METRUM
Jelajah Komunitas

Upaya Baru Pendaratan di Bulan, Roket Swasta Sukses Diluncurkan

SEBUAH perusahaan swasta meluncurkan wahana pendarat di bulan lainnya pada Rabu (26/2/2025), kali ini menyasar untuk mendekati kutub selatan bulan dengan sebuah pesawat nirawak yang akan masuk ke kawah hitam legam yang tidak pernah terpapar matahari.

Dilansir dari VOA, wahana pendarat milik perusahaan Intuitive Machines, yang bernama Athena, berhasil diterbangkan oleh SpaceX dari Kennedy Space Center milik NASA. Wahana tersebut menempuh jalur cepat menuju bulan — dengan pendaratan pada tanggal 6 Maret — sambil berharap untuk menghindari nasib pendahulunya, yang terbalik saat mendarat.

Belum pernah sebelumnya begitu banyak wahana antariksa dikirim secara bersamaan menuju permukaan bulan. Bulan lalu, perusahaan asal Amerika Serikat dan Jepang menggunakan roket yang sama untuk meluncurkan wahana pendarat mereka secara terpisah ke satelit alami Bumi. Firefly Aerospace, perusahaan berbasis di Texas, diperkirakan akan menjadi yang pertama tiba di bulan akhir pekan ini setelah melakukan peluncuran awal yang lebih cepat.

Dua wahana pendarat asal AS tersebut membawa eksperimen senilai puluhan juta dolar untuk NASA, sebagai bagian dari persiapan badan antariksa itu dalam mengirim kembali astronot ke bulan.

“Ini adalah momen yang luar biasa dengan energi yang sangat besar,” ujar Kepala Misi Sains NASA, Nicky Fox, kepada kantor berita Associated Press beberapa jam sebelum peluncuran.

Bagi Intuitive Machines, ini bukan kali pertama mencoba mendaratkan wahana di bulan. Tahun lalu, perusahaan berbasis di Texas itu berhasil melakukan pendaratan pertama AS di bulan dalam lebih dari 50 tahun. Namun, wahana tersebut mengalami kegagalan pada instrumen pengukur jarak, menyebabkan pendaratan yang terlalu keras hingga salah satu kakinya patah dan wahana terbalik ke samping.

BACA JUGA:  “Jago Cemburu”, Single Pertama Mark Natama Pasca Ajang Pencarian Bakat

Intuitive Machines mengklaim telah memperbaiki masalah tersebut, bersama dengan puluhan masalah lainnya. Pendaratan yang miring, seperti sebelumnya, dapat menghambat pelepasan pesawat nirawak dan kendaraan penjelajah. Selain itu, bor NASA yang dibawa dalam misi ini membutuhkan pendaratan tegak agar dapat menembus permukaan bulan dan mengambil sampel tanah untuk dianalisis.

“Kami yakin kali ini akan lebih baik dari sebelumnya, tetapi selalu ada ketidakpastian,” ujar Trent Martin, Wakil Presiden Senior Sistem Antariksa.

Hanya lima negara yang sejauh ini berhasil melakukan pendaratan di bulan, yakni Rusia, Amerika Serikat, China, India, dan Jepang. Sementara itu, permukaan bulan dipenuhi puing-puing dari berbagai kegagalan misi di masa lalu.

Wahana pendarat Athena, dengan ukuran 4,7 meter, ditargetkan mendarat sekitar 160 kilometer dari kutub selatan bulan. Tidak jauh dari lokasi pendaratan, terdapat kawah gelap yang menjadi tujuan utama pesawat nirawak bernama Grace.

Dinamai sesuai dengan Grace Hopper, pionir pemrograman komputer, pesawat nirawak berukuran 1 meter ini akan melakukan tiga lompatan yang semakin tinggi dan jauh di permukaan bulan. Dengan menggunakan pendorong hidrazin, kamera, dan sistem navigasi laser, wahana ini akan mencoba masuk ke dalam kawah yang diperkirakan memiliki kedalaman 20 meter.

Peralatan sains dari Hungaria dan Jerman akan melakukan pengukuran di dasar kawah, sekaligus mencari keberadaan es yang membeku. Ini akan menjadi kesempatan pertama untuk meneliti secara langsung salah satu dari banyak kawah gelap di kutub utara dan selatan bulan. Para ilmuwan menduga bahwa kawah-kawah ini mengandung berton-ton es, yang berpotensi dimanfaatkan di masa depan sebagai sumber air minum, oksigen, hingga bahan bakar roket.

NASA membayar Intuitive Machines sebesar $62 juta untuk membawa bor dan berbagai eksperimen ke bulan. Di sisi lain, perusahaan ini juga menjual ruang di wahana pendaratnya kepada pihak lain serta menawarkan tempat berbagi tumpangan dengan roket Falcon.

BACA JUGA:  Asean Mitsubishi Electric Cup 2024: Gagal Masuk Semi Final, Evaluasi Menyeluruh Penampilan Timnas

Dalam misi ini, Satelit Lunar Trailblazer milik NASA turut serta. Satelit tersebut akan memasuki orbit bulan dalam beberapa bulan ke depan untuk memetakan distribusi air di permukaan bulan. Selain itu, wahana antariksa swasta yang bertugas mengejar asteroid untuk misi eksplorasi dan penambangan juga ikut serta dalam perjalanan ini. (M1-VOA/my/ab)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.