METRUM
Jelajah Komunitas

Survei LSI: 36,4% Warga Enggan Divaksinasi Karena Khawatir Efek Samping

Lembaga Survei Indonesia (LSI) mengungkapkan 36,4 persendari sekitar 82,6 persen warga yang belum divaksin, memang enggan divaksin karena khawatir akan efek sampingnya.

PALU, SULAWESI TENGAH – Survei nasional oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) menemukan bahwa mayoritas publik setuju dengan program vaksinasi COVID-19, tetapi masih banyak yang menyatakan tidak bersedia divaksin dengan berbagai alasan.

Survei dilaksanakan pada 20 hingga 25 Juni 2021 melibatkan 1.200 responden dari 34 provinsi di Indonesia dengan toleransi kesalahan kurang lebih 2,88 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI), Djayadi Hanan. (Foto: tangkapan layar/Petrus Riski-VOA).
Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI), Djayadi Hanan (Foto: tangkapan layar/Petrus Riski-VOA).*

“Yang mengaku belum divaksin lebih dari delapan persen. Ini yang menarik dari yang 80 persen, ini masih banyak yang tidak bersedia untuk divaksin, masih 36 persenan,” kata Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan dalam Rilis Temuan Survei Sikap Publik Terhadap Vaksin dan Program Vaksin Pemerintah, Minggu (18/7/2021), seperti dilansir dai VOA.

Dijelaskannya, alasan mereka yang tidak mau divaksin adalah karena takut efek samping vaksin (55,5 persen), menganggap vaksin itu tidak efektif (25,4 persen), dan yang merasa badannya sehat-sehat saja jadi tidak perlu vaksin (19 persen).

“Itu tiga alasan terbesar, di luar itu ada yang mempersoalkan meragukan kehalalannya kemudian ada yang merasa takut akan membayar untuk memperoleh vaksin itu,” sambung Djayadi Hanan.

Petugas Kesehatan Polda Sulawesi Sulawesi Tengah saat memberikan vaksinasi COvid-19 bagi warga Kota Palu di Taman GOR, Kota Palu. Jumat (4/6/2021). (Foto: VOA/Yoanes Litha)
Petugas Kesehatan Polda Sulawesi Sulawesi Tengah saat memberikan vaksinasi COvid-19 bagi warga Kota Palu di Taman GOR, Kota Palu. Jumat (4/6/2021) (Foto: VOA/Yoanes Litha).*

Survei itu juga mengungkapkan pandangan responden (68,6 persen) yang mayoritas percaya bahwa vaksin dapat mencegah penularan virus corona. Meskipun demikian masih terdapat 23,5 persen yang tidak percaya vaksin mampu mencegah penularan. Ketidakpercayaan responden terhadap efektivitas vaksin cukup tinggi di wilayah Sumatera, Jawa Timur dan Sulawesi.

Tingkat kepercayaan terhadap perlunya vaksin untuk mencegah penularan cukup tinggi di wilayah yang sedang menjalani Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat

Di sisi yang lain, survei LSI juga mengungkap sebanyak 70,9 persen responden merasa sangat besar kemungkinan kehidupannya menjadi lebih buruk karena pengaruh ekonomi wabah COVID-19. Mayoritas responden dalam survei itu merasa virus corona sangat mengancam ekonomi dan kesehatan warga Indonesia.

Reaksi seorang siswa saat petugas medis memberikan suntikan vaksin Sinovac COVID-19 saat kampanye vaksinasi untuk anak-anak berusia 12-17 tahun di sebuah sekolah di Tangerang, Rabu, 14 Juli 2021.(Foto: AP)
Reaksi seorang siswa saat petugas medis memberikan suntikan vaksin Sinovac COVID-19 saat kampanye vaksinasi untuk anak-anak berusia 12-17 tahun di sebuah sekolah di Tangerang, Rabu, 14 Juli 2021 (Foto: AP).*

Peningkatan Kasus Pengaruhi Kesediaan Warga Divaksin

Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto menyebut survei LSI itu selaras dengan situasi yang ditemui di lapangan. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bogor pada tahun 2020 menemukan ada sekitar 19 persen warga kota Bogor yang tidak percaya adanya COVID-19, sedangkan 50 persen warga ragu-ragu.

Wali Kota Bogor Bima Arya. (Foto: Courtesy/Instagram@bimaaryasugiarto)
Wali Kota Bogor Bima Arya (Foto: Courtesy/Instagram@bimaaryasugiarto).*

“Ini juga selaras ya, dulu jangankan bicara vaksin, bicara COVID-19 saja orang tidak percaya, jadi bayangkan ya bagaimana kami di lapangan berhadapan dengan mayoritas warga yang tidak percaya COVID-19. Nah hari ini karena kondisinya memburuk, lingkaran yang terpapar COVID-19 semakin dekat maka orang dibuat percaya,” papar Bima Arya.

Menurutnya saat ini warga antusias untuk mendapatkan vaksinasi. Upaya edukasi terus dilakukan dengan memperlihatkan fakta dan data bahwa kasus warga yang meninggal saat isolasi mandiri (isoman), sebagian besar belum divaksin. Wali Kota Bogor itu tidak merinci detail warga yang meninggal saat isolasi mandiri.

“Jadi data inilah yang kami sebarkan ke mana, data-data seperti ini, bahwa jika Anda ingin selamat ya silakan segera divaksin. Vaksin itu aman dan sekarang berbondong-bondong orang mengikuti vaksin,” ujarnya.

Menurutnya saat ini target vaksinasi di Kota Bogor sudah mencapai hampir 27 persen dari target 819.454.

Covid.19.go.id melaporkan hingga 18 Juli 2021 dari 208,2 juta target sasaran vaksinasi nasional, sebanyak 41,6 juta orang telah mendapatkan vaksinasi pertama dan 16,2 juta orang telah mendapatkan vaksinasi kedua.

Menurut WHO, efek samping vaksin COVID-19 yang dilaporkan sebagian besar berupa gejala ringan hingga sedang dan berlangsung dalam waktu yang singkat. Efek sampingnya meliputi: demam, keletihan, sakit kepala, nyeri otot, panas dingin, diare dan nyeri pada bagian yang disuntik.

Seorang perempuan menerima satu dosis vaksin AstraZeneca COVID-19 saat program vaksinasi massal untuk Kawasan Wisata Hijau di Sanur, Bali, 23 Maret 2021. (Foto: REUTERS/Nyimas Laula)
Seorang perempuan menerima satu dosis vaksin AstraZeneca COVID-19 saat program vaksinasi massal untuk Kawasan Wisata Hijau di Sanur, Bali, 23 Maret 2021 (Foto: REUTERS/Nyimas Laula).*

Kemungkinan munculnya efek samping di atas setelah vaksinasi berbeda sesuai jenis vaksin COVID-19.

Efek samping vaksin dengan gejala yang lebih serius dan berlangsung lama mungkin dapat terjadi, tetapi kasus tersebut sangatlah langka. Vaksin terus menerus dipantau untuk mendeteksi efek samping yang jarang terjadi. (M1-VOA/yl/em)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: