METRUM
Jelajah Komunitas

Semiotika Musik Indonesia: Musik Indie & Literasi dalam Syair Balada

FENOMENA perkembangan budaya dan kemajuan digital yang diikuti masifnya penggunaan media sosial dapat menjadi kunci untuk saling mendukung eksistensi musik balada. Distribusi karya musik balada melalui jalur indie di era digital ini sangat memungkinkan, salah satunya melalui platform Youtube.

Pernyataan itu mencuat dalam seminar daring ”Semiotika Musik Indonesia: Musik Indie dan Budaya Literasi dalam Syair Balada”, akhir Juni lalu. Sejumlah tokoh musik dan budayawan membahas musik balada sebagai karya seni yang berbentuk narasi musik.

Budayawan asal Bandung Herry Dim menjelaskan, kekuatan karya musik balada memang ada dalam guratan lirik yang menggugah empati pendengarnya. Dengan kata lain, lirik atau syair lagu dalam musik balada terangkai dari deretan kata-kata yang memiliki makna.

Ia menambahkan, musik murni dikategorikan sebagai musik yang tidak mengandung lirik. Sementara musik yang mengandung lirik masuk sebagai kategori balada. Secara historis, narasi yang di bawa musik balada mulai berubah sejak seabad lalu.

Secara khusus, balada merupakan karakteristik dari puisi dan lagu populer dari Kepulauan Inggris pada abad pertengahan. Saat industri masuk pada abad ke-19, narasi dan pengisahan legenda bergeser hanya tentang kisah-kisah percintaan. Kisah-kisah seperti ini yang mulai bergerak ke arah populer.

Herry Dim (Capture Webinar).*

”Yang membedakan (balada) dengan lagu-lagu populer biasa yaitu lagu populer ukurannya adalah orang akan suka atau tidak suka. Sementara lagu balada, ukurannya adalah empati. Kekuatannya dari kata-kata yang kemudian ’membetot’ rasa ingin mengubah situasi. Di situlah kita melakukan pendidikan kepada publik,” kata Herry.

Balada perlahan kembali pada fitrahnya di pertengahan abad ke-20. Hal tersebut ditandai dengan munculnya gerakan pemuda yang muak dengan kemapanan dan perang di era 1960-an.

Herry pun menyinggung perkembangan budaya dan kemajuan digital yang diikuti masifnya penggunaan media sosial. Fenomena ini, menurut dia, dapat menjadi kunci untuk saling mendukung eksistensi musik balada secara indie.

Pada seminar daring yang diselenggarakan oleh Fikom Unisba bekerja sama dengan Rumah Balada Indonesia (RBI) dan PR Institute tersebut, hadir juga gerilyawan kesenian Ary Juliyant sebagai narasumber.
Ary berpendapat, maraknya kemunculan pemusik berlabel indie justru memunculkan salah kaprah pada konsep indie. Alih-alih berorientasi pada semangat membangkitkan empati, justru orientasinya malah kembali kepada industri.

”Jelinya orang industri justru memberikan bias pada makna indie yang bukan lagi suatu gerakan, melainkan sebagai gaya musik,” ujarnya.
Sependapat dengan Herry Dim, Ary pun menilai jika distribusi karya musik balada melalui jalur indie kini sangat memungkinkan di era digital, salah satunya melalui platform Youtube.

Protes sosial

Akademisi Fikom Unisba sekaligus peminat semiotika, Alex Sobur menyatakan, narasi dalam musik balada berisikan suara-suara protes sosial. Eksistensi musik balada yang kini mulai muncul ke permukaan akan membuat masyarakat mengenal mereka.

”Hukum alam yang akan memilih antara musik yang mencerah kan masyarakat atau yang abal-abal. Juga kualitas musik dari ke kuatan lirik dan melodi. Tidak lagi ditentukan apakah mereka indie label atau major label,” ujarnya.

Meskipun demikian, Alex memberi catatan. Budaya literasi dalam syair balada ini perlu terus dibangun agar tetap menjadi musik alternatif khalayak yang mengedukasi para pendengarnya. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama apik di berbagai bidang meng ingat masih kurangnya literatur musik selama ini yang masih hanya dikenal sebagai hiburan.

Seminar daring yang juga didukung penuh oleh Penerbit Erlangga, HITS Unikom Radio 103.3 FM, Maxtream TV, Metrum Radio, Pikiran Rakyat Media Network, dan Pikiran-Rakyat.com ini berlangsung hidup dengan dipandu oleh Yuni Mogot Prahoro selaku moderator.

Respons positif pun disampaikan banyak peserta yang tidak hanya berasal dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi (guru dan dosen), seniman, hingga mahasiswa. Tidak ketinggalan yang menjadi daya tarik peserta adalah hadirnya aktor dan musisi balada Egi Fedly selaku penasihat Rumah Balada Indonesia yang hadir sebagai pemantik diskusi. (M1-M.Fikry Mauludy/”PR”, 6/8/2020)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.