METRUM
Jelajah Komunitas

Menjamurnya Komunitas Pesepeda Perempuan di Masa Pandemi

HAMPIR dua tahun sudah pandemi Covid-19 berada di muka bumi ini. Saat ini memang telah terjadi penurunan yang cukup signifikan, namun pandemi belum ada tanda-tanda akan berhenti dan sirna. Bahkan, dikhawatirkan virus varian baru akan menyebar di negeri ini, semoga saja tidak terjadi.

Meski demikian, keberadaan pandemi selain membawa dampak kesulitan yang cukup luas, juga sedikitnya telah memunculkan adaptasi-adaptasi kebiasaan baru bagi masyarakat, salah satunya adalah euforia gemar bersepeda.

Maraknya masyarakat bersepeda di masa pandemi tersebut juga telah membawa aura positif bagi kaum perempuan, yang mana pesepeda perempuan saat ini semakin banyak bermunculan, berseliweran memenuhi jalan dan sudut-sudut kota, serta trek-trek sepeda. Para pesepeda baru ini kemudian berkelompok, membuat perkumpulan dan ikut menumbuhkan komunitas-komunitas pesepeda perempuan.

Di Bandung Raya, belasan tahun yang lalu masih terbilang jarang komunitas pesepeda perempuan, para individunya lebih banyak bergabung di komunitas yang didominasi pesepeda pria. Tahun 2010, lahirlah Nu Gareulis Ngagowes (NGN).

Komunitas pesepeda perempuan Nu Gareulis Ngagowes (Foto: Dok. Metrum).*

Konon, NGN merupakan komunitas pesepeda perempuan pertama saat itu. Sempat eksis hingga 2017, kemudian di tahun-tahun berikutnya intensitasnya menurun sampai sekarang, hanya muncul sesekali menggelar kegiatan andalannya yaitu Gowes Cantik dan Yoga for Goweser atau mengikuti kegiatan bersepeda yang dilaksanakan oleh pihak lain. BACA JUGA: Komunitas Pesepeda Perempuan: Nu Gareulis Ngagowes (NGN)

Beberapa komunitas pesepeda yang didominasi kaum pria, memiliki sebutan khusus bagi anggotanya yang perempuan, seperti Srikandi B2W, Srikandi GBB, Ladies Federal Bandung, dan Onthel Geulis PSBB atau onthelista.

Di tengah kevakuman komunitas pesepeda perempuan dan makin banyaknya pesepeda perempuan meramaikan khazanah dunia sepeda di Bandung, terbentuklah Women Cycling Community (WCC) chapter Bandung. Didirikan pada perayaan Hari Kartini, 21 April 2017. Hingga sekarang masih eksis dengan ragam kegiatan terutama dalam rangka Hari Kartini, Hari Ibu atau yang bertemankan perempuan.

Women Cycling Community (WCC) Bandung (Foto: Dok. WCC).*

Pada tahun 2020, pada saat pergantian kepemimpinan, WCC Bandung terbagi dua genre, sehingga ada dua ketua,  yakni WCC Roadbike dan WCC MTB/Seli.  Masing-masing punya kegiatan regulernya, tapi di momen-momen tertentu keduanya bersatu padu.

Makin ke sini komunitas pesepeda perempuan makin menjamur, terutama pada masa new normal atau adaptasi kebiasaan baru Covid-19. Panjangnya jadwal Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tak menyurutkan mereka untuk bergerak. Namun demikian mereka tetap menerapkan protokol kesehatan. Berikut di antaranya:

Ebelersquad (Foto: Dok. Ebelers).*

Ebelersquad, berdiri pada 13 Januari 2019, namun hari jadinya sering dirayakan pada bulan Februari. Beranggotakan 34 orang dan bermarkas di Buah Batu Regency. Kegiatan rutinnya bersepeda bersama di akhir pekan dan mengikuti kegiatan yang diadakan pihak lain. Ebelers, salah satu komunitas pesepeda perempuan yang rajin berkegiatan bersepeda sambil penghijauan dan aksi sosial. Sebagian besar anggotanya merupakan anggota WCC.

Gowes Persatuan Olahraga Wanita Indonesia (Perwosi). Perwosi merupakan organisasi wanita olahraga. Di Kecamatan Batununggal ada divisi gowesnya, lalu mengelompokan diri menjadi Gowes Perwosi, terbentuk pada tanggal 19 November 2020, sekretariat sementara di kantor kecamatan. Beranggotakan 80 orang, setiap akhir pekan mereka bersepeda bersama keliling kota. Sayangnya karena pandemi masih terjadi, intensitas mereka menurun dan berkegiatan secara sendiri-sendiri.

Gowes Emak Emak Strong (Foto: Dok. Gemesquad).*

Gowes Emak-Emak Seterong Squad (Gemesquad), didominasi oleh emak-emak pedagang di pasar dan warung, berdiri pada 15 Desember 2019, basecamp-nya di pasar Bale Endah. Sesuai karakternya, emak-emak strong ini memiliki jargon yang berbunyi “Gemesquad Yes, Gemes Kuat, yeees”. Dalam melakukan gowes rutin tiap hari Minggu, selalu menjajal trek-trek dengan medan berat, mereka tak kalah strongnya dengan pesepeda pria. Sebulan sekali di hari Selasa minggu ke-3 mereka bersepeda di jalur relatif datar dengan finish di rumah salah satu anggota secara bergiliran.

Karakter mereka hampir sama dengan Velo Girl, komunitas pesepeda perempuan yang juga senang jalur berat. Personilnya juga sama, hampir semua berhijab, tapi mereka tidak merasa risi bersepeda dengan pakaian tertutup seperti itu, malah tetap gesit dan lincah di tanjakan. Seperti halnya Ebelers, sebagian besar anggota Velo adalah anggota WCC juga.

D’Ladies, komunitas pesepeda perempuan yang berada di timur Kota Bandung atau tepatnya di daerah Bojong Manjah, Gedebage ini berdiri pada 27 Juli 2020. Seperti halnya Gemesquade, rata-rata anggotanya adalah pedagang dan hampir semuanya berhijab. Mereka selalu asyik bersepeda berseliweran menyusuri sudut-sudut kota dan trek-trek sepeda. Memiliki jersey yang beragam, berwarna-warni dan genjreng.

Gowescanquad (Foto: Dok. Gowescan).*

Gowescansquad, terbentuk tanggal 19 September 2019, beranggotakan 8 orang ibu-ibu dan seorang bapa selaku manager. Mereka berasal dari majelis taklim seputar daerah Arcamanik, Pasir Impun, dan Mandalajati. Masa pandemi, mereka semangat bersepeda dengan alasan untuk menaikkan imun. Dalam 1 minggu 2 kali melakukan kegiatan bersepeda di hari Rabu dan Minggu. Komunitas ini juga termasuk emak-emak strong yang sering menjajal trek-trek berat, dan sesekali bersepeda jauh seperti ke Garut dan Pangalengan. Seiring perjalanan waktu, ada beberapa yang sudah endors produk dan partnership dengan Gowescansquad.

Grandma (Foto: Dok. Forkom Bandung Raya).*

Grandma, Salah satu komunitas pesepeda perempuan dari daerah Majalaya, Kabupaten Bandung ini beranggotakan 40 orang. Terbentuk pada tanggal 3 April 2020, awalnya terbentuknya karena sering bertemu saat gowes sendiri, kemudian berkumpul dan membuat kelompok. Dipilih nama Grandma karena rata-rata mereka sudah punya cucu. Jargon khas mereka adalah Ngajalur (Ngahiji Jadi Dulur). Kegiatan rutinnya Selain Gobar, pengajian, dan bukber keliling di bulan Ramadan.

Semua Komunitas Pesepeda perempuan yang disebutkan di atas sudah bergabung di wadah Forum Komunikasi Komunitas Pesepeda se-Bandung Raya (Forkom Bandung Raya). WCC tercatat di nomor urut dua (2), NGN (56), ebelersquad (93), Gowes Perwosi (183), Gemesquad (210), Velogirl (211), D’Ladies (280), Gowescansquad (281), dan Grandma (284). Hampir semuanya selalu aktif dalam beberapa kegiatan yang digelar oleh Forkom Bandung Raya.

Bersepeda di Hari Ibu (BERIBU)

Guna mengapresiasi para pesepeda perempuan yang memang kebanyakan ibu-ibu atau mamah-mamah muda, Forkom Bandung Raya menggelar kegiatan bersepeda khusus untuk perempuan bertajuk BERIBU (Bersepeda di Hari Ibu) pada Rabu (22/12/2021). Peserta terbatas hanya untuk 100 peserta saja, mengingat masih dalam masa pendemi. 

Mereka akan bersepeda dari Balai Kota Bandung melalui Jalan Wastukencana, Martadinata, Juanda, Diponogoro, Supratman, Ahmad Yani, Cicadas, Jalan Jakarta, dan finish di Kiara Artha Park bersama salah seorang cycling enthusiast, Suzysoey. Mereka menggunakan kebaya yang disesuaikan. Selain bersepeda, kegiatan dirangkai dengan pengumpulkan donasi yang hasilnya akan diberikan kepada ibu-ibu yang berprofesi sebagai petugas kebersihan.

Selamat Hari Ibu! Tetap semangat, sehat, dan selalu waspada. Tetap menerapkan protokol kesehatan, dan tetap bersepeda dengan bijak, tertib, dan beretika. Semoga pandemi segera berlalu. Salam boseh dan go green! (Cucu Hambali, Bersepeda itu Baik)***

komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: