METRUM
Jelajah Komunitas

Barokah: Barisan Onthelis Kecamatan Haurgeulis

”KRIIIING… kriiing… neng… nong… neng… nong,” bunyi bel yang bersahut-sahutan pagi itu mengiringi perjalanan saya mengayuh sepeda onthel bersama ”Barokah”. Sabtu (10/2/2018) sore, saya ke Indramayu untuk menghadiri pertemuan komunitas kesenian lokal.

Malamnya saya menginap di rumah kawan lama, Bayu Verkohlen, di Haur­geulis. Lama tidak berjumpa, Bayu menjadi penggemar sepeda onthel. Bayu menawari saya untuk ikut ngonthel bersama komunitas sepeda onthel yang diadakan Minggu pagi. Ajakan kawan saya itu tentu tidak saya sia-siakan. Mengayuh onthel di Pantura pasti akan menjadi pengalam­an yang mengasyikkan, pikir saya.

Minggu (11/2/2018) adalah kali pertama saya mengikuti acara trip jelajah kampung dengan mengayuh sepeda onthel. Barokah (Barisan Onthelis Kecamatan Haurgeulis), komunitas onthel Haurgeulis yang diketuai Bayu, mengajak saya untuk me­rasakan sensasi nikmatnya meng­ayuh onthel menyusuri pelosok ­kampung.

Sebelum memulai perjalanan, para anggota Barokah yang setiap hari Minggu selalu mengadakan trip ngonthel mengitari kampungnya, menjadikan halaman rumah Bayu yang rimbun pepohonan sebagai titik kumpul. Sambil menunggu peserta yang lain datang, saya dipersilakan Bayu untuk memilih terlebih dahulu sepeda onthel koleksinya yang sekiranya cocok dengan saya. Saya hitung, ada sekitar enam sepeda onthel teronggok di belakang rumahnya. Saya pun memilih sepeda onthel model Veeno.

Mengendarai sepeda onthel, kurang pas rasanya jika tidak mengenakan kostum. Biar terlihat lebih lawas, oleh Bayu saya didandani sebagai wong ndeso. Saya dipinjami baju pangsi longgar berwarna hitam dan sehelai totopong iket kepala. Penampilan saya  serasi dengan sepeda onthel hitam sambil mencangklong tas rajutan khas Baduy. Bayu mengenakan setelan kostum bergaya ala tukang potret keliling zaman dulu.

Setelah satu per satu anggota Barokah berkumpul, trip ngonthel keliling kampung dimulai. Tak ada per­siapan khusus, kecuali membawa bekal air minum dalam botol kemas­an dan kompor gas kecil untuk menjerang air panas. Perjalanan dimulai pukul 6.30 dengan menyusuri ruas jalan Alun-alun-Pasar Haur­geulis. Peserta yang berjumlah delapan orang mulai mengayuh dan membelok menuju Jalan Basuki Rahmat.

Tidak jauh dari Pasar Haurgeulis, saya melihat rumah panggung tua dengan bentuk unik terbuat dari bilah-bilah papan. Saya yang selalu tergoda untuk memotret bangunan tua, berinisiatif untuk mengabadikannya dengan berfoto bersama peserta ngonthel di halaman rumah tua milik Perhutani Kabupaten Indramayu tersebut. Ketika foto tersebut saya edit dengan memakai aplikasi di dalam handphone, foto itu menghasilkan efek suasana tempo doeloe.

Tujuan kami mengayuh sepeda onthel pagi itu adalah Waduk Cipancuh yang berjarak kurang lebih 25 kilometer dari Haurgeulis. Start perjalanan kami menuju Gantar. Sepanjang jalan kami tak henti-hentinya membunyikan bel sehingga perjalanan menjadi terasa semangat dan meriah.

Sesekali kami melambaikan tangan dan bertegur sapa dengan sesama pesepeda yang berpapasan dan orang-orang yang kebetulan kami jumpai di sepanjang jalan. Mereka pun membalas sapaan kami sambil melambaikan tangan diiringi seulas lengkung senyum ramah khas penduduk kampung.

Jalur yang kami lewati didominasi pemandangan persawahan dengan jalan aspal yang datar. Dengan kontur jalan yang lurus itu, tidak terlampau banyak tenaga yang saya keluarkan untuk menggenjot pedal sepeda.

Hanya sesekali saya menggenjot secara full speed untuk kemudian roda sepeda onthel saya biarkan meluncur mulus tanpa perlu dikayuh. Angin pagi menampar-nampar wajah kami dengan lembut ketika pasukan Barokah membelah sawah menuju Desa Gantar.

Jelajah kampung

Sinar matahari pagi belum terlalu terik menyengat. Tapi karena Indramayu termasuk wilayah berhawa panas, ditambah saya yang mengenakan baju pangsi hitam berbahan katun yang tidak menyerap keringat, membuat sinar matahari terasa menusuk-nusuk permukaan kulit. Keringat mulai meleleh.

Di kiri kanan hanya ada sawah yang membentang luas sejauh mata memandang. Burung-burung walet melayang-layang di langit, beberapa ekor burung pipit hinggap di batang-batang padi. Setelah Jalan Desa Gantar yang lurus itu dilewati, kami membelok menuju Jalan Desa Cadas Ngampar.

Jalannya masih berupa jalan tanah yang belum tersentuh aspal hotmiks. Kontur jalan yang tidak rata itu membuat laju sepeda saya ancul-anculan ketika menerobos kampung.

Memasuki Jalan Desa Balareja yang berkelok-kelok, saya benar-benar merasakan suasana kampung petani pantura. Pemandangan rumah-rumah sederhana yang terbuat dari anyaman bilik bambu dan bilah-bilah papan menjadi daya tarik tersendiri.

Saya amati, rumah-rumah di sana memiliki teras yang terbuka. Dengan begitu sirkulasi udara menjadi sejuk, ditambah dengan pohon-pohon keras seperti pohon mangga dan kelapa yang tumbuh di pekarangan membuat suasana menjadi rimbun dan adem.

Stamina mengayuh pedal mulai agak mengendur ketika memasuki Desa Cariu karena jalannya menanjak tipis. Untuk mengembalikan stamina yang terkuras, kami beristirahat sejenak di warung kecil pinggir jalan. Beberapa peserta memesan es teh manis dan es susu.

Setelah dirasa cukup memulihkan tenaga untuk mengayuh, kami kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini saya hampir kewalahan mengendalikan laju sepeda akibat jalan di Desa Situraja yang agak menurun dan berbatu-batu kerikil.

Sekitar 20 menit menggenjot pe­dal onthel melewati jalan berbatu dan berlubang, tibalah kami di Wa­duk Cipancuh. Waduk yang berupa situ atau bendungan itu berada di Desa Situraja, Kecamatan Gantar. Warga sekitar menamai bendungan itu wadukan. Waduk Cipancuh seluas 700 hektare yang dibangun peme­rintah Hindia Belanda pada 1927 itu merupakan satu-satunya sumber air yang mengairi persawahan melalui irigasi untuk lima kecamatan di Indramayu Barat (Gantar, Haurgeulis, Anjatan, Bongas, dan Kroya).

Pukul 12.30, matahari tegak lurus dengan langit. Sepeda onthel kami jajarkan membentuk formasi barisan saf di pinggir jalan. Panas matahari terasa membakar, apalagi di sekitar wadukan tidak ada satu pun pohon yang bisa dijadikan tempat berteduh. Untunglah, ada semacam jembatan kecil dekat pintu pengatur saluran air. Kolong jembatan kecil itulah yang kami jadikan tempat berteduh.

Abdul Basith, peserta yang membawa kompor gas, mulai menjerang air panas untuk menyeduh kopi. Selagi menunggu air mendidih, saya menikmati pemandangan Waduk Cipancuh yang membentang luas, dilatari gunung-gunung di kejauhan. (Andrias Arifin, travel-blogger tinggal di Bandung, Sumber: Pikiran Rakyat: 15-04-2018)***

komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: