METRUM
Jelajah Komunitas

Esperanto, Bahasa Perdamaian Dunia

“SALUTON! Kiel vi vartas?” Bahasa Esperanto merupakan bahasa asing yang sangat jarang sekali didengar ataupun diperhatikan oleh banyak orang, terlebih di Indonesia. Hal ini karena Bahasa Esperanto bukanlah bahasa asli atau dari negara manapun. Bahasa ini merupakan bahasa buatan dengan tujuan tertentu, lantas siapakah yang membuat dan apakah tujuannya?

Bahasa Esperanto sebenarnya bukanlah bahasa baru, karena bahasa ini sudah ada dan berkembang sejak tahun 1880-an. Bahasa Esperanto dibuat dan dikembangkan oleh seorang dokter asal Polandia L.L. Zamenhof yang pada saat itu tinggal di daerah yang cukup rawan konflik akibat perbedaan bahasa dan yang lainnya.

Berangkat dari hal itu, L.L. Zamenhof berinisiatif untuk membuat bahasa baru yang lebih mudah dipahami dan yang akan menyatukan perbedaan dilingkungan tersebut. Pada 26 Juli 1887, Zamenhof menerbitkan buku tata bahasa Esperanto pertama yang berjudul “Unua Libro” di Rusia.

Meskipun tidak begitu familiar, namun bahasa ini mampu menjadi pemersatu bagi warga dunia yang rindu akan perdamaian. Layaknya bahasa Indonesia yang menjadi pemersatu dari Sabang sampai Merauke, bahasa ini pun tidak pernah memicu adanya konflik perbedaan.

Bahasa Esperanto adalah bahasa yang netral karena tidak mewakili Negara atau menjadi identitas negara manapun. Selain itu, bahasa Esperanto juga menjadi bahasa yang paling mudah di dunia terlebih bagi pengguna Bahasa Indonesia maupun Eropa karena pelafalannya tidak jauh berbeda dan grammar-nya yang teratur. Cukup banyak kata-kata dalam bahasa Esperanto yang diambil dari bahasa Perancis, Portugis, Italia dan Inggris.

Hingga saat ini, Bahasa Esperanto sudah mencapai kurang lebih dua juta pengguna di seluruh dunia. Bahasa ini bernilai persahabatan, karena sejak awal bahasa ini dilahirkan dengan tujuan untuk menyatukan perbedaan serta memudahkan komunikasi antarwarga dunia yang rindu akan perdamaian. (Pika Sari/JT)***

komentar

Tinggalkan Balasan