UCI Larang Teknologi Ban Pintar Jelang Paris–Roubaix, Peluang Van Aert Terancam
HANYA tiga hari menjelang balapan klasik bergengsi Paris–Roubaix 2026 yang dikenal sebagai “Hell of the North”, UCI membuat keputusan mengejutkan. Badan balap sepeda dunia itu secara mendadak melarang penggunaan teknologi pengatur tekanan ban otomatis yang tengah dikembangkan tim Visma Lease a Bike bersama perusahaan teknologi GRAVAA.
Inovasi ini sebelumnya dinilai sebagai terobosan besar. Sistem tersebut memungkinkan pembalap menyesuaikan tekanan ban secara real-time—menurunkannya saat melintasi jalur berbatu (cobbles) untuk meningkatkan daya cengkeram, lalu menaikkannya kembali ketika memasuki lintasan aspal. Dalam karakter ekstrem Paris–Roubaix, teknologi ini berpotensi menjadi faktor penentu kemenangan.
Keunggulan itu membuat perangkat ini diprediksi mampu mendongkrak peluang pembalap elite seperti Wout van Aert, yang pada edisi 2025 finis di posisi keempat. Sementara itu, dominasi masih dipegang Mathieu van der Poel, juara tiga edisi berturut-turut (2023–2025), disusul Tadej Pogačar dan Mads Pedersen.
Namun, keputusan UCI memantik protes keras dari pihak Visma. Performance Manager tim, Mathieu Heijboer, mempertanyakan langkah tersebut yang dinilai terlalu tiba-tiba.
“Kami sungguh tidak mengerti pola pikir petinggi UCI, pelarangan begitu mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya, padahal alat ini sudah kami tes/pakai pada lomba GP Denain,” ujar Heijboer.
Ia menegaskan bahwa teknologi tersebut sangat membantu pembalap dalam menghadapi lintasan campuran yang menjadi ciri khas Roubaix.
“Instrumen ini jelas sangat membantu atlet pada kondisi rute berbatuan dan aspal, karena tekanan ban yang diperlukan berbeda. Tentu alat ini akan membantu atlet kami mengatasi rute cobbles stone dan aspal, karena bisa membalap dengan tekanan ban yang sesuai kondisi jalan,” tambahnya.
Dengan dilarangnya perangkat bernilai sekitar €4.000 (Rp80 juta) itu, tim kini harus kembali ke metode lama: mengganti roda sesuai kondisi lintasan. Strategi ini tidak hanya memakan waktu, tetapi juga berisiko membuat pembalap tertinggal dan kehilangan energi untuk mengejar.
Tanpa dukungan teknologi tersebut, peluang Van Aert untuk menantang dominasi di Roubaix 2026 diperkirakan ikut menurun. Sementara itu, UCI berdalih pelarangan dilakukan karena perusahaan GRAVAA dikabarkan bangkrut pada awal 2026, sehingga produksi alat tidak dapat dilanjutkan.
Keputusan mendadak ini pun memunculkan kontroversi dan tanda tanya besar di dunia balap sepeda, tepat di momen krusial menjelang salah satu lomba paling brutal dalam kalender klasik Eropa. (M1-BK)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.