METRUM
Jelajah Komunitas

Sejarah Terbentuknya Lapangan Gasibu

WARGA Bandung, atau yang berlibur ke “Kota Kembang” ini, pasti tahu lapangan Gasibu. Lapangan ini terletak tepat di depan Gedung Sate.

Biasanya, lapangan Gasibu digunakan masyarakat untuk berolahraga, nongkrong, swafoto, dan beberapa kegiatan-kegiatan besar lain. Namun, banyak orang yang tidak tahu akan sejarahnya.

Berdasarkan buku Album Bandung Tempoe Doeloe karya Sudarsono Katam, pada zaman Belanda, lapangan itu awalnya bernama Wilhelmina Plein (lapangan Wilhelmina). Nama itu diambil dari Ratu Belanda.

Sekitar tahun 1950-an, nama lapangan berganti menjadi lapangan Diponegoro.

Namun, karena sering digunakan perkumpulan sepak bola Bandung Utara, masyarakat akhirnya mengenal lapangan itu sebagai Gasibu (Gabungan Sepak Bola Indonesia Bandung Utara).

Untuk mengelolanya, saat itu dibentuk panitia kecil yang terdiri dari PORL (Persatuan Olahraga Rukun Luyu dari Balubur), PAKSI dari Sekeloa, PORAS dari Sadang Serang.

Lapangan ini sempat menjadi kawasan tempat tinggal liar pada 1960-an. Lalu, pemerintah mengembalikan fungsinya sebagai tempat berlatih sepak bola.

Posisi lapangan Gasibu merupakan penghubung Gedung Sate dengan taman yang membentang hingga Kampus Universitas Padjadjaran (Unpad). Oleh karena itu, lapangan ini sering dijadikan sebagai tempat berkumpul masyarakat kota Bandung.

Gasibu sempat menjadi ajang tempat berjualan para pedagang kaki lima. Namun saat ini, setelah revitalisasi, Pemerintah melarang berjualan atau menggelar acara-acara besar di lapangan Gasibu.

Pelarangan itu tercantum dalam Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 5 Tahun 2011 tentang Kebersihan, Ketertiban, dan Keindahan (K3) Kota Bandung. (M1)***

komentar

Tinggalkan Balasan