Libatkan 8.600 Warga, Program Padat Karya Bandung Dorong Produktivitas dan Tekan Pengangguran
KOTA BANDUNG (METRUM) – Puluhan warga tampak memadati halaman Kantor Kecamatan Batununggal pada Selasa (9/6/2026) pagi. Dengan mengenakan perlengkapan kerja dan semangat yang tinggi, mereka bersiap mengikuti Program Padat Karya Tematik 2026 yang diinisiasi Pemerintah Kota Bandung sebagai upaya mendorong produktivitas masyarakat sekaligus membuka peluang penghasilan bagi warga.
Di tengah tantangan ekonomi yang masih membayangi dan angka pengangguran yang belum sepenuhnya pulih, Program Padat Karya Tematik menjadi salah satu upaya nyata Pemerintah Kota Bandung untuk menjaga produktivitas masyarakat sekaligus memberikan tambahan penghasilan bagi warga.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, secara resmi melepas peserta Program Padat Karya Tematik yang berasal dari sejumlah kelurahan di Kecamatan Batununggal, yakni Maleer, Samoja, Cibangkong, Kebon Gedang, Gumuruh, dan Kacapiring.
Farhan menegaskan, program tersebut tidak hanya berfungsi sebagai solusi sementara untuk membuka lapangan pekerjaan, tetapi juga menjadi sarana bagi masyarakat untuk tetap aktif dan produktif sembari mencari pekerjaan yang lebih permanen.
“Tahun ini terdapat sekitar 8.600 peserta padat karya di Kota Bandung. Program ini menjadi jembatan bagi warga yang masih mencari pekerjaan tetap. Mereka tetap bisa memperoleh penghasilan sambil membuka peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih stabil,” ujarnya.
Menurut Farhan, tingkat pengangguran terbuka di Kota Bandung saat ini masih berada pada kisaran 7,2 persen. Karena itu, pemerintah terus berupaya memperluas akses ketenagakerjaan melalui berbagai program, mulai dari padat karya hingga penyediaan layanan informasi lowongan kerja secara digital maupun tatap muka.
Ia menegaskan, peran pemerintah tidak hanya menciptakan peluang kerja, tetapi juga menjadi penghubung antara pencari kerja dengan dunia usaha agar kesempatan memperoleh pekerjaan semakin terbuka luas.
“Pemerintah hadir untuk memfasilitasi akses pekerjaan dan mempertemukan kebutuhan tenaga kerja dengan kebutuhan industri. Semakin banyak informasi dan peluang yang tersedia, semakin besar kesempatan masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Farhan juga memberikan semangat kepada para peserta agar tidak kehilangan motivasi dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Ia menilai produktivitas tidak selalu harus diwujudkan melalui pekerjaan formal.
Menurutnya, selama seseorang terus berusaha, bekerja, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya, maka ia telah berkontribusi bagi dirinya sendiri maupun masyarakat.
“Tidak ada alasan untuk malu selama kita masih mau bergerak dan bekerja. Selama produktif, kita tetap memiliki martabat dan nilai. Yang terpenting adalah terus berkarya dan tidak menyerah,” tegas Farhan.
Program Padat Karya Tematik tahun ini difokuskan pada kegiatan penanganan lingkungan dan kebersihan wilayah. Selain membantu meningkatkan pendapatan warga, program tersebut juga diarahkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan nyaman.
Manfaat program ini dirasakan langsung oleh berbagai kalangan peserta. Salah satunya Dava (23), mahasiswa tingkat akhir asal Kelurahan Kacapiring yang memilih bergabung karena melihat dampak positifnya bagi masyarakat.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya membantu memperbaiki kondisi lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga yang terlibat.
“Lingkungan menjadi lebih bersih dan tertata, sementara masyarakat memperoleh tambahan penghasilan. Program seperti ini sangat bermanfaat dan layak untuk terus dilanjutkan,” ujarnya.
Pendapat serupa disampaikan Sri (62), warga Kacapiring yang menilai program padat karya mampu menjadi alternatif bagi masyarakat yang belum memperoleh pekerjaan tetap.
“Program ini sangat membantu, khususnya bagi warga yang masih mencari pekerjaan. Harapannya ke depan jumlah pesertanya bisa semakin banyak sehingga manfaatnya lebih luas,” katanya.
Sementara itu, Yoga, seorang pengemudi ojek online asal Kelurahan Cibangkong, mengaku program tersebut memberikan tambahan pendapatan yang sangat berarti di tengah kondisi penghasilan harian yang fluktuatif.
Menurutnya, selain memberikan pemasukan tambahan, peserta juga memperoleh perlindungan berupa BPJS Ketenagakerjaan dan asuransi kecelakaan kerja yang membuat mereka lebih tenang saat menjalankan aktivitas.
“Pendapatan ojol tidak selalu stabil. Dengan ikut padat karya ada tambahan penghasilan yang pasti. Ditambah lagi ada perlindungan BPJS dan asuransi kerja sehingga kami merasa lebih aman,” ungkapnya.
Di tengah dinamika ekonomi perkotaan yang terus berkembang, Program Padat Karya Tematik dinilai menjadi salah satu solusi konkret dalam mengurangi dampak pengangguran sekaligus memperkuat partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Melalui keterlibatan langsung warga dalam kegiatan kebersihan dan penataan kawasan, program ini tidak hanya mempercantik wajah kota, tetapi juga membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Bagi Pemkot Bandung, padat karya bukan sekadar kegiatan membersihkan lingkungan atau merapikan fasilitas umum. Lebih dari itu, program tersebut menjadi simbol kehadiran pemerintah dalam memberikan kesempatan bagi warga untuk tetap produktif, menjaga harga diri, serta membangun optimisme menghadapi masa depan.
“Seluruh warga Kota Bandung harus terus produktif. Kesempatan selalu terbuka bagi siapa pun yang mau berusaha dan bekerja keras,” pungkas Farhan. (M1)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.