KEMASYHURAN namanya membuat banyak orang menilai positif keberadaan Saung Angklung Udjo. Tak banyak pihak luar yang memahami tentang segala permasalahan yang terjadi di dalam manajemennya.
Perusahaan yang dibesarkan dalam manajemen keluarga tak sepenuhnya dapat berjalan dengan profesionalitas yang diharapkan. Tarik-menarik antara kepentingan keluarga dan perusahaan kadang tak bisa dihindari.
Ida Hernida, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat bahkan mengaku kaget dengan permasalahan itu. Selama ini, ia menyangka semuanya berjalan dengan baik.
”Barusan saya mengobrol dengan Opik Udjo (Taufik Hidayat Udjo) sedikit pun tidak ada masalah itu yang diceritakan. Kita hanya membahas tentang rencana Saung Angklung Udjo untuk pementasan di Toronto (Kanada),” ujar Ida Hernida saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu 17 Oktober 2018.

Ida mengatakan, posisi pemerintah dalam konflik internal yang dihadapi Saung Angklung Udjo selama ini hanya selaku fasilitator dan mediator dalam menciptakan iklim yang kondusif.
Semua itu dilakukan dalam upaya pelestarian, pemanfaatan, dan pengembangan seni budaya di masyarakat sebagaimana diatur dalam Perda Jabar Nomoro 14, 15, dan 16 Tahun 2014.
”Apalagi saat ini sudah terbit Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Penguatan Kebudayaan. Tentunya pemerintah dituntut untuk memberikan perhatian lebih terhadap kebudayaan,” ujar Ida.
Terlepas dari permasalahan yang tengah membelit di lingkungan keluarga besar Saung Angklung Udjo, Ida Hernida berharap pihak keluarga besar mempertimbangkan kembali semua hal baik dan buruk akibat yang akan ditimbulkan.

Menurut dia, pemerintah menyadari bahwa sejak dulu keberadaan Saung Angklung Udjo tidak hanya identik dengan keluarga besar Udjo Ngalagena, tetapi juga dengan kebudayaan angklung yang dikembangkan secara konsisten.
”Bahkan tadi Opik sendiri bilang kalau sekarang di Saung Angklung Udjo minimal ada tiga pergelaran rutin dengan disaksikan tidak kurang dari 150 orang. Kebayang kalau karena rebut di antara keluarga membuat citra Saung Angklung Udjo buruk, mungkin dampaknya akan sangat terasa,” ujar Ida.
Dampak yang dimaksud Ida tak hanya dari tingkat kunjungan wisatawan, tetapi citra untuk Kota Bandung, Jawa Barat, bahkan Indonesia secara keseluruhan. Seperti diketahui, angklung ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO. Selama ini, kepercayaan itu dipelihara, dirawat, dijaga, dan dilestarikan secara konsisten oleh keluarga besar Udjo Ngalagena.
”Mungkin ini pula yang diamanatkan almarhum Udjo Ngalagena kepada putra-putrinya tentang angklung sebagai warisan keluarga, bukan sekadar saung angklungnya,” ucapnya.
Siap memediasi
Terhadap pemasalahan internal yang tengah terjadi di Saung Angklung Udjo, Ida mengatakan bahwa pihaknya tidak akan turut campur. Namun, bila dibutuhkan, ia akan siap untuk urun rembuk agar permasalah tidak berlarut-larut dan memengaruhi kegiatan pelestarian, pewarisan, pengembangan, serta pemanfaatan kesenian angklung yang selama puluhan tahun dibangun almarhum Udjo Ngalagena.
”Masa karena ada permasalahan di lingkup keluarga, semua yang sudah dibangun harus hancur begitu saja. Semua permasalahan pasti ada jalannya,” ujar Ida.
Meski demikian, menurut dia, Pemprov Jabar memiliki tanggung jawab besar untuk menyelamatkan Saung Angklung Udjo. Keberadaan Saung Angklung Udjo sekarang ini tidak terlepas dari peran serta pemerintah daerah, yang memberikan subsidi dan pembangunan bagi terciptanya kawasan Saung Angklung Udjo yang representatif sebagai kawasan wisata budaya dan etalase seni bambu di Jawa Barat.

Selain bersedia memediasi antarpihak, Ida juga mengusulkan pihak Saung Angklung Udjo untuk dikelola lebih profesional dengan menunjuk pihak atau pejabat luar untuk mengelola agar lebih independen. Ia juga menyarankan manajemen Saung Angklung Udjo untuk menunjuk akuntan publik yang menangani keuangan secara serius agar tidak menimbulkan fitnah di lingkungan keluarga sebagai pemilik bersama.
”Ingat, warisan dari Mang Udjo bukan hanya masalah materiel. Tetapi ada beban yang sangat berat harus ditanggung para ahli waris Saung Angklung Udjo. Beban itu adalah beban moral, harus menjaga dan melestarikan kesenian angklung berikut nilai-nilai filosofi yang terkandung di dalamnya,” ucap Ida.
Seharusnya tidak eksklusif
Sejak didirikan Udjo Ngalagena pada 1966, Saung Angklung Udjo berkembang menjadi salah satu pusat seni tradisional di Kota Bandung.
Pertunjukan angklung yang rutin digelar menjadikan Saung Angklung Udjo sebagai destinasi wisata turis domestik dan mancanegara. Hal ini bukanlah terjadi sekejap mata. Kegigihan almarhum Udjo menghadirkan pertunjukan yang menarik adalah salah satu kuncinya.
Ketua Sekolah Tinggi Musik Bandung Bucky Wikagoe mengungkapkan, angklung memiliki perjalanan sejarah yang panjang.
Mulanya, angklung adalah alat musik untuk melengkapi ritus tradisi di masyarakat. Fungsi angklung kemudian berubah menjadi alat hiburan sebagai instrumen musik. Sejarah angklung ini tidak bisa terputus begitu saja.
”Saat melengkapi ritus, kecenderungan angklung tidak bernada. Akan tetapi, pada perkembangannya dibikin bernada, khususnya nada diatonis atas peran Daeng Sutigna. Pada perkembangannya, angklung kemudian menjadi sajian panggung dan bisa membawakan lagu-lagu populer,” tutur Bucky di Bandung, Jumat 19 Oktober 2018.

Bucky menceritakan, saat kecil, ayahnya Tatang Kosasih yang berteman dengan Udjo kerap membawa dia ke Saung Angklung Udjo.
Bucky mengingat betul suasana sederhana dan suara dari kebun bambu. Bucky tidak tahu, apakah sengaja atau tidak, Udjo kemudian melibatkan masyarakat di sekitar Padasuka. Udjo mengemas angklung menjadi tontonan, yang kemudian berkembang menjadi industri.
”Kunci utama di Saung Angklung Udjo adalah pembangunan berbasis komunitas. Jadi Saung Angklung Udjo terus berkembang, karena melibatkan masyarakat di sekitarnya mulai dari anak-anak sampai dewasa. Di sana juga terjadi regenerasi, karena dukungan dari masyarakat jadi generasinya berganti,” ungkap Bucky.
Menurut Bucky, ada beberapa faktor yang membuat Saung Angklung Udjo ada di posisi sekarang. Salah satunya adalah peran banyak lembaga, antara lain agen perjalanan wisata. Lewat mereka, Saung Angklung Udjo bisa berkembang. Pasalnya, seni tradisi yang unik selalu bisa menarik perhatian dan bikin penasaran wisatawan, terutama turis asing.
”Saat ini, jika dikaitkan dengan ekonomi kreatif, seni tradisi menjadi kekuatan yang bisa dijual di subsektor musik. Namun, semua kembali pada kemasannya,” kata Bucky.
Ia menyebutkan, salah satu jurus agar seni tradisional angklung lestari adalah menggaungkan lebih luas tentang penetapan angklung sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO. Hal ini harus didukung serius oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat. Soalnya, kalau angklung tidak hidup di masyarakat, status dari UNESCO itu bisa dicabut.
Pertunjukan eksklusif
Pemerhati musik, Idhar Resmadi mengatakan bahwa Saung Angklung Udjo merupakan ruang alternatif yang seharusnya bisa diakses siapa pun. Namun, mentalitas secara geografis masyarakat ternyata berpengaruh juga, karena Saung Angklung Udjo terletak di pinggir kota.
Apalagi, program yang ditawarkan Saung Angklung Udjo tidak bersinggungan dengan kultur musik yang berkembang saat ini.
”Dari segi konten, Saung Angklung Udjo kurang menarik kecuali untuk turis asing atau anak sekolah. Saya melihat, seni tradisi itu seperti memiliki batas. Padahal, anak-anak di Saung Angklung Udjo suka memainkan musik populer seperti lagunya Noah dan Coldplay,” ungkap Idhar yang mengajar di Fakultas Industri Kreatif Telkom University.
Idhar yang menulis buku biografi Pure Saturday itu melihat, Saung Angklung Udjo menampilkan sekadar pertunjukan. Seharusnya, kata Idhar, Saung Angklung Udjo bisa membangun program dengan komunitas musik di luar Saung Angklung Udjo.
Tak dapat dimungkiri, kata Idhar, Bandung adalah kota yang populis. Jadi, segala sesuatu yang ingin menggaet generasi muda seharusnya bisa mengajak komunitas lain yang sifatnya populer. Misalnya, kelompok seni rupa atau komunitas musik elektronik.
”Dengan berjejaring luas, Saung Angklung Udjo bisa lebih mengembangkan diri. Soalnya selama ini saya melihat Saung Angklung Udjo seperti mengeksklusifkan diri. Kalau program mereka inovatif, anak muda bisa lebih tertarik untuk melestarikan angklung,” ujar Idhar yang telah merilis buku Music Records Indie Label: Cara Membuat Album Independen.
Murah meriah di Saung Angklung Udjo
Sejak lama, ketenaran Saung Angklung Udjo tak pernah padam. Hingga hari ini, tempat yang terletak di Jalan Padasuka Nomor 118 Kota Bandung itu selalu disesaki anak sekolah yang berwisata sekaligus belajar budaya Sunda, termasuk salah satunya adalah angklung.
Saung Angklung Udjo merupakan sebuah tujuan wisata budaya yang lengkap, karena di sana terdapat arena pertunjukan, pusat kerajinan bambu, dan workshop untuk alat musik bambu. Di samping itu, kehadiran mereka di Kota Bandung menjadi lebih bermakna karena kepeduliannya untuk terus melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Sunda, khususnya angklung, kepada masyarakat melalui sarana pendidikan dan pelatihan.

Menurut data yang dihimpun dari manajemen Saung Angklung Udjo, selama setahun terakhir, mereka bermain tak kurang dari seribu kali pertunjukan. Dengan kata lain, setiap hari pertunjukan angklung dan seni budaya Sunda ditampilkan di sana. Tempat yang terbatas dan Jalan Padasuka yang sempit juga cukup menyulitkan saat banyak orang yang berminat berkunjung ke sana.
Pada tahun 1966, Udjo Ngalagena beserta istrinya Uum Sumiati mendirikan sebuah sanggar kesenian Sunda, yang kemudian kita kenal sekarang dengan nama Saung Angklung Udjo. Pasangan yang dikaruniai 10 orang anak ini kemudian mendirikan kesenian Sunda yang tergolong unik pada masa itu.
Ide dasarnya adalah menjadikan bambu sebagai elemen yang memberikan banyak karakter yang mendominasi. Saat itu kemudian diciptakan banyak benda dari bambu seperti kursi pertunjukan, alat musik, hingga panggung pertunjukan.
Pertunjukan kesenian Sunda dan kaulinan barudak (permainan anak-anak) itu ternyata memberikan kesan positif bagi penonton. Beberapa sumber menyebut bahwa tamu asing pertama mereka adalah dua orang bule yang datang ke sana dan mengaku sangat terkesan dengan pertunjukan itu.
