METRUM
Jelajah Komunitas

Abai Jarak Aman, Angka Kematian Indonesia Tembus 114 Orang

KONFIRMASI kasus positif virus corona di Indonesia terus meningkat setiap harinya, termasuk angka kematian. Apakah upaya pemerintah melacak kasus positif ini terlalu lambat?

“Update dari tanggal 28 Maret pukul 12.00 WIB hingga 29 Maret pukul 12.00 WIB, kasus baru sebanyak 130 orang. Total, kasus kumulatif hari ini 1.285 orang,” ujar juru bicara penanganan kasus virus Corona Dr Achmad Yurianto, dalam konferensi pers melalui akun YouTube Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Minggu, 29 Maret 2020.

Yurianto menjelaskan, untuk pasien yang dinyatakan sembuh ada 5 orang, sehingga total 64 orang telah sembuh hingga hari ini. Kemudian, untuk meninggal dunia bertambah 12 orang sehingga total 114 orang meninggal dunia akibat virus yang berasal dari China tersebut. “Kasus sembuh jadi 64 orang dan meninggal 114 orang,” ujarnya.

Sehari sebelumnya, Juru bicara penanganan kasus virus Corona Dr Achmad Yurianto melaporkan penambahan 109 kasus positif virus corona (totalnya menjadi 1.155 kasus) mulai dari Jumat (27/3/2020) sampai Sabtu (28/3/2020) pukul 12.00 WIB. Kasus paling banyak masih terdapat di DKI Jakarta dengan penambahan 38 kasus, sehingga total keseluruhan orang yang terjangkit virus ini di ibu kota adalah sebanyak 627 orang.

Dalam kesempatan ini, Yuri kembali mengingatkan kepada seluruh masyarakat tentang pentingnya menjaga jarak aman atau physical distancing, baik di dalam dan di luar rumah.

Para pengunjung berdiri di tempat yang sudah ditandai dalam sebuah lift untuk menjaga jarak aman sebagai upaya mencegah penularan virus corona, Surabaya, 19 Maret 2020. (Foto: AP)
Para pengunjung berdiri di tempat yang sudah ditandai dalam sebuah lift untuk menjaga jarak aman sebagai upaya mencegah penularan virus corona, Surabaya, 19 Maret 2020. (Foto: AP)

Selain itu, menurutnya masih banyak masyarakat yang tidak menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Antara lain, mencuci tangan dengan sabun di air yang mengalir sebelum makan dan minum, dan menyentuh bagian wajah. Berdasarkan pengamatannya pada banyak kasus, tangan merupakan perantara paling banyak dalam kaitan penularan virus Covid-19 ini.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona, Achmad Yurianto dan Juru Bicara BNPB Agus Wibowo saat menggelar konferensi pers di Gedung BNPB Jakarta, Rabu, 18 Maret 2020. (Foto: VOA/Sasmito)
Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona, Achmad Yurianto dan Juru Bicara BNPB Agus Wibowo saat menggelar konferensi pers di Gedung BNPB Jakarta, Rabu, 18 Maret 2020. (Foto: VOA/Sasmito)

“Ini yang menjadi penting, mencuci tangan dengan sabun, sehingga tidak ada alasan bahwa harus dengan menggunakan hand sanitizer, dengan sabun sudah sangat efektif dengan air yang mengalir. Ini yang diharapkan bisa dilakukan,” jelas Yuri dalam telekonferensi di Gedung BNPB, Jakarta, Sabtu (28/3).

Pemerintah, kata Yuri, prihatin dengan penambahan kasus setiap harinya. Ini menandakan bahwa masyarakat masih mengangap sepele Pandemi global tersebut. Ia pun sangat berharap kepada seluruh masyarakat agar senantiasa mematuhi anjuran pemerintah, seperti tetap berada di dalam rumah, rajin mencuci tangan dengan sabun, hindari keramaian agar penularan tidak semakin meluas.

“Kita masih memprihatinkan kondisi ini, karena terbukti bahwa penularan masih terjadi. Bahwa kasus positif masih berada di tengah-tengah masyarakat, bahwa kontak dekat masih terjadi, bahwa kebiasaan mencuci tangan dengan menggunakan sabun masih belum dimaksimalkan,” ujarnya.

Pemuka Agama Imbau Hindari Kerumunan

Para pemuka dari berbagai agama sepakat untuk mengimbau umatnya agar menghindari kerumunan, termasuk dalam kegiatan beribadah, sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran virus corona ini.

Para pengunjung di sebuah rumah sakit di Padang, Sumatra Barat, duduk berjauhan untuk mencegah penularan virus corona (COVID-19), 21 Maret 2020. (Foto: Antara via Reuters)
Para pengunjung di sebuah rumah sakit di Padang, Sumatra Barat, duduk berjauhan untuk mencegah penularan virus corona (COVID-19), 21 Maret 2020. (Foto: Antara via Reuters)

Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam Sholeh mengatakan MUI telah mengeluarkan Fatwa No.14/2020 tentang pedoman pelaksanaan ibadah, yang isinya antara lain ibadah yang dijalankan dengan cara kerumunan agar seminimal mungkin dilarang dan dihindari.

Menurutnya, sebaik-baiknya salat adalah salat yang dilakukan di rumah.

“Rasulullah SAW menegaskan di dalam hadis shahihnya bahwa sebaik-baik ibadah shalat yang dilaksanakan oleh hamba di dalam hal ini umat Islam yakni shalat yang dilaksanakan di rumah,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Umum Pendeta Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Jacklevyn F. Manuputty, mengatakan sejak 13 Maret, pihaknya mengimbau seluruh umat menjaga jarak dan menghindari ibadah-ibadah yang sifatnya kerumunan.

Imbauan senada disampaikan Relawan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Hong Tjhin. Dia menyatakan umat Buddha telah diimbau untuk menghentikan kegiatan yang sifatnya berkumpul, dan juga menjaga jarak minimal dua meter, serta merekomendasikan agar kegiatan di tempat ibadah bisa dilakukan dengan bantuan teknologi.

Sementara Sekretaris Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Romo Steven menjelaskan, para uskup telah mengeluarkan petunjuk untuk dapat ditaati dan dipatuhi terkait agar seluruh umat mengikuti perayaan gerejawi tanpa hadir secara bersama-sama, tetapi bisa melalui media sosial digital.

Demikian pula Ketua Bidang Kesehatan dan Sosial Kemanusiaan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat, Nyoman Suartanu menyatakan untuk mencegah Covid-19 ini, umat Hindu diimbau melakukan kegiatan keagamaan cukup dari rumah saja, mulai dari melakukan doa, meditasi untuk kesembuhan dan perbaikan bangsa. (M1-VOA/gi/em)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: