METRUM
Jelajah Komunitas

Bertarung dalam Sarung, Sebuah Tradisi Pertarungan asal Sulawesi Selatan

INDONESIA merupakan sebuah negara luas yang memiliki lebih dari 1.340 suku bangsa di Tanah Air yang mana setiap suku bangsanya memiliki adat istiadat, budaya, bahasa, dan keseniannya yang beragam. Dalam kehidupan sosial, tradisi dan kebudayaan memiliki keterikatan dengan pola hidup, tingkah laku, dan peradaban masyarakat dalam berbagai aspek.

Suku Bugis, yang terletak di daerah Sulawesi Selatan memiliki keunikan tersendiri dalam kebudayaan dan pola hidup masyarakatnya. Masyarakat Bugis memiliki seorang pendeta bernama Bissu yang tidak bisa dikategorikan apakah pria atau wanita namun Bissu memiliki peranan besar sebagai perantara antara manusia dan Dewa.

Selain Bissu, di sana juga ada sebuah cara untuk menyelesaikan masalah jika tidak terjadi kesepakatan. Sigajang Laleng Lipa, merupakan sebuah budaya yang memiliki arti saling tikam menggunakan badik atau senjata turun temurun dari keluarga yang telah diberi mantera.

Sijagang Laleng Lipa merupakan sebuah kebudayaan yang penting bagi masyarakat Bugis yang saat ini keberadaanya sudah mulai hilang karena kemajuan zaman. Tradisi ini dilakukan dengan menyatukan kedua pria yang berselisih dan disatukan dalam satu sarung.

Kedua pria tersebut nantinya, akan saling bertempur satu sama lain dengan menggunakan senjata badik hingga keduanya meregangkan nyawa ataupun sama sama hidup.

Tradisi ini dilakukan secara turun temurun sejak zaman Kerajaan Bugis ratusan tahun lalu. Terjadinya tradisi ini dikarenakan sebuah harga diri dari keluarga yang terinjak sedangkan kedua keluarga yang bertikai merasa sama-sama benar. Maka, agar konflik tidak terus menerus terjadi dan permasalahan segera diselesaikan, dituntaskanlah dengan Sijagang Laleng Lipa.

Menurut masyarakat Bugis, harga diri merupakan hal paling penting dari sebuah keluarga. Masyarakat Bugis, menggenggam erat sebuah pepatah yang mengatakan “Siri Paranreng Nyawa Palao” yang memiliki arti apabila harga diri telah terkoyak, maka nyawalah bayarannya”. Kalau mereka merasa terinjak, kedua belah pihak akan melakukan musyawarah untuk diselesaikan.

Namun tidak semua musyawarah berakhir dengan kesepakatan, jika kesepakatan tidak terjadi maka diadakanlah Sijagang Laleng Lipa. Dengan terjadinya Sijagang Laleng Lipa, kedua keluarga yang berseteru harus menerima apapun hasil akhirnya dengan ikhlas dan lapang dada, serta tidak boleh ada lagi perseteruan yang menyebabkan keributan.

Sebuah pepatah Bugis mengatakan, “ketika badik telah keluar dari sarungnya pantang diselip dipinggang sebelum terhujam ditubuh lawan”.

Tradisi Sijagang Laleng Lipa tidaklah dilakukan dengan begitu saja tanpa adanya sebuah ritual dan kesepakatan antara kedua keluarga. Setiap keluarga yang memiliki masalah akan memilih masing masing satu pria terbaiknya. Pria-pria ini merupakan jagoan dari tiap keluarga yang akan bertarung satu sama lain.

Kedua petarung ini nantinya akan diberi Badik yang sudah diberi mantra. Dengan menggunakan badik ini, keduanya akan bertarung dengan sungguh – sungguh untuk memenangkan pertarungan dengan adanya dukungan dari keluarga.

Meski terdengar menakutkan, Sijagang Laleng Lipa dinilai merupakan sebuah bentuk penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasa. Sijagang Laleng lipa perlahan demi perlahan pada akhirnya mulai ditinggalalkan oleh masyarakat Bugis seiring dengan masuknya nilai-nilai Islam di masyarakat pada abad ke -17, tradisi Sijagang Laleng Lipa dinilai cara ini terlalu ekstrim dan dipandang melampaui batas.

Saat ini, Tradisi Sijagang Laleng Lipa lebih banyak dipentaskan dalam bentuk kesenian. Tradisi ini sempat dibuat film yang berjudul ”Tarung Sarung” yang dirilis akhir tahun 2020. (Muhammad Fadli Sinatrya/JT)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.