Tak Semanis Drakor, Ini 5 Fakta Kehidupan di Korea Selatan yang Mengejutkan
PERSEPSI mengenai Korea Selatan yang ditangkap dalam benak orang biasanya penuh hiburan dan kesenangan ataupun romantisme layaknya drama Korea yang penuh dengan momen manis dan membuat penonton histeris bahagia.
Setiap pecinta drama Korea atau Korean Pop (K-pop) tentu banyak yang menginginkan kehidupan seperti di Korea Selatan karena melihat tayangan indah dan menyenangkan di televisi atau sosial media. Selain itu, Korea Selatan merupakan negara maju yang sarat teknologi, namun masyarakatnya tidak meninggalkan budaya tradisionalnya.
Ternyata, menurut OECD Better Life Index, Korea Selatan ini menjadi salah satu negara yang berada di peringkat terbawah dalam tingkat kebahagiaan warganya. Padahal seperti yang diketahui Korea Selatan ini penuh dengan kebahagiaan dan hiburan. Mengapa hal itu bisa terjadi? Berikut rangkuman 5 fakta kehidupan di Korea Selatan.
Senioritas hingga bullying
Sebagai negara yang menganut konfusianisme, ternyata Korea Selatan ini masih memegang dan mempraktikkan budaya senioritas hingga kepada kasus bullying. Senioritas ini sering kali terjadi ketika di pergaulan sekolah hingga pekerjaan.
Korea selatan juga menjunjung tinggi budaya untuk menghormati orang yang lebih tua, meskipun terdengar sangat baik namun ada saja segelintir orang yang menyalahgunakan budaya tersebut sehingga menyebabkan konflik.
Para penggemar K-pop tentu mengetahui dan pernah mendengar kasus bullying yang mana junior bersikap pada senior mereka yang sangat superior. Dan juga tak disangka sering kali ada beberapa Idol yang tersandung skandal bullying meskipun hal itu terjadi di masa lampau, misalnya terjadi ketika masa-masa sekolah dahulu.
Standar kecantikan yang tidak realistis
Jika berpikir mengenai orang Korea, tentu banyak orang yang berasumsi bahwa orang Korea itu memiliki paras yang cantik dan tampan sehingga menjadi orang yang rupawan dan menawan. Terlebih lagi jika melihat para aktor dan aktris di drama Korea. Hal tersebut memang menjadi sesuatu yang lumrah, akan tetapi ada sejumlah orang Korea Selatan yang terobsesi dan sangat terpaku dengan standar kecantikan tertentu sehingga mereka rela melakukan operasi plastik dan melakukan berbagai cara untuk tampil lebih cantik dan tampan lagi.
Tidak ada kata bersantai
Orang Korea Selatan juga ternyata memiliki sifat yang sangat kompetitif dalam segala hal, tidak hanya di bagian akademik namun juga fashion atau pekerjaan. Hal tersebut membuat masyarakat Korea Selatan dikenal sebagai budaya yang kompetitif atau berlomba untuk cepat selesai sehingga menyebabkan mereka tidak bisa bersantai dan mengisi waktunya dengan pekerjaan penuh. Seperti yang sering beredar foto di media sosial, seluruh hal yang orang Korea Selatan lakukan harus sesuai dengan jadwal sehingga seringkali terlihat foto atau video ketika di stasiun subway pada jam kerja, dipenuhi oleh orang-orang yang berlarian tanpa memperhatikan sekitar hanya fokus pada pekerjaan untuk bisa mencapai tujuan. Sebetulnya hal tersebut bagus, namun jika berlangsung terus-menerus akan mengakibatkan tekanan pada hidup.
Tingginya tingkat bunuh diri
Menurut data yang diambil dari Badan Kesehatan Dunia atau WHO menunjukkan ada 800.000 orang di dunia meninggal karena bunuh diri setiap tahunyna. Pada tahun 2021 ini, Korea berada diurutan ke-4 dengan kasus bunuh diri terbanyak, negara yang memiliki penduduk 52 juta jiwa ini memiliki indeks angka bunuh diri hampir 26 per 100 ribu orang. Kebanyakan hal tersebut dipengaruhi faktor depresi dari pekerjaan, pendidikan dan masalah keluarga.
Jika dikaitkan dengan budaya orang Korea Selatan yang ‘kompetitif’ tentu hal tersebut berdampak buruk pada masyarakatnya, karena jika tidak bisa tepat waktu memungkinkan dapat meningkatkan rasa stress dan depresi pada diri sendiri. Kasus bunuh diri di Korea Selatan ini tidak hanya pada orang-orang biasa, akan tetapi sering kali terjadi pada publik figur dan selebriti.
Kesenjangan pendapatan
Dengan semakin canggihnya teknologi di Korea Selatan sekaligus pesatnya perkembangan di dunia entertainment, dapat dikatakan bahwa Korea Selatan menjadi negara yang makmur karena pertumbuhan ekonomi mereka yang sangat baik dan terbantu oleh budaya mereka, khususnya di industri hiburan.
Meskipun memiliki ekonomi yang baik, ternyata menurut OECD Better Life Index, terdapat kesenjangan yang cukup tinggi di dalam masyarakat Korea Selatan dengan membedakan strata sosial mereka. Sekitar 20 persen populasi terkaya memiliki penghasilan 5 kali lipat dari 20 persen termiskin.
Tak disangka meskipun banyak orang yang berasumsi bahwa kehidupan di Korea Selatan penuh dengan kebahagiaan dan kesenangan, ternyata masih ada sisi gelap yang mungkin belum banyak diketahui orang terkait kehidupan yang sebenarnya. (Deonisius Berkham/JT)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.