BERBAGAI sepeda dengan spesifikasi khusus hingga berteknologi mutakhir terus bermunculan. Akan tetapi, perkembangan ini tidak mempengaruhi para penggemar sepeda tua khususnya di Kota Bandung beralih kayuhan. Kecintaan akan nilai histori adalah salah satu alasan mereka mempertahankan sepeda tua miliknya lalu membentuk perhimpunan.
Awalnya, sekira tahun 2004, beberapa orang di antara mereka acap bersua di pasar-pasar loak seperti di Jalan Astana Anyar, Malabar, seputaran Pusdai Jabar, Cihapit hingga Jatayu Kota Bandung. Mereka antara lain Ricky H Wijaya yang kelak dipilih menjadi ketua pertama, Dodo Wahyudin, Toto Suharto, Asep Hendra, Mungin, Yadi Supriyadi dan Bambang Ariffianto. Selain sepeda tua, mereka pun menggemari barang-barang antik.

Sejak saat itu, jalinan silaturahmi perlahan mekar dan terus mengembang. Kebersamaan dan seringnya mereka berkumpul lambat laun mampu menarik para penyuka sepeda tua di Kota Kembang dan sekitarnya. Mereka, di setiap ada luang berkumpul selalu berkisah satu sama lain tentang sepeda miliknya.
Cuplikan-cuplikan cerita di antaranya terkuak pada sepeda apa yang didapat, dari siapa, kapan, di mana, tahun berapa hingga bagaimana sepeda itu masih ada di tangannya masing-masing. Malah dikisahkan, ada sepeda tua sudah masuk dalam gudang barang-barang rongsok dan siap “dimutilasi” tetapi masih bisa terselamatkan.
Maklum, pada tahun 1980-an, khususnya di Bandung sepeda-sepeda tua itu seperti mati suri atau malah benar-benar mati. Tak seperti ketika kereta angin menjadi transportasi primadona kala Bandung tempo dulu hingga tahun 1970-an.
Setelah era itu, sepeda tua yang dikayuh sebagai alat transportasi sedikit sekali. Para perintis yang sebagian mengalami masa ini, menjadi saksi betapa pengguna sepeda begitu menurun drastis. Pengendara sepeda tua yang hilir mudik di jalanan kota bisa dihitung jari.
Sebaliknya, sepeda dalam kondisi tak menentu justru lebih banyak jumlahnya. Tak sedikit sepeda tua yang diselimuti debu tebal di gudang, digantung dalam kondisi yang memprihatinkan dan menjadi sarang laba-laba, terpenjara di atas ruang di antara langit-langit dan genting hingga teronggok berlumur karat diterpa angin, air dan cuaca. Sepeda tua seakan tak lagi berharga.

Akan tetapi, nilai sejarah yang melekat pada sepeda tua tak bisa dibandingkan dengan sepeda jenis terbaru. Ragam kisah dari tiap sepeda itulah yang menjadi salah satu alasan para penggemar sapédah baheula makin mencintai dan melestarikan sepedanya. Sepeda mereka ada yang diperoleh dari warisan orang tua, kakek dan nenek, berburu dari gudang toko sepeda zaman dulu atau sepeda yang sengaja dicari hingga pelosok-pelosok. Lambat laun, sepeda-sepeda tua itu “hidup” lagi dan bersemi kembali.
Dari waktu ke waktu jumlah pengguna sapédah baheula yang berkumpul kian bertambah hingga mencapai 35 orang. Obrolan yang diperbincangkan tak lagi hanya sebatas soal sepeda tetapi juga bagaimana agar jalinan silaturahmi itu semakin erat. Akhirnya, mereka berinisiatif dan sepakat membentuk wadah silaturahmi para penggemar sepeda zaman baheula khususnya di Bandung tepat pada 31 Januari 2005 dengan nama Paguyuban Sapedah Baheula Bandoeng (PSBB).
Para Pendiri PSBB
Berikut adalah nama-nama pendiri Paguyuban Sapedah Baheula Bandoeng berurut menurut abjad:
- Aan Tjandradinata
- Acep Sukmana
- Ade “Gruno” Sukamto
- Asep Berlinar
- Asep Ismail
- Asep Abdurahman
- Asep “Simplex” Hendra
- Bambang “Jawis” Ariffianto
- Dikdik Ahmad Sodikin
- Dodo Wahyudin
- EH Willy
- Febri
- Hendra
- Herman Sunarto
- Kuswendi
- M “Ate” Abdillah
- Muklis L. Gofur
- Mungin
- Randi Wahyudi
- Ricky Hilmansyah Wijaya
- Rudi Valentino
- Sachroni
- Samingan
- Sudirman
- Sugiyono Priko
- Sukirman
- Suradi
- Toto Suharto
- Udin Saefudin
- Ujang Suratman
- Ucke Fandi Haryantedi
- Wahyudin
- Yadi ‘Abah Idoy’ Supriyadi
- Yahya ‘Aboy’Johari
- Yayan *
Ketua/Residen PSBB dari Masa ke Masa

Ricky H Wijaya (2005-2009)
Yahya “Aboy” Johari (2009-2012, 2012-2015, 2015-2018)

Wahab Romli (2018-2021)*
(M1/Sumber: I-0323 – sapedahbaheula.com)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.