Udjo Ngalagena sangat terinspirasi oleh filosofi Daeng Soetigna yang menjadi gurunya, yaitu 5M: mudah, murah, mendidik, menarik, dan massal. Kemudian Udjo menyempurnakan filosofi itu dengan menambahkan satu nilai lagi: meriah!
Prinsip-prinsip itu kemudian dikembangkan menjadi suatu konsep pertunjukan yang ideal, dan dikenal dengan nama kaulinan urang lembur atau permainan anak kampung. Suatu pertunjukan yang memadukan unsur kesenian Sunda yang atraktif dengan pendidikan.
Mengalahlah untuk menang
Pakar hukum dari Universitas Padjadjaran Indra Perwira membenarkan bahwa ia pernah diminta untuk memberikan opini hukum terkait dengan persoalan yang membelit Saung Angklung Udjo. Pendapat hukum itu, katanya, dalam rangka mempertahankan Saung Angklung Udjo sebagai kekayaan budaya Jabar.
”Kita sebagai orang Jabar, orang Sunda mengharapkan ikon budaya ini bertahan. Tidak berantakan hanya karena kasus-kasus internal,” tuturnya saat dihubungi, Jumat 19 Oktober 2018.
Semula, ia memediasi semua pihak untuk duduk bersama mencari jalan keluar. ”Kami melihat ada sinyal positif. Kalau masalah materi, tinggal kesepakatan mau dibagi bagaimana,” tuturnya.

Dari sisi hukum, Indra berpendapat, Saung Angklung Udjo mesti ditempatkan sebagai sebuah korporasi. Saung Angklung Udjo sebagai badan usaha yang berbentuk perseroan terbatas terikat dengan ketentuan dan mekanisme dalam mengelola modal hingga pembagian keuntungannya.
”Menarik uang juga ada mekanismenya. Poinnya saya kira semua pihak diharapkan mau mengalah untuk kepentingan bersama. Saya bilang, Udjo itu bukan lagi milik keluarga. Saung Angklung Udjo itu milik Jabar, bahkan Indonesia. Di luar negeri juga sudah tersohor. Mestinya itu jadi pertimbangan utama agar masing-masing mengalah,” tuturnya.
Indra juga menyarankan agar Saung Angklung Udjo harus lebih transparan dalam pembagian dividen. Cara itu untuk mencegah adanya pihak-pihak yang merasa dibohongi. ”Ada laporan lah, modal berapa, keuntungan berapa, kenapa dibagi segini. Semua terbuka,” ujarnya.
Agar konflik internal tak mengganggu keberlangsungan Saung Angklung Udjo, Indra juga sempat menyarankan agar pengelolaan Saung Angklung Udjo diserahkan kepada profesional. Cara ini bisa menjadi solusi alternatif agar Saung Angklung Udjo sebagai suatu perusahaan terpisah dengan keluarga. Harapannya, bisnis ini bisa berjalan optimal.
”Solusi ini sudah ditawarkan. Sebagian bersedia, tetapi ada yang tidak mau. Malah ingin mengelola sendiri,” kata Indra.
Ranah hukum
Menurut Indra, sebagai sebuah usaha berbadan hukum, pengelolaan Saung Angklung Udjo tak bisa dipandang sebagai urusan keluarga. Termasuk ketika ada yang ingin keluar dari perseroan ini, maka hukum yang berlaku adalah hukum perseroan, bukan lagi soal waris.
”Karena sudah jadi harta perusahaan, maka menghitungnya dari modal berapa. Tanah itu kan modal, kalau dibagikan susah,” katanya.
Sejak para ahli waris sepakat menyerahkan haknya menjadi modal usaha pendirian perusahaan, sejak saat itulah hukum perseroan berlaku. Indra berpendapat, pemahaman ini harus dimiliki semua pihak.
Berbagai pertimbangan hukum ini rupanya belum berhasil meredakan bara di dalam. Salah satu pihak ingin membawa sengketa ini ke meja hijau terus. Melihat sulitnya perdamaian tercapai, Indra berpendapat, langkah hukum itu ada baiknya ditempuh, meskipun langkah ini rentan berdampak pada pasar Saung Angklung Udjo sendiri.
”Kalau dibawa ke jalur hukum, putusannya jelas. Semua akan patuh putusan hukum. Sebagai upaya terakhir, silakan yang tidak puas menggugat,” ujarnya.
Penyebar nilai-nilai positif
Perjalanan panjang Saung Angklung Udjo menyisakan banyak jejak, berupa pengalaman berharga bagi pengunjung. Tak hanya itu, keberadaannya juga menjadi aset yang berkontribusi besar bagi pariwisata, seni, dan budaya.
Agus (42), seorang warga Kabupaten Bandung, menuturkan, dua tahun silam anaknya pernah menyambangi Saung Angklung Udjo. Ketika itu, sang anak bersama teman datang dengan rombongan sekolah saat duduk di bangku SMP. Setelah itu, sang anak mengakui bahwa kedatangan kali itu mengesankan. Secara sederhana, dia bisa belajar sambil bermain dengan cara menyenangkan.
”Anak saya cerita, dia jadi tahu banyak hal tentang angklung, cara buatnya, cara mainnya. Intinya dia senang bisa datang ke sana, bermain sekaligus belajar. Itu yang buat dia mengesankan,” katanya.

Sementara itu, Roni Ismayadhie, seorang dosen sekaligus pegiat komunitas menuturkan bahwa saat ini tidak banyak pilihan tempat yang bisa menawarkan konsep seperti di Saung Angklung Udjo. Penilaian itu didapat setelah dia berulang kali datang dan beraktivitas bersama sejumlah komunitas di Saung Angklung Udjo. Respons positif pun disampaikan.
”Kalau sekadar pertunjukan mungkin bisa mencari di tempat lain, atau bisa saja ada orang yang membuat pertunjukan angklung di tempat baru.
Akan tetapi, di Saung Angklung Udjo tidak hanya itu. Sejarahnya kan panjang dalam pelestarian. Jadi buat saya itu bukan cuma pertunjukan. Makanya kalau bicara angklung, akan langsung ke Udjo,” ujarnya.
Dia mencontohkan, saat pertunjukan, penonton tidak diperlakukan secara pasif. Pengisi panggung serta penonton dapat berinteraksi, misalnya ketika penonton satu per satu mendapatkan angklung untuk dimainkan secara bersamaan. Dengan demikian, tempat ini sekaligus menjadi tempat penyebaran nilai-nilai positif.
Pilihan utama
Hal senada dikemukakan Winda Yuliani (33), manajer salah satu hotel berbintang di Kota Bandung. Selama beberapa tahun terakhir berkecimpung di dunia perhotelan, nama Saung Angklung Udjo menjadi bagian tidak terpisahkan dari keseharian kerja.
Ia menuturkan, sejumlah hotel di Kota Bandung kerap menjadikan Saung Angklung Udjo sebagai nilai jual dalam promosi, berkaitan dengan salah satu daya tarik bagi wisatawan selama berkegiatan di Bandung.
Jika melihat situs resmi wisata atau perhotelan misalnya, nama Saung Angklung Udjo kerap disinggung. ”Kalau kuliner banyak pilihan, wisata alam juga. Tetapi untuk art and culture yang ditawarkan di Bandung, ya Saung Angklung Udjo,” katanya.
Dia juga mengakui, tidak sedikit tamu asing yang datang ke hotel, ingin dibawa ke Saung Angklung Udjo. Dengan karakteristik tamu yang heterogen, destinasi ini terbilang memadai bahkan memanjakan wisatawan asing.
”Di sana kan pembawa acaranya bisa membawakan dalam bahasa asing. Jadi wisatawan mudah mengerti, tanpa kami perlu menyediakan penerjemah khusus,” katanya.(Sumber: Pikiran Rakyat, 22/10/2018)***