METRUM
Jelajah Komunitas

Sepeda Solusi Transportasi Berkelanjutan

DALAM sebuah catatan di media sosial, Bike to Work Indonesia menyebutkan banyak pihak yang berpikiran bahwa bersepeda adalah cara berbahaya untuk menggunakan jalan. Diakui atau tidak, inilah yang menjadi alasan mengapa sepeda dicoret sebagai sarana transportasi.

Tentu saja itu sebuah kekeliruan besar. Dalam kenyataanya, kota dengan pengguna sepeda yang jumlahnya cukup besar justru memiliki jalan yang aman. Bukan saja aman bagi pejalan kaki, melainkan juga bagi pengguna kendaraan bermotor.

Program Jum’at Bersepeda (Foto: Dok. Budijo BBJ).*

Sebuah riset di bawah Wesley Marshall, professor dari university of Colorado, Denver pada tahun 2011 di Journal of Transport & Health, kesimpulan penelitiannya menyebutkan, “Makin banyak pesepeda di jalan, keamanan berlaku pula bagi pengguna jalan lain”.

Solusi untuk Kota Bandung

Ketua Bike To Work (B2W) Indonesia memaparkan, banyak kota di Indonesia belum bisa dikatakan sebagai kota sehat, salah satunya Kota Bandung. Hal ini disebabkan:

  • Kerugian akibat Kemacetan mencapai 4,6 triliun per tahun.
  • Data mayoritas kecelakaan bersepeda akibat tabrakan masih terjadi.
  • Sepedah masih dianggap sebagai alat rekreasi dan hobi, belum menjadi alat transportasi. Mayoritas orang bersepeda adalah di akhir pekan.
  • Budaya bike to work masih belum menjadi alternatif untuk menurunkan kemacetan.

Oleh karena itu, B2W mengimbau masyarakat untuk menjadikan sepeda sebagai alat transportasi, bukan hanya sebagai alat rekreasi.

Bersepeda ke berbagai aktivitas.*

Lebih jauh, B2W juga mengkritisi Peraturan Menteri Perhubungan No. 59. Intinya, dari semua regulasi yang dibuat, belum bisa menggambarkan aspek keselamatan bersepeda.

Sebagai contoh, dalam isi pasal salah satunya menyebutkan bahwa pemasangan fender/spakbor adalah wajib untuk keselamatan, padahal pada substansinya fender/spakbor tidak ada kaitannya langsung dengan keselamatan melainkan estetika dan kenyamanan.

Agar pesepeda bisa memahami permenhub tersebut, maka pesepeda dan komunitas kiranya harus membedah isinya dan dijadikan bahan diskusi bersama. Dengan masih perlu adanya penyempurnaan peraturan tersebut, B2W Indonsesia sudah melayangkan surat kepada pihak yang berwenang dalam melakukan perbaikan-perbaikan sehingga peraturan tersebut bisa menginterpretasikan keamanan bagi para pesepeda.

Sementara itu, menurut Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia Wilayah Provinsi Jawa Barat, Ir. H. Sony Sulaksono Wibowo, MT, PhD, mengatakan bahwa ada beberapa strategi yang bisa diambil dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan khususnya di Kota Bandung, pertama, menggunakan angkutan umum. Kedua, mengurangi kegiatan di luar rumah. Artinya, lebih memilih memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan metode online sehingga meminimalisir penggunaan kendaraan keluar rumah, dan ketiga, menggunakan sepeda untuk berbagai aktivitas.

Lebih lanjut Sony menjelaskan, dengan strategi tersebut, yang bisa kita peroleh adalah mengefisienkan ruang di jalan, mendorong masyarakat untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi bermotor dan meminimalisir penggunaan bahan bakar dari fosil.

Hanya saja dalam pelaksanaannya, Sony mengungkapkan beberapa permasalahan, khususnya yang terjadi di Kota Bandung, yakni:

  • Pengurangan ruang jalan baik untuk sepeda maupun pejalan kaki.
  • Volume kendaraan lebih besar daripada kapasitas jalan.
  • Ketidakdisiplinan para pengguna jalan.

Oleh sebab itu, harus ada solusi yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut. Sony mengingatkan, tidak ada solusi yang bersifat tunggal, semua elemen transportasi harus terintegrasi.

Di Kota Bandung, perbaikan infrastruktur sudah hampir 75%, namun belum terintegrasi dengan baik. Sepeda sebagai salah satu bagian dari transportasi berkelanjutan sudah menjadi salah satu program pemerintah. Pemerintah Kota Bandung telah membenahi berbagai fasilitas untuk bersepeda, mulai dari dibuatnya jalur sepeda, dibangunnya beberapa spot shelter sepeda, bike sharing, hingga jalur pejalan kaki.

Pemaparan di atas disampaikan dalam seminar yang bertajuk “Gerakan Bersepeda dan Sosialisasi Permenhub No.59 Tahun 2020 tentang Keselamatan Pesepeda di Jalan” yang diadakan oleh Dinas Perhubungan Kota Bandung, pada Rabu (18/11/2020) di Arion Swiss Hotel. Acara dihadiri sekitar 80 pegiat pesepeda dari berbagai komunitas pesepeda yang tergabung dalam Forum Komunikasi Komunitas Pesepeda se-Bandung Raya. 

Bike to Seminar (Foto: Dok. Budijo BBJ).*

Kegiatan seminar diawali dengan bersepeda bersama di pagi hari bertema “Bike to Seminar” sebagai bagian dari kampanye sepeda untuk solusi transportasi berkelanjutan. Gowes sepanjang kurang lebih 6 kilometer dari Portal Sepeda Jalan Pelajar Pejuang 45 No. 43 menuju tempat lokasi seminar melalui jalan Pelajar Pejuang – Talaga Bodas – Burangrang – Simpang Lima – Asia Afrika – Alun-alun – Sudirman – Gardujati – Pasirkaliki – Pajajaran – Cicendo – Kebon Kawaung/Jalan Otista.

Mari jadikan sepedamu sebagai moda tranportasi kemana saja, ke tempat kerja, ke kampus, ke sekolah, dan berbagai aktivitas lainnya. Salam boseh dan go green. Tetap sehat dan semangat. Semoga pandemi segera berlalu.(Cuham, Bersepeda Itu Baik)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: