METRUM
Jelajah Komunitas

Talkshow Profauna: Peringatan Hari Orangutan Sedunia

TALKSHOW Profauna Indonesia episode#7 pada Minggu, 18 Agustus 2019, Pukul 14.00 hingga 16.00 WIB di Metrum Radio membahas tentang Peringatan Hari Orangutan Sedunia. Bincang-bincang menghadirkan narasumber Dandi Supriadi (Aktivis Profauna Jawa Barat) dan dipandu host Mumu Mujahiddin.

Orangutan merupakan satwa asli asal Asia. Pada zaman dahulu, orangutan tersebar diseluruh Asia, namun sekarang ini mereka hanya dapat ditemukan di Pulau Borneo, Pulau Sumatera, dan sedikit terdapat di Serawak, Malaysia. Kondisi orangutan begitu memprihatinkan, karena faktanya populasi mereka sangat sedikit.

Pada tahun 2013, organisasi internasional yang bergerak menangani masalah konservasi, penelitian dan restorasi lingkungan, yaitu World Wide Fun for Nature, atau kerap disingkat WWF, menetapkan 19 Agustus sebagai Hari Orangutan Sedunia. WWF berpendapat bahwa orangutan perlu untuk diperingati oleh seluruh manusia di dunia dalam rangka mengingat betapa krisisnya kondisi orangutan.

Apabila digolongkan berdasarkan jenis, satwa bernama latin pongo ini termasuk kedalam jenis kera besar. Di Indonesia sendiri sudah banyak kasus penyimpangan yang dilakukan terhadap pongo, Si Kera Besar tersebut. Keberadaan pongo dilindungi oleh Undang-Undang No.5 Tahun 1990. Namun kenyataannya peraturan tersebut tidak sepenuhnya dapat melindungi orangutan dari tangan-tangan oknum.

Berkurangnya populasi orangutan di alam setidaknya dapat disebabkan oleh dua hal, yakni penghilangan habitat karena dialihfungsikan oleh manusia menjadi lahan produktif. Biasanya dengan dijadikan kebun sawit.

Kedua, disebabkan oleh perburuan. Manusia memburu orangutan biasanya didasari beberapa alasan, antara lain; menganggap orangutan sebagai hama. Justru sebenarnya orangutan turun ke permukiman manusia karena habitatnya sendiri telah dialihfungsikan oleh manusia.

Selain alasan tersebut, orangutan pun diburu karena dapat mengganggu kebun sawit, kemudian untuk diperjualbelikan, dan yang paling miris mereka diburu untuk dikonsumsi.

“Orang utan adalah satwa yang dilindungi. Oleh karena itu, tidak boleh dijamah manusia. Jika memang dalam upaya konservasi harus ditempatkan di lokasi yang mirip habitatnya. Jangan di kandang yang bawahnya semen. Lembaga konservasi seperti kebun binatang dan ekowisata harus benar-benar mengerti,” tukas Dandi.

Dandi menambahkan, orangutan seringkali dieksploitasi di tempat ekowisata, seperti diajak foto bareng, dipangku atau diberi makan oleh pengunjung. Sesuai amanat undang-undang, satwa liar harus dibiarkan hidup secara alamiah.

Selain itu, DNA orangutan itu mirip 97% dengan manusia. Karenanya, hati-hati dengan zoonosis, penyakit yang bisa saling menularkan antara manusia dan hewan.

Untuk menyimak secara lengkap bincang-bincang tentang orangutan ini, Metronom dapat mendengarkan podcast Talkhow Profauna tentang Peringatan Hari Orangutan Sedunia di link berikut ini:

Selamat menyimak! (Anisa Risdayanti)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: