METRUM
Jelajah Komunitas

Novelet Religi “Sang Tokoh”: Tantangan Pertama (7)

Karya Wina Armada Sukardi

BUNYI telepon genggam Sang Tokoh kembali berdering. Dilihatnya pengirimnya, salah satu temennya SMP. “Halllo…” sapa Sang Tokoh.
“Iya Hallo. Udah lihat di mensos belum?” kata temennya yang menelepon, lansung ketujuan tanpa basa-basi.”
“Soal apa?”
“Soal apalagi kalu bukan soal Sang Tokoh.”
“Kenapa memang?”
“Udah tonton dulu, sebelum ambil keputusan. Bisa gawat lho!”
Begitu mematikan telepon, Sang Tokoh langsung mencari konten yang dimaksud. Semula masih sulit, karena banyak konten diri Sang Tokoh lainnya yang memang biasa muncul. Baru setelah lima menit Sang Tokoh mendapatkan konten yang dicari. Seorang teman dekatnya, sesama teman sekolah dari SMP sampai SMA, menyerang Sang Tokoh dalam beberapa video konten berbeda-beda sekaligus. Si temen SMP dan SMA itu tapi baik gambar maupun suara dirinya.

“Dia itu aslinya penipu. Pembual. Semuanya sudah direncanakan dengan matang. Mula-mula pura-pura mati suri. Lantas setelah itu, dia tampil sebagai kiai, uztad atau mubalik. Tampil sebagai orang yang sudah katam agama. Padahal semua itu kemunafikan.
Bohooong besar dia.
Yang benar, jangankan menguasai pemahaman agama, saya tahu dengan tepat, baca Quran aja dia tidak mampu. Gak bisa dia. Cuma pura-pura saja.
Demikian pula, dia mencitrakan diri dapat memikiki indra keenam. Itu semua tipu daya doang. Diawali dengan pura-pura koma, agar memberi kesan yang supra natural. Padahal itu cuma siasat belaka.
Padahal dia tak punya kemampun apa-apa.
Saya kawannya dari SMP dan SMA. Jadi faham dirinya luar dalam! Dari dulu, dia pelajar yang biasa-biasa saja. Gak punya kelebihan apapun. Jadi, semua sandiwara saja.”

Temen dari SMP dan SMA itu menyerang Sang Tokoh habis-habisan. Pada konten video lainya ditayangkan:
“Jangan percaya, dan kita jangan mau diperdaya dan ditipunya. Semua demi cari duit aja. Kelas bajingan. Dia melakukan berbagai kepura-puraan biar mendapat simpati.
Hati-hati, nanti kena hipnotisnya agar kita mengikuti dan empati padanya. Terus buntut-buntutnya diharapkan duit mengalir masuk ke pundi-pundinya. Tipu-tipu murahan. Jangan percaya!
Bagaimana mau faham Quran, baca Quran aja gak becus!
Sekali lagi, jangan percaya pada dia. Lebih baik menjauh dari dirinya. Saya ini temannya dari SMP dan SMA, jadi faham wataknya. Gak ada apa-apanya kemanpuan dia. Sudah besaran eh malah jadi tukang kibul. Jadi tukang tipu”

Supaya lebih menyakinkan di konten kain temannya itu juga mengajaknya tarung.
“Saya dapat pastilan dia hanyalah penipu berkedok agama. Berkedok memiliki kekuatan supra natural. Itu cuma
alat mengeduk duit rakyat.
Kalau saya bohong dan dia benar, saya berani menantangnya. Dengan cara apapun, saya berani melawan.
Nanti bakal saya telanjangi kebohongannya. Akan saya buka kedok penipuannya. Saya tunjukan ke semua dia raja penipu.
Ayo kita tarung terbuka! Jangan mengelak. Jangan pengecut. Udah penuh kemunafikan kamu!”

Konten itu hanya beberap hari sudah ditonton lebih dari 15 juta orang. Tak hanya di dalam negeri video itu telah ditonton lebih 1 juta orang luar negeri, khususnya di kawasan ASEAN.
Setelah melihat konten itu, depan rumahnya sudah dikerumuni wartawan. Sang Tokoh telah menjadi selibritas. Sudah jadi orang terkenal. Orang yang selama ini memakai dakwah agama. Jika sekarang ada yang mendakwanya tentu beritanya akan buming. Akan hits. Pantaslah jika ada konten dari kawan SMP dan SMA yang dianggap membongkar semua kelakukannya mendorong wartawan menyerbunya. Mereka sudah berkumpul di depan pagar luar rumah Sang Tokoh sejak pagi hari memburu informasi perkara ini. Melihat itu, Sang Tokoh pun membuka pintu pagar dan mempersilahkan para wartawan masuk ke ruang teras rumahnya. Langsung para wartawan pun setengah berlarian masuk seakan bakal ketinggalan pesawat.

Sampai di dalam Sang Tokoh dikerumuni para wartawan. Mereka langsung berebutan mengajukan pertanyaan. Kamera dan perekam suara, serta HP disorongkan kepada Sang Tokoh. Dia mengangkat kedua tangannya meminta para wartawan untuk lebih tetib dan mendengarkankan penjelasan.
“Saudara-saudara, pertama, terima kasih Saudara-saudara sudah bersusah payah datang ke rumah saya untuk melakukan klarifikasi. Dengan begitu, saya mengharapkan nanti bisa ada keberimbangan informasi. Sekali lagi terima kasih.
Kedua, sesuai dalilnya, siapa menuduh dia membuktikan. Jadi, kalau ada yang menuduh silakan membuktikan. Nanti saya bantah.
Ketiga, saya menegaskan, seluruh yang ditimpakan atau ditudingkan kepada saya, tidak demikian. Tegasnya, tidak benar.
Bukan mau ria ya, saya, alhamdullilah, dapat membaca Al quran. Referensi untuk menafsirkannya juga memadai. Jadi, saya tidak munafik.
Keeempat, soal tuduhan saya tidak sadarkan diri, atau mati suri, atau apapun namanya, silahkan tanya langsung kepada dokter yang menangani saya. Jadi ini bukan penipuan.
Selanjutnya, kelima, saya tetap berprasangka baik, bahwa yang bersangkutan sebenarnya mau tabayun. Mau cross cek. Mau cek and recek. Jadi maksudnya memang mungkin baik.
Oke. Demikian dari saya.”

Begitu Sang Tokoh selesai bicara, sudah kembali diberondong pertanyaan wartawan.
“Kalau boleh satu persatu,” kata Sang Tokoh. Para wartawan pun mengikuti sarannya.
“Apakah Anda kenal dengan orang yang menyerang Anda itu?” tanya seorang wartawan memulai wawancara.
“Iya kenal. Kami berkawan lama ketika sama-sama siswa SMP dan SMA.”
“Mestinya sudah saling kenal.”
“Normal dan kenyataanya begitu.”
“Jadi yang dibilangnya benar dong?” tanya wartawan lain menyambar. Sang Tokoh menoleh kepadanya, dan mentaap matanya.
“Kan sudah saya bilang, sepanjang yang dituduhkan kepada saya, tidak benar. Kan Saudara sudah mendengar sendiri juga keterangan saya!” si penanya pura-pura tidak bersalah.
“Apakah Anda akan menuntutnya melalui jalur hukum?” tanya wartawan lain.
“Saya pribadi tidak akan menuntut. Tapi tidak tahu kalau pendapat keluarga.”
Wartawan lainnya bertanya, ”Langkah Anda selanjutnya apa?”
“Pertama-tama, melalui Saudara-saudar, saya klarifikasi. Selanjutnya saya coba berdialog denga kawan saya itu. Lebih lanjutnya tergantung keadaan.”
“Kira-kira apa motivasinya?”
“Mana saya tahu? Tanya saja ke yang bersangkutan dong!”
Wawancara selesai. Para wartawan sebagian sibuk mengirim berita ke kantornya masing-masing. Setelah itu mereka pada pergi. Hanya dua orang “wartawan” tidak ikut pergi. Keduanya menghampiri Sang Tokoh.
“Bisa tolong kami, Bang” kata salah seorang dari mereka.
“Maksudnya gimana?” tanya Sang Tokoh tak faham.
“Bantulah kami uang pulsa, Bang.”
Baru Tokoh kita sadar, kedua wartawan ini minta uang. “Maaf ya, kalau untuk itu saya tidak dapat memberikan sama sekali. Saya menghormati ketentuan Dewan Pers yang tidak memperkenankan wartawan menerima imbalan ketika melakukan tugasnya.”
“Seikhlasnya aja, Bang” timpal wartawan temannya.
“Kami dapat koordinasi beritanya supaya tidak memberatkan Bang,” tambah yang satu lagi.
“Maaf ya, saya tetap tidak memberikan dalam konteks ini. Apapun alasannya,”tegas Sang Tokoh.”Lagi pula follower saya jauh lebih banyak dari jangkuan pemberitaan kalian.”
Kedua wartawan ini rupanya masih berusaha untuk mendapatkan uang. Mereka kurang menggubris keterangan Sang Tokoh.
“Kalau boleh tahu, kalian dari media mana? Mungkin saya kenal dengan pimpinann kalian?”
Keduanya tidak memberikan jawaban yang jelas. Suara mereka seperti berkumur. Seketika Sang Tokoh faham, inilah mungkin yang sering dia dengar sebagai wartawan abal-abal
“Begini aja. Kalau untuk urusan menjalankan profesi kewartawanan, terus terang saya tak ada anggaran.Tapi kalau kalian butuh bantuan, saya minta alamat kalian, biar orang saya mengantarkan bantuan ke rumah. Hitung-hitung bansos atau bantuan sosial pribadi.”
Wajah keduanya nampak tak suka. Keduanya melengos begitu saja tanpa pamit.

Setelah kedua orang yang mengaku “wartawan” itu pulang, Sang Tokoh segera menghubungi teman SMP dan SMAnya yang viral di media sosial tu. Sang Tokoh dan temannya itu ada dalam satu What Apps Grup (WAG) sehingga saling mengetahui nomer HP masing-masing. Sekali dihubungi Sang Tokoh nomer HP teman SMP dan SMA yang menyerangnya itu langsung terhubung.
“Hallo,” kata Sang Tokoh menyapa lebih dahulu. ”Asssalamualakum…”
“Oh ini pasti mau mgomongin pernyataan saya di media sosial ya?” balas suara disana tanpa basa-basi, apalagi pendahuluan.
“Ya betul!”
“Selama soal ini belum terkonfirmasi. Belum terjawab dengan tuntas, sebaiknya kita gak usah berhubungan dulu aja yaa,” jawaban dari pihak sana tegas sekali. “Bukan apa-apa, nanti kita dituduh berkonspirasi. Selain itu, takutnya saya juga nanti dianggap cuma mau bikin konten yang kontraversial dan mau menarik perbatian publik aja. Supaya banyak viewernya atau penontonnya.”
“Begitukah?”
“Ya. Padahal saya sangat serius. Saya tidak suka agama dijadikan kedok! Saya juga gak suka orang yang suka menipu publik. Saya….”
“Tapi kan..”
“Tidak pakai tapi-tapian. Ini urusan sensitif. Urusan banyak orang…..Sampai jelas penipuannya dan ada permintaan maaf, baru nanti kita berbubungan lagi. Sekarang ini, saya tidak patut berhubungan dulu….” Bagaikan rentetan tembakan senapan otomatis yang diarah kan ke Sang Tokoh. Sang Tokoh tak diberikan kesempatan menjawab dan menyangkal sama sekali.
Tap. Telepon genggam disana seketika dimatikan.
Sang Tokoh tercenung. Tak disangka kawannya bersikap demikian. Sebenarnya, jika dihina atau diejek Sang Tokoh tidak apa-apa. Namun ketika disebut sebagai penipu berkedok agama dia sangat terganggu. Berarti selama ini dia berpenghasilan dari uang haram. Uang hasil mempermainakan agama. Betapa bejadnya manusia seperti ini. Maka Sang Tokoh bertekad membela diri.

Sementata itu ribuan nitizen telah menghujat Sang Tokoh. Berbagai julukan menyakitkan hati ada disana. Tanpa menngetahui duduk persoalannya, mereka ramai-ranai memaki dan menghakimi Sang Tokoh
Behitulah dashyatnya media sosial, dalam sekejap dapat melambungkan orang, tetapi dalam waktu singkat pula dapat merusak reputasi orang.

Dampak media sosial bukan cuma dunia maya, tapi juga langsung ke dunia nyata. Sejak munculnya kasus ini, bertubi-tubi panitia yang telah mengundang Sang Tokoh, menarik diri, membatalkan, mengundurkan jadwal sampai batas yang tidak ditentukan. Tak sedikit pengundangnyang langsung memberi labeling atau cap buruk kepada Sang Tokoh. Mereka menyakinkan yang ada di media sosial pastilah benar adanya.
“Maaf kami tidak dapat mengundang orang yang telah menipu masyarakat,” kata seorang panitia dengan sinis.
“Ceramah kan untuk pencerahan agar keimanan dan ketaqwaan pendengar lebih kuat dan meningkat. Tapi bagaimana kalau penceramahnya sendiri justeru mempunyai perilaku yang tidak pantas. Terang-terangan mengelabui umat,” kata seorang panitia lainnya. “Jadi kami sudah memutuskan membantalkan mengundang Anda.”
Menurut catatan Sang Tokoh sendiri, hampir 70 persen yang telah mengundangnya dan memiliki jadwal, menyatakan mengundurkan jadwal dan membatalkan undangan mereka ke Sang Tokoh. Beribu alasan dikemukakan, tetapi inti mereka sudah tidak percaya kepada Sang Tokoh, setidaknya meragukan kapasistas dan terutama integritas Sang Tokoh. Menghadapi soal ini Sang Tokoh mencoba berpikir jernih dan tabah. Dia memaklumi jika reaksi masyarakat sedemikian besar. Publik mencari tuntunan dan panutan. Takala hal ini dipandang masyarakat tak ada lagi pada dirinya, wajarnya masyarakat sementara menjauhinya. Sang Tokoh pun mengambil keputusan dan mengumumkannya ke publik. “Dengan munculnya kasus ini, saya memutuskan sementara untuk tidak memberikan ceramah, pelatihan dan sejenisnnya lebih dahulu, sampai kasus ini terungkap dengan jelas.”

Sang Tokoh sendiri tetap tenang menghadapi kasus ini. Dia percaya sepenuhnya, dalam memberikan kebaikan Allah sering melalui jalan yang tidak manusia ketahuai. Sebuah jalan yang sekaligus untuk menguji keimanan manusia. Sang Tokoh berkeyakinan selama ini dirinya telah diberikan kenikmatan yang luas biasa, sehingga kejadian yang menimpanya kali ini hanya ujian kecil saja. Ada tujuan lebih besar dari ujian ini sendiri.

Bagi Sang Tokoh melorotnya pengundang secara dratis tak ada masalah sekali. Sebaliknya cap dia penipu berkedok agama, itulah yang dia percaya harus diluruskan dan dibersihkan. Dia percaya Allah kelak juga bakal membersihkan namanya lagi. Sang Toloh hanya akan berjuang seoptimal mungkin mengharumkan kembali namanya…***

(Bersambung)

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.