Pasirlayung Buktikan Sampah Organik Bisa Tuntas di RW, Tak Lagi Bergantung ke TPS
KOTA BANDUNG (METRUM) – Di tengah persoalan sampah yang masih menjadi tantangan besar di Kota Bandung, Kelurahan Pasirlayung, Kecamatan Cibeunying Kidul, menunjukkan pendekatan berbeda. Melalui berbagai inovasi berbasis masyarakat, kawasan ini berhasil mengolah sampah organik langsung di lingkungan warga sehingga tidak lagi bergantung pada Tempat Penampungan Sementara (TPS).
Beragam fasilitas pengolahan seperti rumah maggot, peternakan ayam terpadu, bank sampah, komposter, hingga pengolahan pupuk organik kini menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah yang berjalan setiap hari di sejumlah RW.
Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Kelurahan Pasirlayung, Nani Mulyani, mengatakan keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah kewilayahan, warga, petugas pengangkut sampah, pengelola kawasan bebas sampah, serta berbagai komunitas lingkungan yang aktif di wilayah tersebut.
Menurutnya, sampah organik yang dihasilkan masyarakat kini dapat diselesaikan langsung di tingkat kelurahan tanpa harus dibuang ke TPS.
“Alhamdulillah, saat ini sampah organik di Pasirlayung sudah bisa kami tangani di wilayah. Sebagian besar tidak lagi dikirim ke TPS karena telah diolah menjadi produk yang bermanfaat,” ujarnya.
Rumah Maggot dan Kandang Ayam Jadi Pusat Pengolahan
Saat ini sejumlah titik pengolahan sampah organik telah beroperasi di berbagai wilayah Pasirlayung. Rumah maggot dan peternakan ayam terpadu telah berjalan di RW 02, kemudian berkembang di lingkungan kantor kelurahan, RW 08, RW 12, kawasan Saung Angklung Udjo RW 06, hingga kawasan Tugu Asri Perumahan Bumi Asri RW 13.
Setiap hari sampah organik dari rumah tangga dikumpulkan dan diangkut menuju lokasi pengolahan tersebut.
Sistem yang diterapkan memungkinkan limbah dapur, sisa sayuran, dan sampah organik lainnya diubah menjadi pakan ternak, pakan maggot, maupun pupuk organik yang dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.
“Petugas setiap hari membawa sampah organik ke rumah maggot dan kandang ayam. Karena itu volumenya yang masuk ke TPS terus berkurang,” kata Nani.
Bank Sampah Jadi Penggerak Ekonomi Warga
Tidak hanya fokus pada sampah organik, Pasirlayung juga memperkuat pengelolaan sampah anorganik melalui 13 Bank Sampah Unit yang tersebar di seluruh wilayah kelurahan.
Sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dipilah oleh warga, ditimbang secara berkala, lalu disalurkan ke Bank Sampah Induk bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung.
Skema tersebut dinilai mampu menekan volume sampah sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Kami ingin pengelolaan sampah menjadi gerakan bersama. Warga, petugas lingkungan, pengangkut sampah, hingga pengelola kawasan bebas sampah memiliki peran yang sama pentingnya,” ujar Nani.
Semua Sampah Organik Diolah, Tak Ada yang Terbuang
Pendamping Kawasan Bebas Sampah Pasirlayung, Herlan Soemantri, menjelaskan kunci keberhasilan program tersebut terletak pada perubahan perilaku masyarakat yang mulai terbiasa memilah sampah sejak dari rumah.
Setelah dipilah, sampah organik kemudian diproses melalui tiga jalur pemanfaatan. Sisa makanan yang masih layak dimanfaatkan menjadi pakan ayam dan bebek, limbah dapur seperti kulit buah dan sayuran diberikan untuk budidaya maggot, sedangkan residu organik lainnya diolah menjadi kompos melalui drum komposter.
Dengan pola tersebut, hampir seluruh sampah organik dapat dimanfaatkan kembali tanpa menghasilkan residu yang harus dibuang.
“Tidak ada yang terbuang sia-sia. Semua sampah organik dimanfaatkan sesuai karakteristiknya,” jelas Herlan.
Target Kapasitas Naik Hingga 300 Kilogram per Hari
Berdasarkan data lapangan, produksi sampah organik di Kelurahan Pasirlayung mencapai sekitar 560 kilogram per hari atau sekitar 12 ton setiap bulan.
Khusus di kawasan RW 02 dan RW 03, rumah maggot saat ini mampu mengolah sekitar 50 hingga 75 kilogram sampah organik per hari. Namun kapasitas tersebut ditargetkan meningkat hingga 300 kilogram per hari dalam waktu dekat.
Peningkatan kapasitas dilakukan untuk memperluas jangkauan layanan sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap TPS.
Herlan menegaskan target tersebut hanya dapat dicapai melalui kolaborasi berbagai pihak, mulai dari warga, RT, RW, Karang Taruna, pemerintah kelurahan, petugas Gaslah, hingga kalangan akademisi.
“Kolaborasi menjadi kunci utama. Persoalan sampah tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja,” katanya.
Model Pengelolaan Sampah Berbasis Ekonomi Sirkular
Salah satu inovasi yang paling menarik perhatian adalah integrasi antara kandang ayam dan budidaya maggot. Dalam sistem tersebut, kotoran ayam tidak menjadi limbah, melainkan dimanfaatkan sebagai media budidaya maggot. Sebaliknya, maggot menjadi sumber pakan bernilai tinggi bagi ternak.
Sampah organik dari warga pun langsung masuk ke dalam siklus pengolahan sehingga tidak menimbulkan bau maupun pencemaran lingkungan.
Model ekonomi sirkular ini dinilai sangat cocok diterapkan di kawasan permukiman karena mampu mengubah sampah menjadi sumber pangan sekaligus sumber ekonomi masyarakat.
“Seluruh unsur dalam sistem ini saling terhubung. Sampah organik habis terolah, kotoran ternak termanfaatkan, dan lingkungan tetap bersih,” ujar Herlan.
Nani berharap keberhasilan Pasirlayung dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Kota Bandung. Ia mengajak masyarakat untuk mulai membangun budaya memilah dan mengelola sampah dari rumah masing-masing.
“Kalau semua warga bergerak bersama, persoalan sampah bisa diselesaikan dari lingkungan terkecil. Sampah bukan lagi menjadi beban, tetapi bisa menjadi sumber manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (M1)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.