METRUM
Jelajah Komunitas

Filosofi Warna Barongsai Dalam Cerita Sam Kok

SEPERTI kita ketahui, barongsai identik dengan perayaan Tahun Baru Cina atau Imlek. Terdapat dua jenis aliran (genre) utama barongsai yaitu aliran  lung wu yaitu aliran Utara yang disebut Beijing-Shi dan aliran Selatan yang disebut Nan-Shi. Di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan Singa Utara dan Singa Selatan.

Barongsai sebagai salah satu media ekspresi seni dan budaya Tionghoa, tak luput juga dari pengaruh dimensi sejarah, yaitu dengan mempersonifikasikan tokoh-tokoh legenda, seperti barongsai atau singa selatan yang berperan dalam cerita populer Sam Kok.

Sam Kok adalah sebuah roman berlatar-belakang sejarah dari zaman Dinasti Han dan Tiga Negara. Di kalangan Tionghoa di Indonesia, kisah ini dikenal dengan nama Samkok yang merupakan dialek Hokkian dari sanguo atau tiga negara.

Roman sejarah ini menceritakan tentang tiga pemimpin yang bertikai; Cao Cao (negeri Wei), Liu Bei (negeri Shu) dan Sun Quan (negeri Wu) masing-masing telah memaklumatkan diri sebagai kaisar dan mengklaim legitimasi sebagai kekaisaran yang mewarisi Dinasti Han yang telah runtuh.

Roman ini ditulis oleh Luo Guanzhong, seorang sastrawan dinasti Ming yang mengambil referensi dari literatur sejarah resmi mengenai Zaman Tiga Negara di Tiongkok dimulai dari penghujung Dinasti Han, pecahnya Tiongkok ke dalam tiga negara dan kemudian dipersatukan kembali di bawah Dinasti Jin. 

Kisah Sam Kok, secara tradisional disajikan oleh barongsai aliran selatan (Nan-Shi) yang dibagi dalam 3 tipe kategori utama yang diidentikkan dengan tokoh-tokoh pahlawan Sam Kok yaitu Liu Bei, Guan Yu (Kwan Kong) dan Zhang Fei dengan penampilan warna barongsai yang berbeda. 

Seperti Barongsai warna kuning merepresentasikan Liu Bei sebagai bagian dari tiga bersaudara yang paling senior. Warna kuning (atau emas) adalah warna untuk raja dan Liu Bei adalah raja pertama dari kerajaan Shu-Han. Biasanya barongsai ini dimiliki oleh seorang suhu dari perguruan silat/kungfu, organisasi atau perkumpulan yang sudah mapan.

Sedangkan barongsai warna merah merepresentasikan Guan Yu (Kwan Kong) sebagai saudara yang kedua, berwajah merah, bulu dan janggut berwarna hitam serta panjang, hidung hijau. Barongsai ini melambangkan keberanian, kesetiaan dan kejujuran Badannya berwarna merah kombinasi dengan warna hitam.

Barongsai warna hitam merepresentasikan Zhang Fei yang paling junior. Berwajah hitam dengan bulu serta janggut berwarna hitam dan pendek. Barongsai ini melambangkan emosi tinggi, agresif, garang, berani dan gemar berkelahi, biasanya digunakan oleh perguruan bela diri atau perkumpulan-perkumpulan yang masih muda atau baru berdiri.

Selain pembagian tiga tipe kategori utama barongsai ini, ada lagi tambahan lain yaitu tipe barongsai berwarna hijau merepresentasikan Zhao Yun (Chow Yuen), yang sering disebut sebagai saudara keempat, dan dijuluki Singa Heroik (Han Shi), karena terjun ke medan pertempuran dengan gagah berani untuk menyelamatkan anaknya Liu Bei. Sedangkan barongsai berwarna kuning kemerahan dan berbulu putih merepresentasikan Huang Zhong. 

Lalu yang terakhir adalah barongsai putih, yang merepresentasikan Ma Chao yang maju ke medan pertempuran melawan pasukan Cao Cao untuk membalas dendam atas kematian ayah dan saudaranya dengan mengikatkan kain putih di lengannya, sebagai simbol berduka cita. Barongsai putih ini secara tradisional biasanya digunakan untuk upacara pemakaman orang penting, dan lalu dibakar sesudah upacara berakhir.

Selain melambangkan tokoh-tokoh dalam cerita sejarah Sam Kok dari kerajaan Shu, kelima tipe barongsai ini juga melambangkan elemen warna pokok kehidupan yang dikenal dalam filsafat hidup orang Tionghoa yaitu, Merah (api), Hitam (air), Hijau (kayu), Kuning (tanah) dan Putih (besi).

Dalam perkembangannya di zaman modern ini barongsai tak hanya memiliki warna-warna tradisional, namun muncul barongsai generasi baru dengan inovasi yang warna baru. Tipe barongsai modern ini sama sekali tak memiliki filosofi tertentu hingga bebas untuk diinterpretasikan. Trend ini dipilih hanya atas dasar pertimbangan estetika untuk hiburan semata.(Mak Vey van Driel)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.