METRUM
Jelajah Komunitas

KPS Unjani, Legenda Komunitas Pesepeda Kampus

DI Bandung, ada salah satu komunitas pesepeda berbasis kampus yang cukup legendaris, yaitu Kelompok Pengendara Sepeda (KPS) Universitas Jendral Achmad Yani (Unjani), wadahnya pegiat sepeda mahasiswa Unjani Kota Bandung dan Kota Cimahi yang berdiri sejak 27 tahun lalu.

Bisa jadi, KPS ini merupakan komunitas pesepeda berbasis kampus pertama di Bandung, bahkan mungkin di Indonesia. Bermarkas di kampus Unjani daerah Binong, Gatot Subroto, bersebelahan dengan PINDAD.

Hingga kini, komunitas ini masih berjalan, bersinergi dan berupaya eksis dengan semangat yang ada terutama dari para pendiri, sesepuh atau alumninya yang sampai sekarang tetap support meski dibatasi jarak dan waktu. Tetap bertahan di tengah problem sulitnya regenerasi dan perkembangannya yang naik turun seiring intensitas kegiatan dan eksistensinya mulai berkurang.

Riwayat Perjalanan

Para anggota KPS Klasik (Foto: Dok. KPS Unjani).*

Berawal dari seorang bernama Ade Dewanto Katim yang akrab disapa Bang Ade (BA), ia bersepeda sejak menjadi mahasiswa Teknik Mesin (TM) Unjani tahun 1989, yang dulu bernama Sekolah Tinggi Teknologi Industri Bandung (STTIB) dan sebelumnya bernama Akademi Ilmu Logam (AIL).

BA menjadi salah satu atau mungkin satu-satunya mahasiswa UNJANI yang konsisten bersepeda ke kampus dari tempat kost-nya di Jalan Karawitan. Saat Opspek sempat dihukum karena telat, ia disuruh memanggul sepeda berkeliling lapangan sambil berteriak “Saya Telat!”

Kemudian BA ngegenks bersama beberapa teman TM berdandan cukup nyentrik ala-ala cowboy karena dipengaruhi teman yang lulusan SMA Negeri 1 Bandung, hingga banyak menarik perhatian, apalagi BA selaku pesepeda yang kemudian memicu teman-temannya memiliki sepeda.

Selanjutnya, mereka melakukan aktivitas selain kumpul-kumpul bawah pohon di halaman kampus, juga bersepeda bersama kemana-mana dengan dandanan nyentrik. Di luar mata kuliah, gaya tersebut selalu jadi bahasan di kelompok mereka yang belum ada namanya tersebut.

Tahun 1990, saat bersepeda ke Dago atas, BA bertemu dan berkenalan dengan Jaya di Kusumah asal Jakarta, seorang pesepeda berkarakter yang kala itu berstatus sebagai mahasiswa Program Studi Desain Produk FSRD ITB. Saat ini beliau berusia 59 tahun.

Jaya di Kusumah atau mas Jaya yang senang trek sepeda di Punclut ini merupakan sosok yang kemudian menjadi inspirator dan motivator bagi BA melalui spirit, saran, doktrin, dan ide-ide cemerlangnya terutama terkait dunia sepeda.

Dari beliau pula, BA dan kawan-kawan belajar bersepeda jarak jauh (turing) yang saat itu tengah dilakoni mas Jaya bersama Bambang Hartadi Mas alias Paimo yang kita kenal sebagai salah satu pesepeda turing. Kemudian BA bersepeda dari Bandung ke Jakarta, sampai akhirnya menjadi kegiatan rutin tahunan.

BA sempat dinasehati beliau saat BA malah lebih fokus menekuni sepeda, padahal teman-temannya tengah disibukkan tugas akhir. Kendati demikian, beliau juga berharap agar kelompok kecil sepeda kampus yang saat itu tengah dilakoni BA bisa bekerja sama dengan program kegiatan bersepeda yang dilaksanakannya.

Tak hanya itu, karena jasa beliau lah pada tahun 1995 BA bisa praktek kerja di PT. Federal Cycle Mustika (FCM), masuk melalui teman kuliah mas Jaya di FSRD ITB  bernama Saktioso, bagian Pengembangan Produk Federal yang saat itu dipimpin Fachri Ismawan, kini aktif di MTB Federal Indonesia sebagai salah satu pelaku sejarah sepeda federal.

KPS Angkatan 1998 (Foto: Dok. KPS Unjani).*

Seringnya pertemuan dengan mas Jaya, setelah mengutak-atik lama akhirnya tercetus ide untuk memberi nama kelompoknya dengan nama KPS. Dikibarkan pertama kali tanggal 10 Juli 1995 di moment wisuda salah satu anggotanya, Usman Kardi.

Selain itu, mengukuhkan BA sebagai Kepala Suku (KS), sebutan khas untuk ketua dan Jaya di Kusumah sebagai anggota istimewa KPS dengan nomor urut 1, meski beliau bukan mahasiswa UNJANI, tapi karena telah dianggap berjasa dan berperan dalam berdirinya KPS.

Event Jambore Pesepeda yang tengah dilaksanakan mas Jaya, menjadi semangat buat KPS menggelar Jambore perdana KPS di Punclut, bersepeda dengan dresscode ala cowboy melalui jalur Setiabudi, Lembang, Cihideung, dan Ciumbuleuit. Sayangnya, BA dan Mas Jaya tidak berkesempatan hadir di acara ini. Bahkan, setelah sekian lama, Mas Jaya baru bisa mengikuti Jambore yang ke-11 tahun 2013.

Cerita keseruan kegiatannya dipajang di majalah dinding kampus, sedikitnya telah menjadi buah bibir di sana dan cikal bakal KPS diberi hibah ruangan untuk basecamp, ngadu ide kreatif, dan mini café, serta menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Unjani Terkait hal ini simak saja dimari. 

Kegiatan

KPS hingga kini tercatat ada 600 anggota dan sudah berjalan 15 generasi melalu ragam kegiatan kreatif yang sudah dilaksanakan, tidak sekedar bersepeda, berkumpul, ngopi, dan tidur di basecamp. Sering juga mengikuti kegiatan yang diadakan pihak luar.

Jambore KPS adalah kegiatan utama yang rutin dilaksanakan dalam rangka silaturahmi antara anggota baru dan veteran. Sejak Jambore ke 2 dilaksanakan di Bumi Perkemahan Gunung Puntang, sesekali pernah juga dilaksanakan di lain tempat, seperti di Kiara Payung.

Kegiatan Rekrutment masa Perakitan 2014 (Foto: Dok. penulis).*

Sebelum jambore ada Oprek (perekrutan), namanya Masa Perakitan yang terdiri dari tiga tahapan yaitu Nongkrong, Bersepeda, dan Bengkel. Ada juga berbagai kegiatan kreatif lainnya dan menarik, salah satunya tentang fotografi bahkan dari kegiatan ini muncul nama Galih Sedayu anggota KPS angkatan pertama, yang mana saat ini dikenal sebagai fotografer profesional yang handal dan cukup dikenal.

Dalam tradisi pemilihan KS dua tahun sekali, kegiatan yang dilaksakan dinamakan STANG atau Sidang Tertinggi Anggota, dengan syarat pesertanya anggota aktif dan dihadiri oleh minimal 1 atau 3 KS lama.

Menurut salah satu alumni KPS angkatan ke-11, Bangun Setyo Nugroho, di KPS itu ada 2 jenis kegiatan, yaitu yang terencana seperti kegiatan-kegiatan di atas dan yang tidak terencana, misalkan jika tiba-tiba mendadak ingin bersepeda saat hujan atau bersepeda malam langsung dilakukan berapa pun pesertanya yang siap dan semangat saat itu.

Anggota Kehormatan

Tahun 2011 saya mulai mengenal KPS, era KS, Dayen, dan kenal dengan BA, serta sering mengajak KPS ikut ragam kegiatan yang saya laksanakan. Selain itu ada nama Gustar Mono seorang ahli sepeda yang saya kenal saat di B2W Bandung, ternyata alumni KPS juga.

Sejak 2013 saya mulai sering ke basecamp KPS, berinteraksi dan mengikuti kegiatan yang dilaksanakan KPS, meski tidak terlalu intens. Kegiatan pertama yang diikuti adalah Jambore ke-11 2013 masa KS, Eko Barka Putra. Pernah juga menjadi nara sumber kegiatan diskusi KPS tahun 2014.

Dari acara tersebut kenal dengan nama-nama seperti Aditya Fauzan, Lastri, dan Afrizal Gisda, mereka aktif juga di B2C Bandung saat itu serta kenal dengan para alumni senior, salah-satunya adalah almarhum Ciptadi Santosa.

Selanjutnya, Saya kenal dengan beberapa KS generasi milenial, yaitu Irfan Nurul Hakim angkatan ke-14 yang pernah jadi narasumber ‘Republik Boseh’ Metrum Radio dan Zaki Alifya, KS ke-15, yang sering mengikuti kegiatan bersama Forum Komunikasi Komunitas se-Bandung Raya.

Mungkin karena itulah, saya dinobatkan sebagai Anggota Kehormatan oleh BA, meskipun belum secara resmi. Sungguh, hal tersebut merupakan penghargaan yang luar biasa buat saya, padahal saya bukan siapa-siapa dan tak ada kontribusi apa-apa buat KPS.

Trimakasih KPS khususnya BA dan mas Jaya yang juga sudah kenal lama, tetap semangat, sehat, dan waspada. Semoga KPS makin legend, kompak, berkibar dan selalu menginspirasi.

Salam boseh dan go green! (Cucu Hambali, Bersepeda itu Baik)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: