METRUM
Jelajah Komunitas

Novelet Religi “Sang Tokoh”: Tas Hermes dan Paket Misterius (13)

Karya Wina Armada Sukardi

SEPULANG berlibur dari Bali, Sang Tokoh merasa lebih segar dan lebih bugar. Dia pun mulai menerima kembali undangan berceramah atawa menjadi khotib. Sang tokoh tidak memilah-milah undangan siapa yang diterimanya. Dari ibu-ibu, muda-muda mesjid, instansi atau lembaga negara manapun, dari kaum the have sampai kaum tak mampu. Begitu pula dari tenaga kerja dan mahasiswa Indonesia si luar negeri yang meminta hadir dan ceramah disana, juga dipenuhi. Bahkan dari organisasi non muslim pun diterimanya dengan baik. Semuanya disesuaikan dengan ketersediaan jadwal.

Permintaan dapat membludak mungkin juga lantaran sang Tokoh tidak pernah mematok tarif. Berapa saja diterimanya, bahkan jika ada pengundang yang tak mampu memberi honor pun tetap dilayani. Jika diperlukan, malah Sang Tokoh yang menyumbang organisasi yang tidak mampu itu.

Nama Sang Tokoh pun melambung. Dia sudah menjadi publik figur. Dikenal dimana-mana. Dan yang lebih penting diterima dimana-mana. Ceramahanya dikenal memiliki refrensi yang luas, berwawasan dengan banyak dimensi. Lugas tetapi tidak mengandung kebencian. Keras tetapi tanpa berteriak. Lincah tetapi tidak genit. Materinya juga selalu relevan dengan pengundang dan kondisi sosial, hukum, politik serta tatanan yang ada di maayarakat.

Hari ini Sang Tokoh diundang oleh seorang pengusaha sekaligus politikus terbama di rumah yang bersangkutan. Dia diminta datang lebih dahulu dari tamu-tamu lainnya. “Biar kita dapat bicara lebih dalam sebentar,” kata pengundangnya.

Turun dari mobil Sang Tokoh disambut langsung oleh tuan rumahnya. Sang Tokoh diperkenalkan dengan anak isteri dan beberapa orang dekatnya yang juga tiba lebih dahulu. Lalu dia diajak keliling “tour” di rumah pengundangnya itu. Rumah yang terletak di daerah elite tersebut sangat luas. Sang Tokoh memperkirakan luas rumahnya sekitar 5.000 sampai 8.000. meter persegi. Di depan ada beberapa ruang untuk menerima tamu. Juga ada dua buah ruang buat rapat terbatas dan semacam aula besar.

Dari depan bisa masuk ke basemen, tempat parkir mobil tamu dan tempat koleksi mobil pemilik rumah, terutama mobil mewah dan mobil antik berderet disana.

Masuk ke dalam sedikit, ada ruang keluarga dan beberapa ruang fungsional untuk fitness, salon, karkoe, bioskop mini dan sebagainya. Setelah itu menyambung ada kolam renang ukuran setengah olimpiade lengkap demgan tempat mandi dan ganti pakaian. Tak ketingalan ada saunanya. Baru setelah itu ada ruang makan keluarga. Di daerah ini ada galeri lukisan dan benda-benda seni. Barulah pada bagian akhir terdapat kamar-kamar. Di antara setiap bagian rumah ada beberapa burung berkicau.

Rumah bertingkat tiga. Ketimbang rumah biasa, rumah ini lebih mirip istana megah. “Saya beli sedikit demi sedikit,” terang si pemilik rumah. ”Begitu ada uang lebih, dulu saya beli tanah di kiri kanan. Tentu dengan harga di atas pasaran. Kalau enggak, ya mana mau. Tapi tetap saat itu masih Murah,” tambahnya.

Rumah dilengkapi dengan berbagai teknologi modern. Jika seorang yang tidak dikehendaki masuk ke dalam rumah, kemungkinan besar tidak dapat keluar lagi, karena ada berbagai sistem yang mencegahnya keluar, mulai dari teknologi kunci otomatis sampai semprotan asap yang dapat membuat pemandangan kabur kehilangan arah.

Sang Tokoh takjub akan kemewahan dan kecanggihan rumah ini. Juga artistik yang serba indah. Kalau di kalkulasi seluruhnya mungkin rumah ini menjadi salah satu dari 100 rumah termahal di Jakarta.

Sang Tokoh menguraikan antara empati dan ditipu dua hal yang berbeda. “Kalau ada pengemis, dia dengan wajah di melas-melaskan, meminta-minta kepada kita, padahal dia berbadan tegap, punya rumah permanen di kampung, bagus pula. Lebih dari itu, isteri nya dua atau tiga. Nah, yang begitu bukan pengemis, tapi pura-pura jadi pengemis,” jelas Sang Tokoh.

”Kalau pengemis benar, kita memang wajib empati, bahkan menolong atau berbagi rezeki dengan mereka. Tetapi terhadap orang yang pura-pura menjadi pengemis, mereka orang-orang pemalas. Mereka menipu kita. Kita tidak wajib menolong mereka, bahkan kalau kita memberikan bantuan kepada mereka, seakan membantu penipuan. Lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya.”

Pada bagian lain, Sang Tokoh menekankan aparat penyelenggara negara wajib menjaga amanah yang diberikan kepada mereka. “Kalau aparat pemerintah atau negara melakukan perbuatan tercela, mereka dua kali melakukan penghianatan. Pertama terhadap negaranya. Kedua, kepada jabatannya dan ketiga terutama penghianatan terhadap rakyat,” tutur Sang Tokoh.

Hadirin yang merupakan keluarga besar, kerabat dan relasi pengundang menyimak uraian-uraian Sang Tokoh dengan seksama sampai usai. Nampaknya semuanya puas.
Sebelum pulang, Sang Tokoh diajak oleh tuan rumah masuk ke sebuah ruangan. Disana Sang Tokoh diberi sebuah tas. “Ini kenangan-kenangan sekaligus honor,” kata tuan rumah pengundang.”Mohon diterima dengan baik.”
“Tentu saya terima dengan senang hati. Alhaamdullilah. Terima kasih.”
“Jangan dilihat jumlahnya, tapi keikhlasan dari yang memberinya dan kehormatan buat yang menerimanya.”
“Iya, baik.”
“Itu tasnya juga tolong dijaga dengan baik. Maklum dari merek bagus.”
Sang Tokoh melihat merek tasnya: Hermes. Sang Tokoh tahu itu merek ternama. Harganya selangit.
“Terima kasih,” jawab Sang Tokoh.

Dalam mobil menuju perjalanan pulang, Sang Tokoh membuka tas itu dan melihat isinya. Dolar US. Jumlahnya: 100.000.dolar atau sekitar Rp 1,5 miliar. Inilah jumlah honorarium terbesar yang pernah diterima Sang Tokoh.
Ada kesanksian dari Sang Tokoh, benar tidak honor sebesar itu buat dirinya. Dia segera menelpon pengundangnya. “Izin Pak, tas Hermes sudah saya buka. Isinya banyak sekali. Apa ini tidak salah memasukan honornya?”
“Oh sama sekali tidak. Buat Sang Tokoh yang kharismatik layak dapat itu semua.”
“Iya, kalau begitu sekali lagi terima kasih.”

Pulang ke rumah, Sang Tokoh menjumpai pamanya sudah ada di rumahnya. Wajah pamannya kusut. Disana ada juga Bapak ibu Sang Tokoh. Belakangan adiknya juga ikut berkumpul. Sang Tokoh segera tahu pasti sedang ada masalah.
“Anak saya ditangkap polisi!” kata pamannya.
“Kenapa?” tanya Ayahnya.
“Katanya soal narkoba!”
Tak banyak berbicara, Sang Tokoh, Ayah dan pamannya meluncur ke sebuah kantor polisi di Jakarta. Setelah urusan administrasi selesai, Sang Tokoh dan keluarganya masih boleh dan dapat bertemu dengan anak pamanya. Bapak dan anak langsung berpelukan. Diikuti peluk dengan ayah Sang Tokoh dan Samg Tokoh sendiri.
Lantaran waktunya sempit, anak pamannya itu “diintrograsi” ramai-ramai.
“Kok bisa sampai begini?” Bapaknya sendiri yang memulai.
“Saya gak tahu sama sekali!”
“Kejadiannya gimana?”
“Ada razia di jalan. Setelah diperiksa, di bagasi mobil saya ditemukan bubuk sabu. Katanya, tiga bungkus.”
“Apa kamu diam-diam pakai sabu. Sudah berapa lama?”
“Apanya yang sudah berapa lama? Saya gak pernah pakai sabu. Nyentuh aja gek pernah!”
“Benar gak pernah nyabu?” giliran Sang Tokoh bertanya.
“Boro-boro narkoba. Ganja, ekstasi, sabu, pasti tidak. Rokok aja enggak. Tahu kan, saya justeru olah raga terus. Gak ada kamusnya pake narkoba”
“Temen barangkali?”
“Rasanya enggak juga.”
“Jangan-jangan, gak memakai, tapi malah jasi bandar?”
“Apalagi bandar. Seluk beluk dagang narkoba saja gak faham, masa mau jadi bandar?”
“Kejadiannya gimana?
“Saya habis pulang dari rumah teman, di jalan ada rahasia. Diperiksa di mobil saya ada sabu. Ya terus digiring kesini. Ditangkap. Ditahan.”
“Jadi, sekali nih, gak ada urusannya sama narkoba ya?”
“Asli seratus persen!”

Pembicaraan belum tuntas, anak pamanya sudah harus dibawa lagi ke dalam sel. Dari penglihatan Sang Tokoh, sapupunya jujur. Dapat dipercaya. Semua yang diceritakanya benar adanya.
Sang Toko terus berpikir keras bagaimana hal itu dapat terjadi. Dari mulai yang paling naif sampai teori konspirasi, dia belum mendapat jawabannya.

Merek bertiga, Sang Tokoh, ayah dan pamannya, segera menghadap komandan unit bidang narkoba. Sementara komandan inilah yang mempunyai kewenangan pada kasus ini. Di ruanganya dia kelihatan sangat sibuk. Kedatangannya Sang Tokoh, Ayah dan pamannya ditanggapi dingin saja. Sang Tokoh menangkap aura negatif dari polisi itu. Lebih lanjut Sang Tokoh melihat polisi itu seperti bakal segera dipindahtugasakan, bahkan bakal kena sanksi etik dan hukum sekaligus.
“Silakan duduk!” kata Komasan itu dari tempat duduknya. Di depan komandan itu, Sang Tokoh cs di kursi yang ada disana sini sudah rusak. “Maaf ada apa?”
“Kami ingin bertanya dan membicarakan soal saudara kami yang tadi malam…”
Belum selesai Sang Tokoh berbicara, sudah dipotong.”Oh yang tadi malam ketangkap tangan operasi kan?”
“Ehmm….”
“Ya berdasarkan laporan dia tertangkap tangan di mobilnya, ada narkoba. Sabu”
“Tapi….”
“Biar dijadiin gak ada kasusnya, semuanya beres, Rp 500 juta. Kontan,” katanya tanpa basa-basi sama sekaki. Juga tak ada rasa takut dan rasa bersalah.
“Jangan lebih dari tiga hari karena kalau sudah lebih tiga hari mungkin sudah tercium pers san sudah harus ada laporannya. Kalau belum tiga hari, kami masih dapat memutuskan.“
“Tapi kan belum ada tes urine?”
“Mau kami bantu atau tidak,” polisi ini menjawab dengan nada tinggi. “Kalau sudah tes urine lain lagi soalnya. Kalau hasil tesnya negatif tuduhanya malah menjadi pengedar. Itu lebih berat lagi.”
“Soalnya pengakuan orangnya dia gak bawa narkoba apa-apa!”
“Ini bukan soal pengakuan. Ini soal hukum. Faktanya dia sudah tertangkap tangan. Mengaku gak mengaku, gak ada soal.” Dia memandang wajah Sang Tokoh. Waktu mata mereka bertumpukan, serta merta si polisi mengalihkan pandanganya dari Sang Tokoh. Dia tak sanggup beradu mata denga Sang Tokoh. Kalah wibawa.
“Begini aja. Udah kasusnya diproses seperti biasa,” ujar polisi itu. Sang Tokoh faham, ini cuma gertakan saja. Banyak kisah semacam ini dia dengar darı kawan-kawanyan yang mengalaminya sendiri Sang Tokoh mencoba pura-pura melakukan tarik ulur.
“Tapi, apa gak mungkin ada kebijaksanaan?” pancing Sang Tokoh.
“Maksudnya gimana?”
“Mungkin nominal dikurangi sesuai dengan tingkat kesalahannya? Juga tegang waktu pembayaran?”
“Biar faham aja. Saya bukan tidak mengetahui siapa Bapak. Kan orang terkenal. Tapi sebagai aparat kami tidak memandang bulu. Semua kami perlakukan sama. Jangan mentang-mentang orang tersohor, mau diperlakukan istimewa Tidak ada itu.”
Sang Tokoh itu cuma sandiwara Sang Tokoh dan keluarga diam saja.
“Silakan pikirkan saja! Saya tunggu jawabannya segera. Kalau berkenan, tidak soal.”
“Baik. Beri kami waktu dua hari.”
“Waktunya tinggal sehari. Paling lambat besok malam hari, sudah lunas. Sudah tuntas.”
“Kami harus cari dulu uang cashnya. Uang segitu tidak sedikit buat kami.”
“Ala, jangan pura-puralah. Saya tahu duitnya banyak. Saya besok seharian ada disini.”

Sang Tokoh dan keluarga keluar ruangan. Sang Tokoh beberapa kali berceramah di depan perwira polisi. Dia juga kenal dengan beberapa petinggi polisi. Beberapa sudah dia hubungi via telepon dan menceritakan masalahnya. Sang Tokoh mau menceritakan soal ini karena dia percaya sebagian besar polisi sebenarnya mampunyai tingkat profesional yang sangat baik. Artinya mempunyai kompetensi yang memadai integritasnya juga memenuhi syarat sebagai seorang penegak hukum. Dalam pandanganya hanya segelintir anggota polisi yang berprilaku tercela, tetapi persoalanya mereka seperti lebih berani. Lebih vulgar. Akibatnya seakan polisi yang segelintir dengan sifat tercela itu menjadi cermin keadaan polisi.

Para perwira yang dihubungi Sang Tokoh mengaku akan memberi perhatian, tetapi akan lebih dahulu mempelajari perkaranya. Mereka terus terang mengatakan tidak dapat melakukan intervensi tanpa dasar hukum yang kuat.
“Paling tidak akan jadi atensi,” kata seorang perwira kepada Sang Tokoh. Masalahnya, atensi itu kemungkinan membuat tenggat waktu satu hari berlalu, dan itu artinya kasusnya bakal naik kepenyidikan dan masuk ke pengadilan.

Pada saat-saat seperti ini Sang Tokoh, selain sholat, selalu dia berdoa secara khusus. Dia berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Minta diberi petunjuk, ketabahan secara keihlasan apapun yang terjadi. Dia yakin kebatilan bakal selalu terbenam oleh kebenaran melalui cara yang khas dan sering tidak diketabui. Caranya inilah yang perlu dicari.
Pada hari harus menentukan pilihan apakah membiarkan sepupunya diadili atau menyerah kepada praktek sogok, Sang Tokoh masih belum dapat menentukan pilihan. Soal yang Rp 500 juta baginya tidak masalah. Uang segitu dalam pundi-pundinya tak banyak berseri. Masalahnya apakah dia harus tunduk dan menunjang praktek tercela.

Pagi hari ketika Sang Tokoh bakal keluar rumah, penjaga menyerahkan sebuah paket. “Pesannya, pokoknya paket harus diterima langsung pagi ini juga,” kata penjaga rumah.
“Dari siapa?”
“Katanya nanti Bapak juga bakal tahu. Begitu pesan pengirimnya” jawab penjaga.
Paket dibungkus dan seperti dilebel dari kurir pengiriman sebuah perusahaan. Padahal sebenarnya dikirim langsung oleh pengirimnya tanpa lewat jasa pengiriman. Ini jelas ada maksud tertentu. Sang Tokoh membongkar paket dengan sangat berhati-hati. Rupanya bungkusnya berlapis-lapis.
Begitu melihat isinya, Sang Tokoh tercenung.***

(Bersambung)

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.