METRUM
Jelajah Komunitas

Teknologi Sendok ‘Garam Elektrik’, Kiat Jepang Kurangi Konsumsi Garam

Tingginya angka rata-rata konsumsi garam di Jepang menginspirasi peneliti dan sebuah perusahaan minuman untuk menjual sebuah sendok elektrik yang bisa membuat penggunanya merasakan rasa asin tiga kali lipat dari biasanya.

TOKYO, JEPANG – Teknologi yang diberi nama sendok “Garam Elektrik” ini ditujukan agar penggunanya bisa mengurangi konsumsi garam tanpa mengubah cita rasa makanan yang disantapnya.

Jika sendok makan Anda bisa membuat makanan yang Anda santap terasa lebih sedap, apakah Anda akan tetap memilih untuk mengonsumsi garam dengan jumlah yang sama banyaknya?

Perusahaan bisnis raksasa minuman Jepang, Kirin, bertaruh bahwa jawabannya adalah tidak. Mereka meyakini itu lewat pemasaran produk terbarunya yakni sendok “Garam Elektrik” di Tokyo pada Senin, (20/5/2024). Dengan berat 60 gram, sendok ini menggunakan baterai lithium isi ulang dan dilengkapi dengan komponen logam yang mengalirkan muatan listrik lemah ke lidah penggunanya.

Profesor Homesi Miyasitha dari Meiji University School of Interdisciplinary Mathematics Science selaku pencipta teknologi ini mengatakan bahwa sendok ini dapat membuat penggunanya merasakan cita rasa masakan dengan tingkat keasinan yang sama meski jumlah garam yang digunakan telah dikurangi sepertiganya.

“Ketika Anda makan makanan rendah garam, sebagian dari natrium itu bersentuhan dengan lidah Anda, tetapi tidak semuanya. Jadi, kami gunakan arus listrik untuk menarik natrium itu ke lidah,” jelas Miyasitha.

Asupan natrium dalam jumlah besar kerap berkaitan dengan peningkatan risiko tekanan darah tinggi, stroke, dan berbagai penyakit lainnya.

Kirin, perusahaan yang tengah beralih ke bidang kesehatan dari bisnis bir tradisionalnya, mengatakan bahwa teknologi ini memiliki signifikansi tersendiri di Jepang karena rata-rata orang dewasa mengonsumsi sekitar 10 gram garam per hari, dua kali lipat dari jumlah yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Namun, peneliti Kirin Ai Sato mengatakan bahwa tantangannya terletak pada mengubah pola makan yang sudah biasa dilakukan di Jepang.

“Kami menciptakan alat Garam Elektrik ini agar mereka dapat mengatur asupan garam mereka dan membiasakan diri dengan makanan yang rasanya kurang asin,” sebut Sato.

Kirin hanya akan menjual sebanyak 200 sendok Garam Elektrik secara online dengan harga satuannya 19.800 yen (sekitar 2 juta rupiah) pada bulan ini dan menawarkan secara terbatas produk ini di toko ritel Jepang pada bulan Juni. Sementara penjualan di luar negeri akan dimulai tahun depan. Mereka berharap produk ini bisa mencapai 1 juta pengguna secara global dalam waktu lima tahun.

Peran profesor Miyasitha dan rekannya Hiromi Nakamura dalam mengembangkan tekonologi ini membuahkan penghargaan Ig Nobel Prize yang dianugerahkan kepada mereka. Ig Nobel Prize merupakan sebuah penghargaan yang diberikan kepada penelitian yang tidak biasa dan cenderung aneh. (M1-VOA/th/lt)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.