METRUM
Jelajah Komunitas

Mengurangi Dampak Banjir, Perbanyak Daerah Resapan Air

DALAM upaya pelestarian alam di Tatar Sunda, Frans Wilhelm Junhun (1915) pernah mengungkapkan, “Tidak ada jalan setapak pun yang menuju ke tempat sisa-sisa pemujaan dewa-dewa ini. Sekarang harimaulah yang menghuni di sini, di tempat mana duhulu kala orang-orang alim membawa sesajen untuk para roh. Hutan lebat telah menelannya dan telah menyembunyikan dalam kegelapan.”

Sejal zaman dahulu, orang Sunda telah menerapkan kearifan lokal budaya Sunda lewat konsep Tri Tangtu Buana, dimana ada pembagian zona pelestarian. Buana Nyungcung (silih asih-dimensi suci), konsep hutan lestari, berupa leuweung keramat, tutupan, sema, agrowista dan wanawisata. Kemudian Buana Panca Tengah (Silih asuh-dimensi interaksi), konsep perkotaan berbasis budaya dan Buana Larang (silih asah-dimensi kotor), konsep perkotaan mengendalikan banjir dan mereduksi limbah.

Namun bagaimana penataan ruang di Tatar Sunda, khususnya di cekungan Bandung saat ini?

Seperti diketahui, saat ini aktivitas manusia memperparah banjir di wilayah cekungan Bandung. ­Berbagai elemen, terutama ­pemerintah, perlu bersama-sama ­guna meminimalkan faktor penyebab banjir yang timbul atas pengaruh ­aktivitas manusia di cekungan ­ini. Hal itu mengemuka dalam diskusi berjudul “Bencana Oh Bencana, Ngobrol Santuy Part 1: Banjir Mengintai Bandung” di Auditorium Museum Geo­logi, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu (1/2/2020).

Diskusi yang diprakarsai Bandung Mitigasi Hub ini menghadirkan sejumlah pembicara, yakni peneliti dari Jurus­an Geodesi Fakultas Ilmu dan Tek­nologi Kebumian Institut Tekno­logi Bandung Dr Ir Heri Andreas, ST, MT; Dr Edi Riawan (dosen Meteorologi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB); Igun Weishaguna, ST, MM (dosen Perencanaan Wila­yah & Kota Universitas Islam Bandung); Idham Effendi, ST, MSc (Kasubid Konservasi Air Tanah Badan Geologi); Dr Teriska Rahardjo, MEd (Aliansi Bandung Cinta Damai); dan Lutfi Don Fatboz (perwakilan Musisi Bandung Pisan).

Heri Andreas menyebutkan, kejadian penurunan muka tanah (land subsidence) merupakan salah satu faktor yang memperparah banjir di cekungan Bandung. Tim peneliti Geodesi ITB termasuk dalam kalangan (peneliti) yang meyakini, penggunaan air tanah berlebihan penyebab dominan land subsidence.

“Bola panas akan penggunaan air tanah yang berlebihan berada di pemerintah (negara),” tukas Heri.

Menurut Heri, tanpa pengaruh dampak aktivitas manusia pun, sejumlah titik di cekungan Bandung tetap bisa banjir. Land subsidence membuat kondisi banjir kian parah. Hal itu tampak pada beberapa titik, di antaranya, Sapan, Gedebage, Ranca­ekek, Baleendah.

Perbanyak resapan air

Langkah meminimalkan banjir berlandasarkan teori adalah dengan memperbanyak daerah yang mampu menyerap air hujan secara maksimal, menyisakan sebagian kecil run off (limpasan). Perlu ada sistem drainase yang baik, serta banyak retensi air guna menampung run off.

“Pembangunan terowongan air Curug Jompong, serta sejumlah insfra­truktur lain penanggulangan banjir merupakan langkah bagus dari pemerintah. Akan tetapi, infrastruktur yang sudah ada belum cukup menuntaskan persoalan banjir di cekungan Bandung,” ucap Heri.

Sementara itu, Dosen Meteorologi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB Dr Edi Riawan menyebutkan, banjir inheren dengan aspek alamiah, dan pengaruh aktivitas manusia. Hujan merupakan peristiwa alami, penyebab utama banjir. Sementara itu, pengaruh campur tangan manusia bisa berupa alih fungsi lahan yang mampu menyerap air secara baik, memperparah dam­pak dari hujan.

“Sebelum mengurus aspek peng­aruh manusia, mari bersama-sama memahami lebih dulu faktor alamiah, termasuk karakteristik hujan,” ucap Edi.

Faktor alamiah penyebab banjir, belum terpahami secara menyeluruh. Banjir di Baleendah pada Tahun 2019 merupakan salah satu kejadian yang me­nun­jukkan, masih ada hal yang be­lum terpahami akan faktor alamiah. Durasi keseluruhan kejadian banjir tersebut mencapai 31 hari. Dalam periode tersebut terjadi beberapa kali hujan selama 4-5 hari berturut-turut.

Banjir dengan durasi panjang bukan hal baru. Berdasarkan pencatatan Japan International Coope­ration Agency (JICA), pernah terjadi banjir dengan durasi sampai tiga bulan di sepanjang Baleendah sampai Rancaekek pada 1986.

Lebih jauh, Idham Effendi mengajak berbagai elemen agar me­rawat Bandung raya bersama-sama. Dia pun turut mengajak kepada masya­rakat agar terus waspada meng­hadapi kemungkinan bencana.

Sementara itu, Teriska Rahardjo mengambil sisi pelestarian lingkungan melalui pendidikan masyarakat petani yang berkelanjutan. Hal yang dilakukan adalah merubah pola pikir petani tidak dengan cara instruktif tetapi dengan pendekatan personal. Kemudian waktu perubahan tidak dalam waktu yang singkat tetapi perlu kesabaran dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi mereka (bottom up) dan metoda yang disampaikan lebih efektif dengan cara deduktif bukan dengan cara induktif.

Kemudian Teriska menambahkan bahwa keberhasilan sedikit orang menjadi model imbas untuk memperluas dan menambah jumlah pengikut menjadi sukses di bidang yang sama dan menjadi kompetensi mereka masing masing.

“Mempunyai komitmen untuk berubah menjadi lebih baik dan tidak merusak ekosistem, bahkan mengembangkan jenis tanaman yang bermanfaat bagi tanaman lainnya (companion planting). Lalu, bekerjasama untuk mengatasi bencana alam dengan merubah pola penanaman sayuran dan sistim penanaman jenis tumbuhan,” ujarnya.

Sejatinya, tujuan penciptaan manusia di muka bumi adalah khalifah fil ard. Tanggungjawab dan kemuliaannya berada pada nilai ruang. Maka sebaiknya kita (para perencana) memiliki wilayah binaan/pengabdian, dalam arti merencanakan, merancang, mewujudkan, dan menghidupkan ruang secara berkualitas, aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan.

Seperti pesan pelestarian alam dan budaya sunda yang tertulis dalam Prasasti Kawali: Nu pa (n) deuri, pakenagawe rahhayu pakeun heubeul jaya dina buana. (Semoga ada yang kemudian membiasakan diri berbuat kebajikan agar ruang produktif & lestari). (M1)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: