METRUM
Jelajah Komunitas

Bukan Cuma Padamkan Api: Cerita Pengabdian dan Pertaruhan Nyawa Petugas Damkar Bandung

KOTA BANDUNG (METRUM) – Deru sirene merah Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Diskarmatan) Kota Bandung bukan sekadar penanda darurat. Di baliknya, ada pertaruhan nyawa, latihan fisik tanpa henti, serta kepulangan yang selalu dinanti keluarga.

Sehari-hari, markas Diskarmatan di Jalan Sukabumi bergerak cepat sejak pukul 07.30 WIB. Usai apel gabungan dan pembinaan fisik, pemeriksaan detail pada kendaraan hingga peralatan evakuasi menjadi prosedur wajib yang tak boleh luput.

Sendi Saputra, petugas penyelamatan yang telah mengabdi sejak 2017, menyebut kesiapan alat sebagai penentu keselamatan di lapangan. Bagi pemilik sertifikasi rescue diver ini, tugas evakuasi sangat beragam—mulai dari melepas cincin, mengevakuasi korban hanyut, hingga memotong pagar besi yang menancap di tangan anak kecil.

Meski kini lihai di lapangan, Sendi mengaku tak pernah berkeinginan menjadi petugas damkar saat pertama kali mendaftar.

“Awalnya saya cuma mengikuti kemauan orang tua. Ketika Damkar membuka lowongan, orang tua memberi informasi. Sebetulnya saya tidak suka. Setelah setahun menjalani, mulai senang. Tahun ketiga malah makin senang karena bisa menolong orang,” tuturnya saat ditemui di Mako Diskarmatan Kota Bandung, Kamis (15/10/2026).

Rasa takut tetap ada, terlebih saat memadamkan kebakaran gudang berisi amunisi dan senjata api. Namun, kepuasan emosional dan doa tulus dari warga—tanpa imbalan uang sepeser pun—menjadi bahan bakar utamanya untuk terus bertahan. Bagi Sendi, profesionalisme lahir dari kedisiplinan.

“Tidak ada pemadam dan penyelamat yang hebat, tapi adanya pemadam dan penyelamat yang terlatih. Jadi, jangan bosan untuk berlatih,” kata Sendi.

Di sisi lain, keandalan armada menjadi tanggung jawab Maulana Iqbal, operator Regu 2 Pleton 2 Diskarmatan Kota Bandung. Menangani mobil pancar dan pompa berukuran besar melewati rute sempit, jalan macet, serta gapura rendah di Kota Bandung merupakan tantangan harian.

BACA JUGA:  Hadapi Ancaman Musim Kemarau Ekstrem, Pemkot Bandung Perkuat Kapasitas Relawan Pemadam Kebakaran

Diskarmatan mematok response time maksimal 15 menit. Keterlambatan di jalan kerap memicu tuduhan miring dari warga, padahal kemacetan lalulintas sering kali menjadi penghambat utama.

“Kalau kami sering dikatakan terlambat, sebenarnya kami terhambat,” ujar Iqbal.

Sistem operasional Diskarmatan sendiri berjalan ketat selama 24 jam. Kepala Bidang Pemadaman Diskarmatan Kota Bandung, Leonard, menjelaskan bahwa pihaknya didukung 207 personel pemadam dan 43 personel penyelamatan, lengkap dengan 20 unit mobil pancar, tiga tangki air, hingga kendaraan tangga.

Sepanjang Januari hingga September 2026, Diskarmatan mencatat 49 kejadian kebakaran, 135 penyelamatan hewan (animal rescue), serta 19 penyelamatan manusia (human rescue).

Leonard menegaskan, keberanian saja tidak cukup untuk menghadapi ancaman kebakaran di permukiman padat maupun lahan terbuka.

“Pemadam itu bukan orang yang jago, tetapi orang yang terlatih,” kata Leonard.

Bagi para petugas Diskarmatan Kota Bandung, indikator keberhasilan tak sekadar memadamkan kobaran api atau menyelamatkan korban, tetapi juga memastikan seluruh anggota regu bisa pulang ke rumah dalam keadaan selamat. (M1)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.