METRUM
Jelajah Komunitas

Suku Aztec, Suku yang Melakukan Ritual Pengorbanan Manusia

SUKU Aztec merupakan suku yang berada di dunia sejak awal abad ke-13. Suku Aztec menyebut dirinya sebagai “Mexica” yang konon bakal menjadi asal muasal nama negara Meksiko. Suku Aztec diyakini merupakan sebuah suku nomaden yang berasal dari Aztlan, Mexico Utara. Suku Aztec memulai peradabannya setelah melihat seekor elang yang bertengger di tanah berawa daerah Danau Texcoco. Kehadiran elang tersebut diyakini merupakan sebuah tanda, bahwa mereka harus membangun pemukiman di tanah tersebut.

Suku Aztec menjalani kehidupannya dengan cara bertani, berburu hewan, dan juga memancing. Hasil pertanian mereka berupa jagung, labu, kentang, alpukat, dan tomat. Suku Aztec pada zaman itu sudah memiliki sebuah sistem pertanian yang canggih dan juga memiliki sistem irigasi yang baik. Meskipun memiliki peradaban yang baik, Suku Aztec memiliki sebuah tradisi yang cukup mengerikan, yaitu tradisi pengorbanan manusia.

Pada dasarnya, ritual pengorbanan manusia hingga kini masih diperdebatkan oleh para sejarawan dan juga ilmuwan. Suku Aztec sendiri memiliki kepercayan terhadap banyak dewa, di antaranya Huitzilopochtli (dewa perang dan matahari) dan Quetzalcoatl, Dewa Toltec yang memegang peranan penting dalam kepercayaan Aztec selama bertahun-tahun.

Dewa-dewa yang dipercaya Suku Aztec (Sumber: www.twinkl.cl).*

Namun, banyak bukti menunjukan bahwa Suku Aztec, memang melakukan ritual pengorbanan manusia. Bukti-bukti ini juga diperkuat dengan adanya sejumlah catatan Spanyol dan penduduk asli yang disusun selama penaklukan Meksiko, bersamaan dengan bukti artefak arkeologi.

Suku Aztec melakukan pengorbanan manusia demi kelangsungan hidup mereka. Menurut kosmologi Aztec, dewa matahari Huitzilopochtli mengobarkan perang terus-menerus melawan kegelapan, dan jika kegelapan menang, dunia akan berakhir. Agar matahari tetap bergerak melintasi langit dan melestarikan kehidupan mereka, suku Aztek harus memberi makan Huitzilopochtli dengan jantung dan darah manusia.

Selain itu, ritual ini memiliki tujuan lain dalam perluasan kerajaan abad ke-15 dan ke-16, yakni intimidasi. Pembunuhan ritual tawanan perang dan pameran tengkorak dalam skala besar adalah pengingat mendalam akan kekuatan kekaisaran dan luasnya kekuasaannya.

Selain melakukan praktik pengorbanan manusia, Suku Aztec juga diduga mempraktikan suatu bentuk ritual kanibalisme. Mayat korban yang telah menjadi hadiah bagi Dewa, diberikan kepada para bangsawan dan anggota masyarakat lainnya.

Epidemi pada akhrinyalah yang mengalahkan Suku Aztec. Epidemi yang menghabiskan Suku Aztec ini dinamakan cocolitzi. Dalam Bahasa Aztec disebut dengan Nahuatl. Kata cocoliztli memiliki arti wabah penyakit. Serangan dari cocolitzi ini membuat 15 juta orang atau hampir 80 persen dari total populasi Suku Aztec terbunuh hanya dalam waktu lima hari. Cocolitzi menyerang suku Aztec dengan memicu demam tinggi, sakit kepala dan pendarahan pada mulut, hidung hingga mata. (Muhammad Fadli Sinatrya/JT)***

komentar

Tinggalkan Balasan