METRUM
Jelajah Komunitas

Reaksi Pelaku Pariwisata terhadap Pengurangan Waktu Karantina PPLN

PEMERINTAH akan kurangi waktu karantina bagi pelaku perjalanan luar negeri (PPLN) yang sudah mendapat vaksinasi dan suntikan booster. Kebijakan ini diharapkan akan membangkitkan minat PPLN untuk kembali berwisata ke Indonesia. Bagaimana reaksi pelaku pariwisata dan diaspora Indonesia atas hal ini?

Dilansir dari VOA, Pemerintah Indonesia mencanangkan pengurangan waktu karantina dari lima hari menjadi tiga hari dan bahkan menghapuskannya per April 2022, meskipun masih mensyaratkan hasil PCR negatif Pelaku Perjalanan Luar Negeri (PPLN) menjelang kedatangan, saat tiba, dan keberangkatan dari Indonesia, serta bukti vaksinasi booster.

Komang Wahyu Suteja adalah pemilik jaringan lima hotel mewah, Komaneka di Ubud, yang salah satu hotelnya termasuk dalam lima hotel yang diperkenankan menjadi tempat karantina PPLN di Bali.

“Saya tidak mengerti apakah kemungkinan orang itu, terinfeksi di dalam pesawat itu gampang atau tidak, tapi menurut saya dia sudah PCR, kalau sudah negatif lalu di PCR lagi, kalaupun PCR itu menjadi syarat pada saat masuk, mungkin juga bisa diterima, tapi kalau sudah negatif seharusnya kan tidak usah karantina lagi,” ujarnya.

Pemilik jaringan hotel ini menambahkan, tidak seperti karantina terdahulu dan di wilayah lain, Bali saat ini memberlakukan Bubble Quarantine, yang memperbolehkan para tamu tidak hanya berada di dalam kamar hotel, namun bisa keluar di lingkungan hotel meskipun tidak diperkenankan melakukan aktivitas khusus, seperti berenang.

Meskipun hotel-hotel menyambut baik kebijakan baru karantina oleh pemerintah, ada keraguan bahwa pengurangan waktu karantina akan membawa perubahan signifikan pada Bali dalam waktu dekat.

Wayan Nawa dari Ayodya Hotel Resort di wilayah Kuta mengatakan, “Kalau menurut kita di sini sama saja. Tidak ada gunanya. Kan tidak ada pengunjung dari luar negeri juga. Yang jelas, sekarang masyarakat Bali sudah berdarah-darahlah bagi mereka yang di pariwisata.”

Ini karena penerbangan langsung ke Bali sebelumnya baru percobaan.

Flight (luar negeri) pertama itu baru tanggal (4/2) itu baru flight percobaan, jadi sebelumnya belum ada yang datang ke Bali, mulai tanggal 16/2, baru SQ (Singapore Airlines) datang, kita mau lihat besok bagaimana,” tambah Komang.

Terlepas dari terbatasnya penerbangan langsung ke Bali, diaspora Indonesia yang ada di Amerika menyambut baik pengurangan waktu karantina, yang memungkinkan kunjungan ke tanah air lebih maksimal.

Ida Ayu Ari Candrawati, penduduk New Jersey di Amerika, berencana pulang ke Indonesia. Ia mengatakan tidak keberatan dengan aturan PCR menjelang keberangkatan.

“Itu (PCR) perlu untuk menjaga keamanan kita dan penumpang yang lain,” tukasnya.

Pemerintah Indonesia mengatakan akan terus memantau dan masih menjajaki kebijakan penghapusan karantina terbaru ini dengan mempertimbangkan situasi pandemi, yang diharapkan berangsur membaik. (M1-VOA/my/ka)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.