METRUM
Jelajah Komunitas

Arah Pandang: Melepas 2019

DALAM talkshow Arah Pandang: Bincang Ideologi dan Politik Internasional edisi perdana di tahun baru pada Kamis, 2 Januari 2020 di Metrum Radio memperbincangkan topik Melepas 2019.

Ada hal menarik soal 2020. Ternyata, Presiden Soeharto pernah dalam salah satu arahannya menyampaikan pentingnya mempersiapkan diri untuk menyambut tahun 2020. Salah satunya, Beliau berpesan agar generasi muda mempersiapkan diri menghadapi globalisasi dengan mencintai produk dalam negeri.

Mari kita dengarkan bersama-sama pidato Beliau yang disampaikan nyaris 25 tahun silam (Sumber: YouTube).

Dilema Globalisasi

Dikutip dari sebuah laman website, nyaris 72% orang Indonesia menyepakati globalisasi. Angka ini menjadi persentase yang tertinggi dari sejumlah negara yang disurvei pada tahun 2016 silam. Setahun setelahnya, ditemukan melalui survei bahwa perjanjian perdagangan internasional didukung oleh 53 persen orang Indonesia.

Desmond (Dok. Metrum.*)

Akan tetapi, baru-baru ini muncul opini soal dilema perdagangan bebas. Opini berkembang terus dan meyakini bahwa perdagangan bebas makin tidak terkendali dan selain itu telah mendorong bentuk ketergantungan baru terhadap perekonomian negara lain. Dalam opini ini, perdagangan bebas berdampak kurang baik terhadap perusahaan domestik. Sedangkan, ketergantungan akan mengurangi kemampuan kemandirian di bidang ekonomi.

Sebenarnya, opini ini tidak hanya menjadi fenomena di Indonesia. Di belahan bumi lain pun tak luput dari dampaknya. Indikator yang paling gampang untuk menguji opini adalah melalui pengamatan pada menguatnya isu politik identitas yang diusung sejumlah parati politik di sejumlah negara sepanjang tahun 2019. Dalam perjalanan sejarah, penguatan politik sayap kanan di sebuah negara biasanya diiringi oleh keadaaan nasional yang terancam oleh faktor- faktor eksternal.

Dilema globalisasi ini dapat dikenali melalui isu perang dagang AS dan China serta isu Brexit di Uni Eropa. Selain itu, sejumlah keputusan proteksionisme semu yang ditempuh banyak negara dunia baik negara berkembang dan negara maju juga telah menyiratkan ketegangan dilema globalisasi ini.

Di tahun 2019, misalnya, dampak negatif globalisasi cenderung dikapitalisasi oleh sejumlah partai kanan demi peningkatan elektabbilitas. Dalam pandangan pengusung politik kanan itu, globalisasi acapkali dianggap sangat lekat dengan hal-hal, seperti: produk lokal menjadi kurang diminati karena masuknya produk impor, stabilitas keuangan goyah karena banyak dana tersedot ke luar negeri.

Selain itu, pertumbuhan sektor industri nasional terhambat karena produk mancanegara. Industri domestik terkendala lantaran perusahaan lokal lebih tertarik bekerja sama dengan perusahaan asing.

Kemudian, produk-produk dalam negeri makin kurang diminati. Perusahaan multinasional menjadi kompetitor tak sebanding terhadap perusahaan dalam negeri. Kesenjangan sosial semakin melebar.

Terakhir, penyelundupan barang ke pasar domestik makin kerap terjadi, dan perkembangan sektor industri di dalam negeri terhambat.

Pergeseran Ekonomi Dunia

Sepanjang tahun 2019 hipotesa soal pergeseran kekuatan ekonomi dunia makin menguat. Peningkatan PPP di negara berkembang makin tak terelakkan dan keadaan ini diduga terus mendorong pergeseran kekuatan ekonomi dunia ke negara ekonomi berkembang. Ini diyakini tidak terjadi dalam waktu singkat melainkan berkesinambungan. Dalam hal ini, dua negara di Asia Tenggara, yaitu Indonesia, dan Vietnam, dan satu negara di Asia Selatan, yaitu India diprediksi berada di peringkat atas.

Dok. Metrum.*

Peristiwa ini dalam prediksi banyak ahli ekonomi dunia menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi jangka panjang di dunia telah bergeser dari negara ekonomi maju. Keadaan itu, diperkirakan akan tetap berlanjut hingga 30 tahun ke depan. Negara-negara yang terkategori ekonomi berkembang ini diduga akan menjadi kontributor tetap pada peningkatan PDB dunia dalam waktu tak sebentar.

Di tahun 2041 perekonomian dunia diduga berlipat ganda. Tingkat pertumbuhan nyata rata- rata per tahun adalah sekitar 2,5% antara tahun 2016 dan 2050. Pertumbuhan ini bergantung umumnya pada pasar negara berkembang dan negara-negara tengah berkembang.

Negara-negara, seperti Brazil, China, India, Indonesia, Meksiko, Rusia dan Turki diprediksi akan tetap stabil tumbuh rata-rata per tahun sekitar 3,5% selama jangka waktu ke depan. Sementara itu, di sisi lain negara-negara maju G7, seperti Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan AS.diduga akan hanya tumbuh sekitar 1,6%.

Dikutip dari laman situs faisalbasri.com, hingga paruh pertama tahun 1990-an, produk domestik bruto (PDB) riil Benua Eropa dan Benua Amerika masih lebih besar ketimbang Benua Asia.

Namun, pertumbuhan pesat yang berkelanjutan di negara-negara Asia pasca Perang Dunia II— seraya negara-negara Eropa dan Amerika cenderung mengalami perlambatan pertumbuhan — membuat pangsa Asia terus naik sampai akhirnya mengalahkan Eropa pada pertengahan 1990-an dan melampaui Amerika pada awal tahun 2000-an.

Kekuatan Asia telah jauh melampaui Eropa maupun Amerika, masing-masing sekitar 45 persen, 23 persen, dan 27 persen.

Akan tetapi, peranan Benua Afrika praktis tidak mengalami perubahan dalam setengah abad terakhir, yakni hanya sekitar 5 persen.

Kesimpulan

Host Dian Awallina (Dok. Metrum).*

Pertumbuhan ekonomi negara berkembang, khususnya Indonesia perlu ditopang oleh pasar dalam negeri yang baik dan stabil. Seperti yang disampaikan dalam pidato Presiden Soeharto bahwa salah satu strategi menghadapi globalisasi adalah dengan memperkuat pasar dalam negeri melalui cinta produk dalam negeri.

Strategi ini tak lepas dari kesadaran bahwa Indonesia sebagai salah satu negara berkembang merupakan incaran negara maju sebagai tujuan pasar yang menjanjikan bagi produk mereka lantaran memiliki daya beli yang sabil. (M1)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: