METRUM
Jelajah Komunitas

Pola Ekonomi Berbasis “Halal” di Indonesia

INDONESIA adalah salah satu negara yang penduduk mayoritasnya beragama Islam. Persoalan apakah agama dapat menghambat atau mendorong perkembangan ekonomi dan perubahan instutisional menjadi penting. Dikarenakan munculnya gerakan-gerakan keagamaan, salah satunya gerakan sosial keagamaan di negara-negara yang berpenduduk mayoritas beragama Islam, hal tersebut mucul merupakan reaksi terhadap ketidakpuasan kondisi ekonomi pada saat ini.

Berdasarkan karakteristik negara Indonesia yang mayoritas beragama Islam dalam studi kasus perkembangan ekonominya begitu kompleks seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan pemahaman agama, namun teori dari bapak Ekonomi “The First Economist”, Aristoteles menjadi titik awal pendorong perekonomian berlangsung sampai saat ini.

Semua agama di dunia melalui kitab suci untuk melarang perekonomian atau berjalannya ekonomi di masyarakat apabila berlandaskan riba. Islam menyampaikan argumennya dalam al-Quran salah satunya dalam surat al-Baqarah ayat 275,  yang artinya berdasarkan terjemahan bebas di akhir ayat tersebut “Barangsiapa yang mengambil riba sesudah ini, maka mereka adalah penghuni neraka dan kekal didalamnya”.

Muhammad Saw sebagai nabi terakhir menyampaikan dalam Hadist “ada 4 kategori manusia yang mengambil riba, yaitu; pemakannya (pemakainya), pemberinya, penulis (pembuat kontrak), dan saksinya, yang paling ringan di antaranya adalah sama dengan (dosa) seorang laki-laki menyetubuhi ibu kandungnya sendiri”.

W. Montgomery Watt berpendapat bahwa pada masa lahirnya Islam, Makkah merupakan pusat kegiatan ekonomi dan bisnis yang sangat penting. Keadaan ini telah menjadi sarana amat penting dan sentral dalam proses penyebaran Islam. Hal tersebut mengalami perkembangan, yang akhirnya dikenal dengan ekonomi “syariah”, seringkali agama Islam menjadikan patokan untuk melangsungkan sistem perekonomian. Oleh karena itu, terlepas dari berhasil atau tidak suatu perekonomian Indonesia dengan mayoritas agama yang dianut adalah Islam tipe ekonomi atas nama agama diakui halal dan ada sampai saat ini.

Ekonomi Syariah adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang berupaya untuk memandang, menganalisis, dan akhirnya menyelesaikan permasalahan-permasalahan ekonomi dengan cara-cara Islam, yaitu berdasarkan atas ajaran agama Islam, yaitu Al Qur’an dan Sunnah Nabi (P3EI, 2012:17). Ekonomi syariah memiliki dua hal pokok yang menjadi landasan hukum sistem ekonomi syariah yaitu Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah, hukum-hukum yang diambil dari kedua landasan pokok tersebut secara konsep dan prinsip adalah tetap (tidak dapat berubah kapanpun dan dimana saja).

Pelaksanaan ekonomi syariah harus menjalankan prinsip-prinsip sebagai berikut (Sudarsono, 2002:105):

  • Berbagai sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan dari Allah SWT kepada manusia.
  • Islam mengakui pemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu.
  • Kekuatan penggerak utama ekonomi syariah adalah kerja sama.
  • Ekonomi Syariah menolak terjadinya akumulasi kekayaan yang dikuasai oleh segelintir orang saja.
  • Ekonomi Syariah menjamin pemilikan masyarakat dan penggunaannya direncanakan untuk kepentingan banyak orang.
  • Seorang muslim harus takut kepada Allah SWT dan hari penentuan di akhirat nanti.
  • Zakat harus dibayarkan atas kekayaan yang telah memenuhi batas (nisab).
  • Islam melarang riba dalam segala bentuk.

Tetapi secara keseluruhan, semuanya telah kembali ke dasar. Pertumbuhan ekonomi selalu bisa bergantung pada pelaku ekonomi. (Maulina Sri Wahyuni/JT)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: