METRUM
Jelajah Komunitas

Tantangan Berat Indonesia Menuju Asian Games 2023

Berkaca pada Hasil Kejuaraan Balap Sepeda Asia ke-35/2023 di Thailand

RAYONG, THAILAND (METRUM) – Perjuangan para atlet balap sepeda Indonesia untuk bisa meraih medali pada Asian Games ke-19/2023 di Hangzhou-Tiongkok pada 23 September hingga 8 Oktober 2023 akan sangat berat.

Evaluasi ini melihat dari hasil Kejuaraan Balap Sepeda Asia Ke-35/2023 nomor road yang berlangsung di Thailand (6-13 Juni 2023) khususnya kategori Senior/Elite. Lomba balap sepeda Kejuaraan Asia 2023 ini untuk mengukur pesaing dari negara Asia yang ikut serta pada kejuaraan Asia di Thailand, meski tidak semua hadir namun bisa memberikan peta kekuatan Asia pada nomor balap sepeda road race jelang Asian Games (AG) 2023.

Dari 4 nomor lomba putra dan putri, ITT dan Road Race, para atlet sepeda Indonesia kategori Putra dan Putri belum bisa bersaing, seperti yang kita alami sewaktu menjadi tuan rumah Asian Games ke-18/2018 Indonesia. Saat itu nomor road race dilaksanakan di Subang, Jawa Barat.

Di nomor ITT (individual time trial) putra dan putri, atlet Indonesia yang diturunkan kecepatan rata-rata (average speed) tertinggal cukup jauh.

ITT Putri Elite 30 km dijuarai Olga Zabelinskaya (Uzbekistan) dengan catatan waktu 39 menit 33 detik (kecepatan rata-rata 45 km/jam). Sementara andalan Indonesia, Ayustina D. Priatna di urutan ke-8 dengan waktu lebih lambat 4 menit 4 detik (kecepatan rata-rata 41 km/jam), selisih kecepatan average speed-nya sekitar 4 km/jam.

(Foto: Dok. BK).*

Sementara di nomor ITT Putra Elite 46 km, medali emas diraih Yevgeniy Fedorov (Kazakstan) dengan waktu tercepat 53 menit 28 detik (51 km/jam), sedangkan andalan Indonesia, Aiman Cahyadi di posisi ke-15, waktunya lebih lambat 7 menit 3 detik (kecepatan rata-rata 45 km/jam) kecepatannya kalah 6 km/jam dari Fedorov.

Nomor ITT merupakan lomba ujian kecepatan individu mencerminkan kemampuan setiap atlet memacu secara maksimal/efisien pada jarak yang ditentukan. Kemampuan memacu sepeda dengan kecepatan rata-rata yang cepat dan stabil tidak mudah butuh bakat dan latihan rutin yang terprogram. Semakin tinggi kecepatan rata-rata yang mampu dicapai membuktikan kemampuan atlet yang tangguh.

Melihat hasil yang dicapai atlet Indonesia di nomor ITT ini, berarti kecepatan rata-rata masih harus ditingkatkan untuk bisa bersaing meraih medali karena zona kecepatan average (rata-rata) pembalap sepeda Asia lainnya yang meraih medali emas mengungguli kita sekitar 10% hingga 12% untuk kategori putra dan putri.

Tidak Fokus

Dengan waktu persiapan yang hanya 2,5 bulan lagi menuju AG 2023, akan sangat sulit meningkatkan selisih kecepatan atlet sepeda Indonesia untuk bisa bersaing meraih medali.

Konsentrasi atlet sepeda Indonesia juga tidak fokus karena PB ISSI maupun KONI/Kemenpora juga terkesan terlalu ambisius untuk bisa ikut Olimpiade Paris 2024 padahal kemampuan cabor balap sepeda kita untuk bisa bersaing di tingkat dunia masih jauh dari atlet kelas dunia lainnya berbeda dengan Bulu Tangkis dan Angkat Besi yang sudah mencapai level dunia.

Akibatnya sasaran yang akan dicapai membingungkan atlet karena harus mengikuti berbagai kompetisi level dunia demi meraih poin atau pun sekadar jatah “wild card” agar sekadar bisa ikut Olimpiade.

Sementara sasaran yang lebih jelas terjangkau di event tingat Asia Tenggara yaitu SEA Games 2023 Kamboja bulan Mei lalu jadi tak tercapai. Demikian juga ke Asian Games 2023 di Tiongkok September nanti.

Pada SEA Games 2023 Kamboja, atlet putri andalan Indonesia asal Bandung Ayustina D. Priatna dan atlet putri lainnya gagal meraih medali di nomor Kriterium maupun “road race” karena tidak fokus disiapkan untuk nomor “road”, dengan mengikui kegiatan lomba sepeda Track UCI Nations Cup yang digelar di Jakarta dan Kairo (Mesir) padahal waktunya berdekatan.

Dibagian putra, atlet road masih lebih bagus yang berlatih konsentrasi road, di nomor kriterium, Terry Yudha masih dapat emas dan Aiman Cahyadi di “road race” mendapat Perak.

Dengan kemampuan yang levelnya masih Asia Tenggara, harusnya balap sepeda konsentrasi dulu berupaya meraih medali di Asian Games itu level yang lebih realistis ketimbang Olimpiade. Di AG 2018 Indonesia, dimana kita jadi tuan rumah saja masih belum meraih medali di nomor jalan raya (“road race”) demikian juga di track, sebaiknya fokus ke AG 2023 Hangzhou-Tiongkok agar bisa lebih baik, ketimbang ingin tampil di Olimpiade tapi tanpa peluang bisa meraih medali, belum saatnya karena level balap sepeda kita belum sampai ke level Dunia. Bila di Asia kita sudah bisa bersaing tentu sasaran kita meningkat ke level dunia. (M1-BK)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.