METRUM
Jelajah Komunitas

Mamat Sasmita, “Sunda, Buku, jeung Sajabana”

BERBEKAL buku koleksinya, Mamat Sasmita membuka ruang baca bernama “Rumah Baca Buku Sunda Jeung Sajabana” di rumahnya sendiri di Jln. Margawangi VII No. 5, Bandung. Koleksi bukunya sekira seribu buah. Lima ratus di antaranya berbahasa Sunda. Sisanya berbahasa non-Sunda, seperti bahasa Indonesia, Inggris, Jerman, dan Belanda.

ADA sekira dua ratus buku berbahasa non-Sunda yang isinya mengenai Sunda. Lainnya terdiri dari berbagai tema. Pada penanda di rak terlihat jenis buku-buku itu, seperti novel, carita pantun, sajak Sunda, wawatjan, bacaeun barudak, musik Sunda, carpon, inohong Sunda, dan sejarah Sunda. Keragaman bahasa dan tema inilah yang membuat Mamat mencantumkan frase “jeung sajabana” (dan lain sebagainya) pada nama rumah bacanya.

Semasa masa aktifnya sebagai karyawan PT Telkom, Mamat kerap berpindah-pindah antara lain ke Jambi, Papua, Denpasar, Ende, (Nusa Tenggara Timur), Surabaya, dan California, Amerika Serikat. Toh, itu tidak menyurutkan kegemarannya membaca dan berburu buku berbahasa Sunda dan mengenai Sunda.

Mamat menggambarkan daerah perburuannya dengan singkat: di mana ada buku-buku terhampar, di situ ia mencari. Koleksinya pun makin bertumpuk sehingga pada suatu saat terbersit keinginan untuk membagikan pengetahuan kesundaan pada orang lain. Rumah baca pun dibuka.

Rumah Baca Buku Sunda jeung sajabana (rumahbacabukusunda.blogspot.com).*

Mamat juga aktif di Komunitas Urang Sunda di Internet (KUSnet) dengan milis urangsunda@yahoogroups.com dan duduk sebagai pembina di Yayasan Perceka. Yayasan ini bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan dengan partisipasi dalam pelestarian dan pengembangan budaya nasional khususnya Sunda. Sejumlah perpustakaan telah dibangun di duapuluh lokasi, antara lain di daerah Cianjur, Purwakarta, Subang, Tasikmalaya, dan Sukabumi

Setelah menjadi editor Sajak Banyol Jeung Sajabana (2002) dan Sura Seuri Siga Sero (2004), pria kelahiran Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, 15 Mei 1951 ini ingin menyusun sebuah toponimi mengenai asal-usul nama daerah-daerah di Jawa Barat. Pekerjaan yang diakuinya berat, sudah mulai dilakukannya dengan pergi ke sana-sini dengan menyandang ransel. Projek itu dilakukannya di sela-sela waktunya menunggui kios buku Kaseundeuhan di pasar buku Cihaurgeulis Jln. Surapati, Bandung.

KAMPUS datang menemui Mamat Sasmita ke rumahnya untuk berbicara mengenai kesundaan sembari melihat koleksi bukunya yang mengagumkan. Pembicaraan yang menarik terjadi disertai hujan deras di luar. Tentunya kue-kue buatan istri tercinta, Siti Syalsiah, tak lupa tersaji. Berikut petikannya:

Bagaimana Anda melihat organisasi mahasiswa yang peduli pada budaya Sunda?
Bagus. Bagus pisan. Tapi kalau saya lihat mereka lebih resep pada kesenian, entah itu tari atau apa gitu.

Itu belum cukup?
Belum. Maksudnya begini. Saya mau berangkat dari buku Sunda dulu. Buku itu hasil karya orang Sunda atau bukan orang Sunda untuk orang Sunda dan itu dianggap sebagai salah satu kekayaan batin orang Sunda. Buku itu akan ada manfaatnya lamun dibaca, tahu persis apa isinya. Kumaha kalau ada kesempatan, didiskusikan dan bukan hanya sekadar dibaca. Itu pasti akan menambah kaya batin kita, memberikan wawasan-wawasan baru, termasuk juga pengembangan bahasa bagi yang membacanya. Oleh lingkung seni di kampus-kampus itu agak jarang dilakukan.

Menurut Anda kenapa?
Kesenian itu kan biasanya ramai. Ada musik. Ramainya itu yang mungkin lebih menarik. Baca buku kan tenang. Sementara diskusi mesti mikir. Tapi, harus dicoba. Saya tidak tahu pasti apakah kegiatan lingkung seni itu hanya seni saja atau ada lainnya. Seharusnya tidak sebatas itu. Aangkah baiknya memperbanyak literatur berbahasa Sunda, entah mengenai musik, sastra, atau makanan sehingga menambah wawasan mengenai Sunda. Saya sendiri ingin bikin pameran buku Sunda di kampus, mulai dari buku tua yang berbahasa Sunda atau mengenai Sunda. Tapi, ada kesulitan karena saya tidak punya buku-buku lengkap. Fotokopian ada. Mungkin bisa pinjam dari mereka-mereka yang memiliki buku-buku untuk diperlihatkan. Oh, aya buku kieu…. Itu bisa menimbulkan rasa reueus sebagai orang Sunda.

Siapa sih yang disebut orang Sunda?
Seseorang disebut orang Sunda apabila mengaku sebagai orang Sunda dan diakui sebagai orang Sunda oleh orang lain. Kalau mau disebut tidak hanya lahir di Sunda tapi juga bisa Bahasa Sunda, tahu adat dan folklore Sunda, itu akan panjang sekali. Namun, apakah yang panjang itu akan memenuhi? Belum tentu juga. Harus dibedakan juga orang seperti Nikihiro (Moriyama Nikihiro, indonesianis berkebangsaan Jepang yang mendalami kebudayaan Sunda-red). Dia tahu bahasa, adat, folklore, dan segala macam tentang Sunda. Tapi, dia orang Sunda atau bukan? Bukan. Karena dia tahunya secara akademis, bukan intuisi.

Ada tantangan tertentu yang dihadapi bahasa Sunda?
Ada satu tantangan. Bahasa Sunda itu kayanya berkutatnya pada tataran sastra atau seni. Harusnya bahasa Sunda itu bisa dipakai dalam berbagai segi kehidupan seperti dalam ilmu pengetahuan –misalnya dalam membicarakan masalah ekonomi, teknologi– sehingga memang ada keperluannya. Ada juga saran agar Bahasa Sunda menjadi bahasa pengantar seperti di pengadilan, sidang-sidang DPRD, rapat-rapat resmi sehingga ada kepentingannya bagi bahasa itu sendiri.

Bagaimana soal sumbangan Bahasa Sunda untuk bahasa Indonesia?
Kontribusinya sudah banyak. Pas bulan puasa lalu. Istilah ngabuburit sudah mulai dipakai secara luas, termasuk di media. Dan sebenarnya bukan sekadar kata-kata tapi juga nilai-nilai falsafah. Banyak peribahasa Sunda yang masuk ke perbendaharaan bahasa Indonesia. Di sisi lain, bahasa Sunda juga dipengaruhi bahasa Jawa dan Melayu.

Anda sependapat dengan pernyataan generasi muda masa kini yang mulai melupakan budaya dan bahasa Sunda?
Saya rasa bukan dilupakan. Mungkin tidak terlalu dikenal. Yang bisa memperkenalkan dengan cepat itu artis. Kalau diomongin oleh mereka kan, seolah-olah jadi tren buat generasi muda walau kebanyakan masih dalam guyonan, humor atau yang bloon-bloon. Kuncinya dari keluarga dulu. Misalnya istilah “punten”. Seperti apa sih mengucapkan punten? Cara jalannya seperti apa? Kalau dideskripsikan dengan kata-kata, agak susah. Tapi, kalau dipakai sehari-hari, pemahaman itu akan muncul denagn sendirinya. Yang seperti itu kalau tidak dari keluarga darimana? Kita tidak bisa belajar sendiri. Ada yang mengatakan bahasa Sunda itu bahasa rasa. Mungkin setiap bahasa daerah buat pemakainya adalah bahasa rasa karena ketika ia lahir bahasa itulah yang ia kenal. Misalnya saya ditegur oleh ibu dengan bahasa Indonesia. Saya tidak merasa kena, tapi kalau dengan Bahasa Sunda terasa sekali. Seterusnya diperbanyaklah literatur Sunda dan dibaca. Selain lisan, juga tulisan karena katanya kalo kita mau maju segala macam harus ditulis. Punya utang pun harus ditulis supaya kita jangan lupa. Oya, kalau tidak salah, di Cianjur hari Rabu jadi hari berbahasa Sunda.

