METRUM
Jelajah Komunitas

Saat Ramadan, Intinya Adalah Pengendalian Diri

PADA bulan Ramadan kita diwajibkan berpuasa, yakni tidak makan dan minum sejak fajar menyingsing hingga matahari tenggelam.
Dilansir dari Pikiran Rakyat, Senin 6 Mei 2019, dengan
tidak makan dan minum sejak fajar menyingsing hingga matahari tenggelam, seharusnya pengeluaran konsumsi selama puasa akan lebih rendah dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. ”Namun, nyatanya sebagian besar orang membuat berbagai hidangan yang nikmat saat sahur maupun berbuka. Alih-alih supaya kuat, mereka melahap banyak makanan dan ­beraneka ragam sehingga hidup malah boros dan pengeluaran membengkak saat Ramadan,” kata Sekretaris Muhammadiyah Jabar, Ustaz Jamjam Erawan, saat dihubungi, Sabtu (4/5/2019).

Padahal, Allah swt berfirman dalam QS ­Al-A’raaf: 31, ”Makan dan minumlah, dan ­ja­nganlah kalian berbuat israf (berlebih-lebih­an), sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat israf,” Ustaz Jamjam menambahkan, ”Dalam ayat tersebut jelas dikatakan bahwa kita memang diperboleh­kan makan dan minum, tetapi jangan ber­lebihan. Kita diwajibkan menyederhanakan makanan yang kita konsumsi, tetapi hal ini tidak terjadi saat puasa,” ujarnya.

Penegasan sama tercantum dalam sabda Nabi Muhammad saw: ”Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah tanpa ­disertai dengan berlebih-lebihan dan ­kesombongan.” (HR Abu Daud dan Ahmad, Al-Bukhari).

”Ramadan mengajarkan umat Islam untuk makan dan minum dengan benar. Sebaiknya orang berpuasa makan sesuai dengan kebutuhan dan kesehatannya bukan mengada-adakan,” ujarnya.

Saat berbuka puasa sebaiknya minum terlebih dahulu, lalu salat Magrib, dilanjutkan dengan memakan makanan yang mengandung gula atau rasanya manis. ”Makan besar bisa setelah salat Magrib atau selepas salat Tarawih. Tentunya dengan porsi sewajarnya bukan berlebihan,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Direktur Bidang Keagamaan Yayasan Pendidikan Al Ma’soem, Ustaz Asep Abdul Halim menyatakan, di kala harus menahan lapar dan dahaga selama ­bulan Puasa, orang Indonesia ternyata masih sulit mengekang nafsunya saat berurusan dengan belanja.

”Apalagi dengan adanya teknologi sehingga pesan makanan, minuman, sampai keperluan busana bisa dengan belanja dalam jaringan (online),” katanya di Dome Al Ma’soem.

Pasalnya, dalam laporan terbaru sebuah situs belanja online Indonesia, diketahui bahwa selama Ramadan tahun sebelumnya, situsnya kerap mengalami peningkatan jumlah traffic.

”Antusiasme masyarakat meningkat cukup tinggi di momen Ramadan ini. Dari hasil survei kepada 1.000 orang responden, ditemukan fakta bahwa sekitar 70% responden mengalokasikan anggaran dananya untuk belanja online selama Ramadan. Kebiasaan belanja online ini diterapkan tak hanya ketika di rumah, tetapi juga saat di tempat bekerja,” ucapnya.

Waktu puncak masyarakat menghubungi ­situs belanja online atau peak time orang-orang belanja ini adalah siang hari, menjelang berbuka, dan selepas salat Tarawih. ”Fakta menarik lainnya yang berhasil dihimpun adalah sebagian besar dari responden bahkan memiliki kebiasaan belanja online dua kali dalam seminggu. Bahkan, tak tanggung-tanggung, ada yang rela mengalokasikan 50% dari Tunjangan Hari Raya (THR) untuk belanja online,” ujarnya.

Meski dituntut menahan hawa nafsu ­sepanjang Ramadan, kata Ustaz Abdul Hakim, ­nyatanya hal tersebut tidak berdampak pada perilaku belanja online masyarakat Indonesia.

”Malah, sepanjang bulan Puasa, minat ­belanja online semakin meningkat. Hal ini berlaku juga untuk berbelanja di pertokoan atau supermarket,” katanya.

Bagi para pengusaha, kata Ustaz Asep, ­Ramadan adalah masa panen penjualan barang selain akhir tahun. ”Ada sejumlah ­faktor pendorong, salah satunya pada bulan Ramadan masyarakat memiliki dana lebih dari tun­jangan hari raya (THR). Uang THR ini membuat mereka jadi membeli lebih banyak dari biasanya. Karena sudah tau bakal ada THR, barang-barang yang sudah lama mau mereka beli, direalisasikan saat Ramadan, bahkan kadang membeli barang yang kurang dibutuhkan,” katanya.

Ustaz Abdul Halim menyarankan agar umat Islam membuat daftar belanja yang ­dibutuh­kan bukan karena hawa nafsunya. ”Selain itu, sisihkan rezeki untuk zakat, infak, atau sedekah karena pahalanya berlipat ganda saat bulan Puasa. Seharusnya sedekahlah yang diperbesar saat bulan Puasa, bukan ­belanja,” katanya. (Sarnapi/”PR”, M1)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: