Jangan Malu Telat Lulus, Ini Kata Mereka Tentang Gap Year
TAHAPAN hidup orang dalam menempuh pendidikan berbeda-beda. Perguruan tinggi belum tentu menjadi tujuan utama setelah lulus SMA/SMK. Walau kurang populer, jeda kuliah atau gap year bisa jadi waktu terbaik untuk mengenal diri sendiri.
Di bangku perkuliahan, kerap ditemui mahasiswa baru yang ternyata berbeda angkatan kelulusannya saat sekolah menengah atas. Pilihan untuk tidak langsung kuliah merupakan hal wajar bagi lulusan SMA/SMK. Mereka yang menunda kuliah sebenarnya punya kesempatan untuk mengetahui kemampuan dan wawasan lebih matang.
Namun, seseorang punya alasan sendiri untuk melakukan gap year. Siapa sangka konsep ini menarik untuk diterapkan sebagai proses menjajal hal yang belum sempat terlaksana selama sekolah. Sudah saatnya jangan selalu memberikan stigma negatif pada pelaku gap year.
Metrum mewawancarai mahasiswa dari salah satu universitas swasta di Bandung mengenai pengalamannya saat gap year. Matari Dellaneira (23), mahasiswi Ilmu Komunikasi yang semasa jeda kuliah mengikuti keinginan orang tua untuk mempelajari ilmu agama di pesantren.
Selain itu, ada Ayu (bukan nama sebenarnya, red) 23 tahun, mahasiswi Ilmu Komunikasi yang aktif di kegiatan kelompok marching band selama masa-masa gap year.
Berikut ringkasan wawancara Metrum bersama mereka:
Halo Matari, katanya kamu pernah menunda kuliah? Alasan apa yang membuat kamu memutuskan untuk menunda kuliah?
Iya, betul. Selama setahun saya menunda kuliah. Alasannya adalah saya ingin mengejar ilmu agama di Kediri, Jawa Timur, karena saya ingin memperdalam ilmu mengenai agama terlebih dahulu di sana. Yang saya pikirkan setelah lulus SMA adalah pergi pesantren.
Lalu kegiatan apa yang kamu lakukan untuk mengisi kekosongan?
Kegiatannya tentu mencari ilmu agama di sana.
Kenapa akhirnya memilih untuk mendaftar kuliah setelah gap year?
Karena keinginan orang tua saya, sebenarnya saya ingin tetap melanjutkan belajar di sana, hanya saja orang tua saya meminta saya untuk segera kuliah.
Hmm karna sebelum saya kuliah tuh teman-teman saya sudah kuliah duluan (angkatan 17) jadi ekspetasi saya adalah “tidak memiliki teman”. Lalu ternyata saat saya masuk kuliah, tidak seburuk itu, saya tidak punya teman yang seangkatan tetapi di situlah tantangan saya untuk bisa berbaur dengan yang lain. Dan ternyata lebih menyenangkan bisa mengenal orang-orang baru.
Menurut kamu apakah ada plus-minusnya saat kamu jeda kuliah tersebut?
Plus-nya gap year, bisa meningkatkan persiapan untuk masuk kuliah, belajar untuk SBM, ujian mandiri, termasuk untuk jurusan yang akan kamu pilih. Bisa mencari pengalaman sebelum akhirnya masuk kuliah, kaya kerja, magang, pesantren, hobi, dan lain-lain. Bisa istirahat dari hectic-nya SMA, sambil nentuin jurusan dan kampus yang terbaik untuk kamu.
Minus-nya, kesempatan SBM berkurang. Lulus atau wisuda enggak bareng sama angkatan kamu di SMA.
Sebenarnya menurut aku enggak ada yang perlu atau salah dengan gap year. Gapapa gitu loh, mau langsung kuliah bagus, mau nunda dulu juga enggak salah.
Apa pesan buat teman-teman di luar sana yang memilih gap year?
Pesannya, kejar apa yang kamu inginkan. Jangan pedulikan tentang “Harus bareng temen biar ada temen”. Karena pada akhirnya temen di kuliah akan beda lagi. Jangan karena deket dengan temen SMA kamu jadi milih jurusan atau kampus yang sama, tapi liat kemampuan kamu, goals yang kamu ingin realisasikan adalah prioritasnya.
Contohnya, ketika kamu milih buat kerja dulu, buat istirahat dulu, buat pesantren dan sebagainya yang mengharuskan kamu menunda kuliah, yaudah lakukanlah. Kamu yang lebih tau diri kamu sendiri, kebutuhan dan goals. Kalau kamu tertunda kuliah karena tidak diterima dikampus A kampus B, tenang, jangan langsung putus asa, lakukan kegiatan lain, dan ubah mindset “tertinggal” menjadi “bukan soal cepat, tapi tepat”.
Ya, mungkin kerasa banget sama yang gap year karena gagal SBM, tiap orang beda beda sih, tapi jangan dijadikan kegagalan gitu, masih ada tahun depan dan tahun-tahun berikutnya. Tidak ada kata terlambat buat kuliah.
Selepas lulus dari sekolah, Matari tak buru-buru mendaftar ke perguruan tinggi. Dengan menunda selama satu tahun, ia bisa meyakinkan tujuannya.
**
Lain hal dengan Ayu yang menjalani masa gap year lebih lama dibanding Matari. Melatih marching band masuk dalam agenda aktivitas sehari-hari kala itu.
Halo Ayu, katanya kamu pernah menunda kuliah. Kalau boleh tahu berapa lama kamu menundanya? Alasan apa yang membuat kamu memutuskan untuk menunda kuliah?
Gap year selama 2 tahun, dari 2016 sampai 2018. Alasan pertama ga munafik karena pengen di PTN, selama gap year ditawarin untuk di swasta aja sama orang tua tapi kasian di biaya sih, mungkin di awal bisa ter-cover sama orang tua tapi ke depannya kan gatau gitu jadi masih usaha buat di PTN mempertimbangkan biaya juga, terus saat itu ga begitu muluk harus langsung kuliah juga jadi ya gapapa gap year dulu.
Lalu kegiatan apa yang kamu lakukan untuk mengisi kekosongan?
Selama gap year banyak sih yang dilakuin. Karena gabung marching band juga jadi mulai ngulik –ngulik arasemen lagu, ningkatin skill, ikut beberapa perform juga, terus di 2017 mulai buat ngelatih marching band juga di SD-SD. Sambil kalau luang tetep belajar buat tes lagi SBMPTN.
Kenapa akhirnya memilih untuk mendaftar kuliah setelah gap year?
Akhirnya milih buat daftar aja meskipun PTS karena emang dari waktu sekolah dari diri sendiri pengen dan harus buat lanjut kuliah, ngerasanya dulu belum punya skill buat kerja juga meskipun memang ngelatih itu jadi pekerjaan, tapi merasa bahwa ga akan selamanya memenuhi kebutuhan hidup dari ngelatih, jadi merasa harus punya kemampuan lain. Terus emang tipe yang akademik banget gitu, jadi hal akademik tuh penting buat Ayu.
Menurut kamu apakah ada plus-minus saat kamu jeda kuliah tersebut?
Ada banget sih plus minus dari gap year itu, plus nya jadi lebih bisa mematangkan lagi kepengennya gali ilmu di bidang apa, soalnya in my case gitu awalnya ga dibidang keilmuan yang sekarang dipelajari (Ilmu Komunikasi) tapi di bidang lain, berkali-kali coba SBMPTN pun pilihannya bukan bidang ini, tapi pas jeda kuliah dan tanya sana sini, research sendiri akhirnya mutusin ambil bidang ini karena emang passion-nya disini gitu.
Minusnya mungkin jadi ga satu garis waktu sama temen temen satu angkatan sekolah dulu, terus beberapa temen sekarang ada yang di bawah umurnya at least, somehow pemikirannya berbeda, cuma ya balik lagi sih banyak juga temen yang ga gap year tapi belum lulus di waktu seharusnya. Terus ya ga selalu temen setara usia yang satu pemikiran, bisa aja yang setara usia juga beda pemikiran. Plus lainnya juga punya pengalaman lebih banyak sih dibanding yang lain terkait hal di luar akademik.
Apa pesan buat teman-teman di luar sana yang memilih gap year?
Pesen buat temen temen yang milih gap year, gausah panik liat yang lain udah pake toga dan kalian belum, gausah iri liat yang lain udah menghasilkan uang dan kalian belum, gausah terlalu banyak membandingkan diri sama orang lain, untuk mawas diri boleh, pemicu semangat, tapi jangan dijadiin beban. Semua punya timeline-nya masing masing, tinggal gimana kita usahanya. Tetep semangat jalanin pilihannya, jangan jadi minder.
“Cause you know who you are, you know what you do, and you know what you want”. Satu lagi, kamu yang menentukan akan jadi seperti apa kamu selanjutnya. (Ana Siti Ghania/JT)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.