

Oleh sebab Sang Tokoh pulang melalui jalan biasa. Di lobi ada beberapa kamera televisi menyorotnya membuat pemberitaan manusia yang mengalami seperti mati suri, setelah 30 hari telah sadar sepenuhnya dan sudah diperbolehkan pulang. Tak ada tanya jawab, cuma pengambilan gambar.

Manakala mau keluar pintu berjalan ke arah mobil yang menjemputnya, Sang Tokoh melihat seorang wanita jelita. Rambutnya tergerai. Wajahnya dihiasi make up tipis. Sang Tokoh berhenti sejenak dan menghampiri perempuan itu.
“Suste Intan?” tanya Sang Tokoh.
“Kok bisa mengenali saya. Dokter saja kalo saya sedang tidak dinas, jarang yang mengenali.,” jawab perempuan itu sambil menatap ke arah Sang Tokoh.
“Ini pasien yang 30 hari tidak sadarkan diri, Sus,” ibu Sang Tokoh menjelaskan.
“Oh sudah sadar? Sudah boleh langsung pulang?” tanya suster itu.
“Iya,” jawab Sang Tokoh. Memang Suster ini bertugas berhari-hari menangani Sang Tokoh sewaktu Sang Tokoh Tak sadarnya. Antara diri Sang Tokoh dengan si suster tak pernah terjadi komunikasi apapun. Waktu tugas menanganinya Sang Tokoh sedang tidak sadarkan diri. Hanya saja kini Sang Tokoh diberikan ingatan kuat yang luar biasa. Sejak mengalami tak aadar diri 30 hari, kini dia memiliki daya ingat yang luar biasa. Sang Tokoh dapat mengenali orang. dengan tepat, bahkan orang-orang beriteraksinya dengan Sang Tokoh ketika dia sedang tak sadarkan diri. Padahal sebelumnya dia justeru sering banyak lupa dengan diri orang lain. Dia sulit mengenal orang lain yang pernah bertemu. Begitu pula Sang Tokoh lebih banyak lupa tulisan yang sudah dibacanya. Tapi kini segalanya berbalik. Sang Tokoh memiliki ingatan super kuat. Termasuk dia ingat dengan suster ini.
“Yo pamit, Suster.
Makasih,” ujar Sang Tokoh menuju mobil.

Suste melihatnya penuh kebingungan. Pasiennya yang sebelumnya tak berdaya, sekarang telah pulih. Sehat dan gagah. Dapat mengingatnya dengan baik, bahkan mengetahui namanya pula. Padahal rasanya selama menangani pasien ini, pasiennya sedang tidak sadar.

Bagaimana dia dapat mengenalinya dengan tepat? Suster Intan merasa ada yang tidak biasa.
Apalagi kalau tidak memakai baju dinas suster, kebanyakan lingkungan kerjanya saja tak mengenalinya. Penampilannya sebagai suster ketika sedang berdinas lengkap dengan baju putih dan topi suster sangat berlainan dengan penampilan saat tidak dinas. “Kayak langit dan bumi,” kata beberapa sejawatnya.
“Kalo lagi gak tugas, kayak bintang film,” canda seorang dokter. Makanya banyak yang pangling melihat penampilanya di luar dinas.

Suster Intan merasa pasti ada sesuatu yang lain pada diri Sang Tokoh. Suster tak tahu tepat apa, nanun dia merasa Sang Tokoh punya kekuatan yang tak dimiliki orang biasa. Sang Tokoh luar biasa. Sang Tokoh telah jadi manusia setengah super.***

(Bersambung)

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.