METRUM
Jelajah Komunitas

Indahnya Munggah & Puasa Tempo Dulu

INDAHNYA Bulan Ramadan selalu akan dikenang oleh setiap orang. Apalagi ketika mengingat suasana Ramadan saat kita masih kecil dulu. Asyiknya orang-orang melakukan munggahan dan kebiasaan ngabuburit di siang menuju sore hari menjadi suatu kenangan tak terlupakan pada Bulan Puasa zaman dulu.

Dilansir dari Pikiran Rakyat, Senin 6 Mei 2019, suasana bulan ke-9 tahun Hijriah atau Ramadan, niscaya membawa ­nuansa tersendiri yang berbeda de­ngan bulan-bulan lain. Bulan ini disebut juga bulan Puasa, di mana umat Muslim me­nahan haus dan lapar selama sebulan pe­nuh, 29 atau 30 hari. Namun, tentu saja ada saat berbuka dan sahur setiap harinya.

Di Kota Bandung, juga di kota atau kabupaten lain di Jawa Barat, ada tradisi khusus dalam menyambut bulan Puasa, begitu pula dalam menantikan waktu berbuka dan melaksanakan sahur.

Jika berbicara Kota Bandung, khususnya tempo dulu, dapat ditanyakan pada kuncen Bandung, Ir Haryoto Kunto. Meski sudah berpulang pada 4 September 1999 di usianya yang ke-59, tulisannya mengenai bulan Puasa di Bandung, masih dapat ­ditemui.

Haryoto Kunto, budayawan, penulis, dan pencinta buku lulusan planologi ITB, mencicil tulisannya mengenai sejarah dan aneka nostalgia di Kota Bandung lewat Harian Umum Pikiran Rakyat. Lalu, muncullah buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (1984), Semerbak Bunga di Bandung Raya (1986), serta Ramadhan di Priangan (1996). Buku-buku itulah yang benar-benar menasbihkan nama Haryoto Kunto sebagai juru kunci Bandung.

Bagi umat Islam di Bandung, juga daerah lain di Jawa Barat, sebelum puasa terdapat tradisi munggahan yang berasal dari kata munggah yang berarti naik, atau unggah yang bermakna berpijak dari posisi bawah ke posisi lebih atas.

Munggahan merupakan ekspresi kegembiraan umat Islam dalam menyambut Ramadan, di mana dalam syariat Islam, ritual yang dianjurkan menjelang Ramadan adalah mandi besar sehari sebelumnya.

Haryoto Kunto mengungkapkan, warga Bandung menyambut munggahan dengan berbagai macam cara. Salah satu ritual yang biasa dilakukan pada saat munggah tentu­nya adalah kuramas, kata yang sepadan dengan keramas dalam bahasa Indonesia, yakni mandi dibarengi dengan membilas rambut.

Sebelumnya, ramai pula masyarakat mengadakan acara ngembang atau nadran dalam bahasa Jawa, yaitu menziarahi makam keluarga dan membersihkan area makam serta menaruh kembang di atas nisan.

Di Bandung dahulu, banyak kolam ikan seperti di sekitar Buahbatu, Cigereleng, hingga Jalan Kopo. Nah, para juragan ikan yang memiliki kolam di daerah itu, suka membuat acara ngabedahkeun balong atau mengosongkan air kolam untuk dipanen ikannya. Di antara masyarakat, banyak muncul pertanyaan, ”Geus boga naon jang munggah?” (Sudah punya apa buat munggah?), sehingga orang yang lebih berpunya bisa mengirim aneka makanan kepada sanak kerabatnya untuk munggahan hingga sahur pertama.

Menjelang bulan Puasa, sering juga diadakan makan bersama yang dikenal de­ngan istilah botram, artinya makan di luar rumah. Dahulu, keluarga Haryoto Kunto ­biasa diajak botram ke Pasar Baru Bandung, di Jalan Oto Iskandardinata. Botram dapat dilakukan di teras rumah, kebun, pinggir sawah, taman kota, pinggir sungai, atau di tempat-tempat lainnya.

Sebelum berpuasa, masyarakat Bandung tempo dulu juga kerap membersihkan lingkungannya dalam menyambut Ramadan. Haryoto Kunto menuliskan, masyarakat secara gotong royong memperbaiki jalan desa, selokan, dan mengecat ulang pagar dan rumah mereka masing-masing.

Ngabuburit

Selama berpuasa, dalam menunggu waktu berbuka, muncullah istilah ngabuburit atau menunggu hingga burit, yang artinya petang menjelang malam.

Di Kota Bandung, misalnya, ngabuburit ada yang dihabiskan dengan main ke alun-alun, taman, atau Jubileum Park, menonton film di Bioskop Luxor atau Oriental, dan lain-lain.

Dahulu, pernah ada tren ngabuburit yang diisi dengan acara mandi sore di sumur bor yang dibangun pada dasawarsa pertama abad ke-20. Lokasinya berada di depan Kantor Pos, dekat alun-alun, di simpang Jalan Merdeka-Riau, dan di depan Sakola Menak, Tegallega. Di sana disediakan pula tempat pemandian umum yang terpisah untuk laki-laki dan perempuan.

Hingga akhir 1950-an, ngabuburit bisa juga diisi dengan paparahuan di Situ ­Aksan yang kini sudah tinggal kenangan.

Pada malam di bulan Ramadan, dilakukan salat Tarawih di masjid-masjid. Setelah salat selesai, biasanya bedug dan kohkol ditabuh bertalu-talu serta berirama.

Selama bulan puasa, pada malam atau dini hari, di kampung dan desa, orang-orang sering membunyikan lodong, bahkan menyulut ”perang” antarkampung. Lodong tak lain adalah meriam mini yang terbuat dari ruas bambu besar yang salah satu ujungnya dilubangi untuk tempat karbit dan air. Suara lodong yang cukup mengge­legar sering bersahut-sahutan antarkampung, bisa untuk membangunkan orang-orang yang tidur agar bersiap untuk sahur, atau mengisi waktu selama berpuasa. (Sumber: Epul Saepuloh/Periset ”PR”, M1)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: