METRUM
Jelajah Komunitas

Menyusuri Jejak Islam di Nusantara: Artefak Tertua Fatimah Binti Maimun#1

PROGRAM Talkshow Ganaislamika yang berlangsung pada Sabtu, 4 Mei 2019 lalu di Metrum Radio membahas materi dengan topik “Menyusuri Jejak Islam di Nusantara: Artefak Tertua Fatimah Binti Maimun”.  Topik ini diambil karena Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Narasumber bincang-bincang adalah Wim Tohari Danialdi (Pengkaji Islam di nusantara dan kontributor Ganaislamika.com).

Ada beberapa teori yang diketahui mengenai awal mula masuknya Islam ke nusantara. Pertama, Teori Mujarab mengatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara sekitar abad ke-13 melalui wilayah mujarab. Kedua, Teori Persia melalui Profesor Abu Bakar Aceh, dikatakan bahwa Islam masuk ke nusantara pada abad ke-12 Masehi dan yang pertama masuk itu Mahzab Syiah.

Ketiga, Teori China yang mengatakan bahwa kedatangan Islam ke nusantara itu terkait dengan pendirian Kesultanan Mmalaka sekitar abad ke-15. Kemudian Teori mekkah, mengatakan bahwa adanya perkampungan makam Islam di Pantai Barus yang dikenal dengan makam mahigai. Dan salah satu nisan di makam tersebut tertulis nama Syekh Rukunurdin yang wafat pada tahun 48 Hijriah dan beberapa tahun lalu sempat dikunjungi oleh Jokowi. Hal ini menunjukkan bahwa Islam telah masuk ke nusantara sejak lama.

Dalam salah satu konferensi pers mengenai sejarah masuknya Islam pada tahun 1963 di Medan, bahwa tidak ada yang menyepakati teori-teori yang telah ada. Hingga saat ini belum ada informasi yang pasti mengenai kapan masuknya Islam di Nusantara.

Namun yang perlu diperhatikan, mengenai masuknya Islam ke nusantara, salah-satunya adalah melalui jalur perdagangan. Mengapa? Pertama, Konstalasi jalur perdagangan global. Pada abad ke-7 konstelasi perdagangan global ini sudah terjadi nyaris sempurna. Dari jalur ini memperlihatkan sebuah konstelasi yang rumit dan massif. Kedua, salah satu profesor di Malaysia, mengemukakan bahwa jalur perdagangan itu terbagi melalui jalur darat dan jalur laut.

Selain itu, ada pula hubungan angin muson dengan masuknya Islam ke nusantara. Angin muson yang menyebabkan terjadinya dua musim di nusantara sehingga membuat pelaut memanfaatkannya untuk melaut. Dengan kata lain, ada jalur Chinnamon Rude terlihat bahwa pada zaman dulu melaut melalui jalur bawah ke Madagaskar. Dan salah satu perahunya terdapat di Borobudur. Ini menunjukkan bahwa konstelasi tersebut terjadi dengan rapih. Selama angin muson berhembus, Selat Malaka menjadi salah satu titik kumpul para pedagang dari Arab dan Persia pada saat itu sambil menunggu pergantian angin.

Dugaan masuknya Islam pada abad 12, 13 dan 15 itu bisa terjadi dikarenakan oleh imajinasi mengenai Mekkah yang dianggap sebagai Kota Mekkah. Pada kenyataannya, Mekkah sudah menetapkan dirinya sebagai pusat perdagangan global pada awal abad. Kemudian di Mekkah juga terdapat Ka’bah yang menjadi pusat spiritual umat muslim. Sehinga Mekkah merupakan pusat metropolitan dunia. Pada saat itu, Rosul memberikan surat kepada seluruh raja untuk menyebarkan informasi itu.

Pada saat itu di nusantara memiliki Kerajaan Sriwijaya yang menjadi peradaban besar. Jadi tidak aneh jika Islam masuk ke nusantara pada saat Rosul masih ada. Apalagi pada tahun 100 Hijriah ada seorang Srimaharaja Sriwijaya yang mengirim surat kepada Khalifah Umayah yang meminta untuk mengirimkan ulama untuk menjelaskan tentang Islam di nusantara.

Jadi, kabar masuknya Islam ke nusantara ketika masih zaman Rosul itu bukanlah sesuatu yang aneh atau tidak mungkin, karena semua sarana yang terdapat pada saat itu memungkinkan untuk orang-orang datang dari berbagai belahan dunia masuk ke nusantara. (Annisa Noor)***

komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: