Imlek di Pendopo Bandung Teguhkan Harmoni dan Toleransi Antarumat Beragama
KOTA BANDUNG (METRUM) – Suasana hangat dan penuh kebersamaan menyelimuti Pendopo Kota Bandung ketika Pemerintah Kota Bandung menggelar silaturahmi para tokoh agama untuk menyambut Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili tingkat Kota Bandung tahun 2026.
Kegiatan tersebut menjadi simbol kuat keharmonisan antarumat beragama sekaligus wujud perayaan keberagaman yang telah lama menjadi identitas Kota Bandung.
Wakil Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia, Fam Kiun Fat, dalam sambutannya mengajak para hadirin memahami makna Imlek dari sudut pandang sejarah serta spiritualitas umat Konghucu. Ia menjelaskan bahwa penanggalan Kongzili bersumber dari ajaran Nabi Kongzi yang lahir pada 551 sebelum Masehi, dengan sistem kalender yang mengikuti peredaran bulan dan perubahan musim.
Menurutnya, Imlek bagi umat Konghucu tidak sekadar tradisi budaya, melainkan momentum religius yang sarat nilai refleksi diri dan pembaruan kehidupan. Ia juga menyinggung perjalanan panjang pengakuan hak-hak umat Konghucu di Indonesia yang kini semakin terbuka, seraya mengapresiasi komitmen Kota Bandung dalam menjaga toleransi.
“Keberagaman adalah kekuatan. Imlek mengajarkan kita memulai tahun baru dengan semangat kebajikan dan persaudaraan,” ujarnya di Pendopo Kota Bandung, Selasa, 10 Februari 2026.
Fam Kiun Fat turut mengundang masyarakat untuk meramaikan perayaan malam Imlek di kawasan Cibadak dan klenteng sebagai destinasi wisata religi dan budaya yang terbuka bagi semua kalangan.
Sementara itu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menilai kegiatan silaturahmi ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam mewujudkan Bandung sebagai kota yang inklusif dan menjunjung tinggi toleransi. Ia mengingatkan bahwa sejak akhir 2024, Pendopo secara rutin menjadi ruang doa bersama lintas agama sebagai simbol persatuan.
“Kota Bandung adalah rumah bagi semua. Kerukunan bukan sekadar slogan, tetapi fondasi kehidupan sosial kita,” kata Farhan.
Ia juga menyampaikan rencana dukungan operasional bagi rumah ibadah lintas agama sebagai upaya memperkuat kehidupan beragama yang setara dan harmonis. Dalam kesempatan tersebut, Farhan mengaitkan pentingnya toleransi dengan kerja bersama menyelesaikan persoalan kota, khususnya pengelolaan sampah.
Menurutnya, persoalan lingkungan hanya dapat diatasi melalui partisipasi seluruh warga tanpa memandang latar belakang. “Sampah adalah masalah bersama dan penyelesaiannya pun harus dilakukan bersama. Toleransi bukan hanya soal keyakinan, tetapi juga kerja nyata demi masa depan kota,” ujarnya.
Saat ini, Pemkot Bandung tengah menjalankan program pemilahan sampah berbasis wilayah hingga pengembangan kawasan zero waste sebagai bagian dari transformasi lingkungan perkotaan.
Perayaan Imlek tahun ini mengusung semangat nasional Harmoni Imlek Nusantara yang mendorong ekspresi budaya dan kreativitas. Sebagai kota kreatif, Bandung didorong menjadikan Imlek sebagai ruang kolaborasi seni, busana, dan budaya.
Farhan menyebut momentum Imlek sebagai kesempatan mempererat persaudaraan sekaligus merayakan identitas keberagaman Indonesia. “Bandung tumbuh dari kebersamaan. Perbedaan justru memperkaya kita,” tuturnya.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan simbolis dari perwakilan komunitas Konghucu kepada Pemerintah Kota Bandung dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), dilanjutkan dengan sesi foto bersama sebagai simbol persatuan lintas iman. (M1)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.