Orang asing mungkin mempelajari bahasa Sunda sebagai bahasa eksotis, bagaimana dengan orang Sunda sendiri?
Orang Sunda kalau kehilangan bahasanya pasti akan kehilangan identitas. Nah, kalau bahasa Sunda sebagai sekadar pelajaran itu mungkin disebut eksotis. Namun, bagi orang Sunda seharusnya ada kedalaman. Ada yang ngomong justru sekarang banyak korupsi di Jawa Barat itu karena orang tak bisa bahasa Sunda. mereka yang disebut melakukan korupsi itu biasa wae. Coba kalau disebut basilat, itu pasti akan lebih kena ke hatinya.

Kenapa Anda sangat menaruh perhatian pada Bahasa Sunda?
Ya. Segala unsur budaya Sunda pasti menggunakan bahasa Sunda. Makanya saya konsentrasi pada bagaimana bahasa Sunda itu dipakai. Buat saya itu yang paling pokok. Harus dijaga benar. Kalau itu hilang kumaha atuh? Bahasa kan pikiran bangsa. Kalau bahasanya sudah tidak ada, bangsanya tidak ada atuh. Bahasa Sunda mesti dijaga, dikembangkan, malah kalo bisa mengikuti perkembangan zaman walaupun kita menyadari sebagian kata-kata Bahasa Sunda akan hilang karena tidak dipakai. Sebaliknya dapat muncul istilah-istilah baru yang berkaitan dengan keadaan sekarang. Kini ada usaha-usaha pengembangan bahasa Sunda. Ada yang bikin istilah-istilah bahasa Sunda untuk teknologi atau IT–misalnya untuk program open sources– sehingga bahasa Sunda lebih dikenal. Makin disadari bahwa itu perlu. Bukan sekadar pendokumentasian yang setelah jadi lantas disimpan. Kalau dari semua segi dalam kehidupan sehari-hari digiatkan–bukan sekadar seni atau sastra–akan lebih bagus untuk pengembangan bukan hanya bahasa sebetulnya, tapi budaya Sunda.

Nah, bagaimana lantas dengan pertemuan budaya di zaman kontemporer ini?
Menurut saya kita mesti fleksibel dengan pertemuan budaya itu. Bisa jadi ada semacam akulturasi. Mungkin saja ada unsur budaya yang tergerus tetapi juga selalu ada perkembangan. Misalnya dulu pertautan antara Sunda dengan Mataram atau dengan Islam. bagi saya itu hal wajar bagi suatu budaya yang ingin ada kemajuan.

Dari sekian banyak buku Anda ini, mana koleksi favorit Anda?
Kamus Bahasa Sunda-Inggris tahun 1862 karya Jonathan Rigg. Soalnya itu koleksi yang paling tua. (Mamat mengambil kamus tebal dari raknya dan menunjukkannya. Dengan hati-hati, Kampus membuka halaman demi halaman. Impresif!). Ada juga buku yang saya koleksi karena keunikannya. Buku tentang Pemda Jabar. Halaman Sambutan yang seharusnya ditulis gubernur dikosongkan. Gubernur sibuk. Tidak sempat menulis (Mamat kembali meraih sebuah buku dari rak kemudian membukanya pada halaman 21. Pada akhir halaman 21 buku Djawa Barat Membangun susunan K.H. Azhary Soelaiman yang diterbitkan Penerbit Negara pada 1956 itu ada ‘tjatatan’ yang bisa membuat pembaca tersenyum geli: ‘halaman ini sudah kami sediakan bagi Sdr. Gubernur Kepala Daerah Propinsi Djawa-Barat, R. Moh. Sanusi Hardjadinata. Dan bila ini tidak terisi, adalah karena sampai pada waktu buku ini siap naik untuk ditjetak sambutan jang dimaksudkan tidak kundjung sampai di tangan kami. Mungkin Sdr. Gubernur sedang sibuk. Sajang!’). Kalau sekarang, ada yang berani kaya gini? Hahaha…. (Sumber: Ricky Yudhistira/Kampus PR, 29/12/2005)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: