METRUM
Jelajah Komunitas

Atlet Belarus Krystina Tsimanouskaya Diusir dari Olimpiade Tokyo, Keluarga Melarang Pulang

TOKYO – Atlet lari Belarus, Krystina Tsimanaouskaya pada minggu (1/8/2021) menjadi pemberitaan usai diusir dari Olimpiade Tokyo 2020.

Krystina menolak untuk pulang ke negaranya, karena ia menyatakan bahwa ia dipaksa pulang oleh pihak Belarus. Dilansir dari Tempo.co Krystina menolak pulang karena ia menentang keputusan pemilihan cabor oleh timnas Belarus. Ia didaftarkan ke lari 4X400 Meter Relay tanpa sepengetahuannya. Padahal, dirinya sama sekali tak memiliki pengalaman untuk cabor tersebut. Apa yang Krystina tahu, dirinya hanya terdaftar untuk lari 200 Meter.

“Saya tidak akan kembali ke Belarus,” ujar Krystina

Peristiwa Krystina Tsimanouskaya yang menolak pulang ini kemudian menarik perhatian banyak pihak. Salah satunya Komite Olimpiade Internasional mengamankannya, membantunya untuk mengurus suaka.

Di sisi lain Kedutaan Besar Polandia telah menyetujui peermohonan suaka dari Krystina sehingga ia tidak perlu kembali ke Belarus atas alasan keamanan, seperti dikutip dari Reuters.

Marcin Przydacz, Deputi Menteri Luar Negeri Polandia mengatakan bahwa Krystina akan meninggalkan Tokyo ke Warsawa dalam beberapa hari ke depan. Pihaknya juga memastikan Krystina dalam kondisi aman dan akan mendapatkan segala bantuan yang ia perlukan untuk menetap di Polandia.

Keluarga melarang pulang

Krystina Tsimanouskaya (24) pelari cepat Olimpiade Belarus, Kamis (5/8) kepada wartawan mengatakan ia disarankan oleh anggota keluarganya untuk tidak kembali ke negaranya karena ia dikecam oleh media Belarus, yang melaporkan bahwa ia sakit jiwa.

Ia tiba di Warsawa, Polandia, Rabu (4/8) malam. Pihak berwenang Polandia memberinya visa kemanusiaan untuk mencari suaka politik awal pekan ini setelah ia menuduh pejabat timnya berusaha memaksanya untuk kembali pulang ke Belarus di luar keinginannya.

Pada konferensi pers, Tsimanouskaya kepada wartawan mengatakan setelah ia awal pekan ini memposting pesan di media sosial yang mengkritik perlakuan pelatihnya, anggota staf pelatih Belarus, bersama dengan pria lain, datang ke kamarnya di desa Olimpiade dan memberitahunya bahwa ia mengalami “cedera” dan harus pulang.

BACA JUGA:  Suka Duka Kuliah Online

Tsimanouskaya mengatakan diberitahu kalau tidak menurut, akan ada “beberapa masalah baginya di negaranya.” Ia mengatakan ketika ia mengumpulkan barang-barang, neneknya menelepon dan memperingatkannya agar tidak kembali ke Belarus dan mengatakan laporan televisi mengatakan pelari itu memiliki masalah mental, dan ia mungkin akan dibawa ke rumah sakit atau dipenjara.

Di bandara Tokyo, Tsimanouskaya mencari bantuan polisi Jepang, menerjemahkan permohonan di teleponnya dan menunjukkannya kepada mereka. Ketika drama itu berlangsung, negara-negara Eropa menawarkan untuk membantunya, dan berakhir di Kedutaan Besar Polandia, di mana ia mendapat visa kemanusiaan. Banyak aktivis Belarus telah melarikan diri ke Polandia untuk menghindari tindakan brutal oleh pemerintah Presiden Alexander Lukashenko.

Ia mengatakan suaminya akan bergabung dengannya di Polandia Kamis malam, dan mereka akan membuat keputusan. Ia mengatakan ingin melanjutkan karir olahraganya dan mendukung kebebasan di negaranya.

Belarus didera pergolakan politik dan penindakan keras terhadap pembangkang, setelah pemilihan yang disengketakan yang mengembalikan Lukashenko ke tampuk kekuasaan tahun lalu.

Tsimanouskaya adalah salah satu dari 2.000 lebih tokoh olahraga Belarus yang menandatangani surat terbuka yang menyerukan pemilihan baru dan pembebasan tahanan politik. (Irma Nurlaila/JT-VOA/my/jm)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.