METRUM
Jelajah Komunitas

Asal Usul Komunitas Cepot Lipet Bandung (CLB)

KETERTARIKAN atau minat orang terhadap sepeda, bergerak terus mengikuti berjalannya waktu, entah itu karena muncul secara tiba-tiba atau pengaruh lingkungan sekitarnya. Begitu pun saya dan beberapa teman di komunitas Federalist Bandung ­Indonesia (FBI), yang biasanya bersepeda ukuran 26 untuk melakukan aktivitas bersepeda atau touring, tiba-tiba tertarik kepada sepeda lipat (seli) dengan ukuran 16, 20, ukuran yang lebih kecil ­dibandingkan dengan sepeda ­konvensional yang biasa kami ­gunakan.

Awalnya, hanya beberapa orang yang mempunyai ketertarikan terhadap seli dengan style touring. Mereka kerap membawa seli setiap hari Minggu pagi ke tempat biasa kami berkumpul di kawasan Jalan Merdeka/Balai Kota Bandung. Lama kelamaan, virus ini menyebar kepada anggota komunitas kami yang lain.

Akhirnya, karena semakin banyak teman yang mempunyai minat yang sama, tercetuslah ide untuk membentuk komunitas Cepot Lipet Bandung (CLB) .

Aktivitas ini dilakukan sebagai variasi bersepeda, karena biasa­nya kami melakukannya dengan menggunakan sepeda konvensional fe­deral. Agar kegiatannya tidak bentrok, dipilihlah hari yang berbeda untuk sarana berkumpul, yaitu Sabtu untuk seli dan Minggu untuk sepeda  federal. ”Biar adil dan tidak pilih kasih,” ucap seorang teman.

Untuk jenis selinya pun kami tidak membatasi jenis dan merek­nya. Semua boleh berga­bung, mulai dari seli sederhana kisaran harga ratusan ribu rupiah sampai seli premium dengan kisaran harga puluhan juta rupiah.

Kenapa dipih nama Cepot Lipet Bandung. Karena Cepot yang merupakan ikon Sunda digunakan pada logo Federalist Bandung Indonesia dan memberi julukan Cepoters kepada setiap membernya,  sehingga dipilihlah nama Cepot Lipet Bandung tersebut.

Ada beberapa alasan yang dikemukakan teman-teman atas ketertarikan nya terhadap sepeda lipat, di antaranya: ingin mencoba sensasi baru, sebagai variasi aktivitas bersepeda.

Selain itu, kepraktisan, karena seli lebih mudah pada saat loading, unloading,  dan setting. Jadi, apabila kita melakukan perjalanan jauh, ukurannya yang kecil dan ringkas memudahkan untuk disimpan di bagasi  pesawat, kereta api, taksi, angkot, bahkan dijinjing naik motor ojek.

Pada awal penggunaannya, banyak yang masih kagok, terutama untuk jarak jauh yang membutuhkan kenyamanan dan kemampuan membawa perlengkapan berupa tas sepeda (pannier) berisi pakaian, makanan, tenda, dan lain-lain. Akan tetapi, setelah bisa mengetahui dan mengatur sitting position, geometri sepeda, lambat laun kenyamanan bisa kita ­dapatkan.

Umumnya, terdapat dua ukuran ban seli, yaitu 16 dan 20. Ukuran 16 lebih kompak saat dilipat dan lincah digunakan di bidang sempit. Jenis ini sangat cocok digunakan di perkotaan. Sedangkan ukuran 20 lebih stabil dan nyaman digunakan untuk perjalanan jauh.

Akan tetapi, hal itu bukan menjadi  patokan karena tergantung juga pada kemampuan tiap individu dalam mengendarainya.  Banyak teman dengan seli ukuran ban kecil mampu melakukan perjalanan jauh dan melewati tanjakan dengan nyaman.

Pada Agustus dan September 2017 ada dua event besar untuk para penikmat seli, dan teman-teman dari CLB pun turut berpartisipasi,  yaitu :

  • Festival  Sepeda Lipat Bandung pada 12-13 Agustus 2017, yang diadakan oleh komunitas Sepeda Lipat Bandung  (SELBI). Acara bertema ”Ulin Deui ka Bandung Yuk” ini digelar di pelataran PT Dirgantara Indonesia, diisi oleh kegiatan gowes ulin, bike yoga, coaching clinic, pagelaran musik dll.
  • Jambore Sepeda Lipat Nasional ke-7 (7amselinas)  Semarang pada 15-17 September 2017, yang merupakan ajang tahunan tempat berkumpulnya para penggemar sepeda lipat senusantara.

Untuk menyalurkan antusiasme penggemar sepeda lipat, Cepot Lipet Bandung berencana meng­adakan acara touring, bikecamping bareng, menikmati beberapa tempat eksotis di Bandung dan sekitarnya. Tunggu saja tanggal mainnya.

Semoga kehadiran Cepot Lipet Bandung dapat memberi gairah dan menambah semarak agenda kegiatan bersepeda di Kota Bandung dan sekitarnya. Salam lipet. (Endra Ginanjar, penyuka ­sepeda, Sumber: Pikiran Rakyat 27-08-2017)***

komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: