METRUM
Jelajah Komunitas

Ekonomi Kreatif: Bangun Semangat Usaha dan Kreativitas Bagi Kaum Muda

EKONOMI kreatif adalah kegiatan kreativitas yang bisa menyambung kesejahteraan atau kehidupan untuk para pelakunya. Sekarang, banyak sekali orang yang kreatif tetapi kadang tidak tahu bagaimana menjadikan itu sebagai lahan ekonomi dan belum paham bahwa kreativitas bisa menjadi penunjang kehidupannya.

Pada Minggu, 22 November 2020 di Metrum Radio, (Re)aksi Remaja menyiarkan episode ke-7 dengan topik “Mendongkrak Ekonomi Kreatif Garut” bersama Host Zulfan dan Chiwa serta narasumber Pak Umed dari Garut Creative Hub (GCH) dan Roby Syahril Barky dari Dakoffie.

Garut Creative Hub (GCH) adalah wadah kreativitas di Kabupaten Garut. Tempat ini bukan milik perorangan atau kelompok tetapi sebagai tempat untuk orang-orang yang merasa ada kaitannya dengan kreativitas dan ekonomi bisa mengakses dan mempergunakan tempat ini.

Ada beberapa kegiatan di GCH, mulai dari subsektor musik, subsektor film, hingga subsektor seni pertunjukan dan lainnya. Apakah kegiatan ini berdampak pada ekonomi? Metronom harus tahu bahwa tidak selalu yang berupa kreativitas itu harus serta-merta saat itu juga langsung menghasilkan nilai, tetapi melalui proses-proses dan perkembangan-perkembangan yang nantinya akan berdampak pada ekonomi.

Menurut Umed dari Garut Creative Hub (GCH), ada beberapa kegiatan yang sukses dilaksanakan di GCH, yaitu lapak primer kolaborasi antara pegiat sablon dan pegiat musik penjualan produk, launching album, nonton bareng untuk diskusi, pelatihan foto produk serta kuliner, marketing internet dan lainnya.

Umed menambahkan, GCH juga mendidik dan merangkul orang-orang untuk berkreativitas dan berdampak pada pembaruan pemikiran. Seperti merangkul UMKM untuk mengerti mengenai desain yang baik.

“Perlu diingat juga bahwa mereka yang datang ke GCH yang mempunyai program dan GCH-lah yang memfasilitasinya,” ucap Umed.

Narasumber kedua Robby Syahril dari Dakoffie menceritakan kisah dia memulai bisnis kedai kopinya. Robby bercerita bahwa usahanya berawal dari pertemuan dia bersama teman-temannya yang sering berkumpul di kedai-kedai kopi. Dimulai dari perbincangan yang menimbulkan rasa ingin tahu, seperti nama kopi, jenisnya apa, cara menyeduhnya bagaimana, hingga muncul sebuah usulan untuk membuat usaha kopi.

Dakoffie fokus untuk memproses pembuatan kopi jenis arabica karena dinilai unik dan mempunyai rasa yang khas, seperti campuran rasa asam, pahit, dan manis menjadi satu. Meski sebenarnya Dakoffie juga memproses kopi robusta, hanya saja tidak menjadi prioritas.

Robby menceritakan perjalanannya dalam memulai usaha sampai seperti sekarang. Bukan hanya kesuksesan, namun juga dukanya. Hambatan dan rintangan seperti sulitnya menyatukan tujuan dan pemikiran di antara sesama rekan.

Berbicara soal potensi anak muda dalam ekonomi kreatif, dengan adanya internet, informasi itu sangat cepat dan mudah menyebar. Namun sayangnya banyak anak muda yang terjebak pada kebiasaan instan seperti mengikuti youtuber atau podcaster sukses dalam menghasilkan uang.

Padahal, untuk menggali kreativitas itu butuh ruang untuk potensi-potensi yang sering dilupakan. Artinya, ruang di sini bukanlah hanya sekedar tempat tetapi berupa komunitas, pendampingan, dan hal lainnya untuk menyalurkan bakat dan minat yang mereka inginkan.

Roby menjelaskan bahwa semua remaja mempunyai potensi untuk mengembangkan kreativitasnya masing-masing sesuai dengan bidang yang ditekuninya. Oleh karena itu, tinggal adanya kemauan untuk menggali dan mengembangkan potensi yang ada pada diri kita. “Kebanyakan anak muda zaman sekarang sering berkumpul dan berbincang, tapi tidak untuk sesuatu hal yang menghasilkan, di benaknya tidak ada pikiran untuk mengembangkan potensi dan kemampuan yang dimiliki,” ujar Roby.

Bagaimana caranya untuk berani memulai usaha sendiri? Umed dari GCH memberi saran untuk meyakinkan diri dan fokus pada apa yang sebenarnya diinginkan. Caranya dengan mengasah kemampuan dan kreativitas supaya nantinya bisa konsisten berada di jalur yang sama dengan yang pertama kali dipilih. Selain itu, jangan berpikir harus berdampak langsung kepada ekonomi saat itu juga.

“Dengan memunculkan keberanian, tanyalah kepada diri sendiri potensi kita ini di mana. Daripada terus-menerus memikirkan dan belum tentu terealisasikan lebih baik langsung dijalani dahulu, dirintis dari hal kecil sampai nanti bertumbuh besar,” kata Umed.

Selain itu, Umed juga menjelaskan, jangan pesimis dan terlalu banyak berpikiran buruk untuk melangkah kedepan, harus siap menanggung resiko apapun yang terjadi pada saat memulai usaha, dan jangan mudah menyerah.

Di akhir acara, kedua narasumber memberikan pesan kepada anak muda atau remaja khususnya di daerah Garut, Bandung dan sekitarnya. Umed berpesan agar apa yang dimimpikan untuk segera direalisasikan. “Harus mencoba untuk diwujudkan, apapun latar belakang kita dan lingkungan tempat kita tinggal,” ucap Umed.

Sementara itu Robby memberi saran kepada para remaja untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin. “Mumpung kita masih muda dan belum mempunyai beban penyakit yang biasanya diidap oleh orang yang sudah berumur, maka ayolah kita asah dan coba diri kita menjadi berbeda dari orang lain,” tukas Robby mengakhiri perbincangan. (Sapitri Sri Mustari)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: