METRUM
Jelajah Komunitas

Mochammad Romli (27 Juli 1927 – 6 April 2000)

Tokoh Penerus Perintis Pers Jawa Barat

Oleh: Nada Ahmad

SUATU hari, Saya bertemu dengan Pak Haji Didin D. Basoeni (Almarhum, kartunis Mang Ohle, yang meninggal, Sabtu 17 Desember 2016, pukul 22.45 wib, pada usia 73 tahun). Sebagai senior jurnalis di koran tempat saya bekerja (almarhum merupakan karyawan purnabakti/pensiunan “PR”), Pak Didin sering mengajak ngobrol apa saja menyangkut seluk-beluk dunia jurnalistik. Saya adalah orang yang relatif sering diajak bicara pada hari-hari kedatangannya ke Kantor “PR”.

Dalam obrolan santai itu, beliau sering menyebut nama bapak saya (Mochammad Romli –Moh. Romli–, sering ditulis Mh.Romli) sebagai salah seorang tokoh pers Jawa Barat yang membumi, idealis dan memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. Bahkan untuk urusan politik, menurutnya, bapak saya adalah guru, baginya dan beberapa wartawan lainnya. Membumi dalam arti bapak saya adalah orang yang sangat faham dan perhatian dengan “orang-orang kecil”.

Tidak sedikit orang yang merasakan bantuan bapak saya ini. “Bapa mah berehan, tara itungan, bageur, malah mah bageur pisan,” ujar Pak Didin kepada saya. Rumah bapak di Jalan Muararajeun, Daerah Supratman dulu seringkali menjadi rumah singgah bagi saudara, teman, bahkan rekan yang belum lama bapak kenal. Mulai dari anak sekolahan, kuliahan, yang baru lulus kuliah hingga yang mencari kerja sering bapak tampung di rumah. Bapak tidak pernah “Itungan”. Dan, hampir tiap waktu ada saja orang yang berkunjung. Sekadar brainstorming, keluh-kesah, curhat, hingga minta bantuan.

Tapi, karena punya sifat seperti itu, bapak saya sering kali “dimanfaatkan” orang. Paling parah ketika mendanai –sebagai pemborong– pembangunan perumahan wartawan di daerah Cijagra, Bandung. Saking percayanya kepada seseorang, ditipu dan diakali habis-habisan oleh pelaksana lapangan sehingga menimbulkan kerugian materi yang cukup besar pada saat itu. Bapak saya sampai harus “habis-habisan” menjual harta benda yang dimilikinya. Mulai dari rumah, tanah, hingga kendaraan. Ini menjadi pelajaran dan hikmah yang berharga bagi kami sekeluarga.

Menurut ibu saya, bapak adalah sobat dari Mang Dudi (H. Dudi Suganda Nandang, alm.) pemilik rumah makan sunda “PONYO” yang cukup legendaris. Persahabatan terjalin, karena bapak sempat memberi bantuan permodalan kepada Mang Dudi saat RM PONYO masih perintisan, belum berkembang seperti sekarang ini. Selain itu, beberapa sobat dalit bapak pada masa itu adalah Ramadhan KH (bapaknya Gilang Ramadhan), Utuy Tatang Sontani, Dajat Hardjakusumah (bapaknya Bimbo –ketika Pak Dajat jadi ketua PWI Jabar, bapak wakilnya–), Onong Uchyana Effendi (guru besar Fikom Unpad), Sanaya (wartawan/penulis), Remy Silado (seniman/sastrawan), Krisna Harahap, Didin D. Basoeni (kartunis mang ohle), Rukmana HS, S. Sukandar, Mang Parmin (juragan koran/kertas bekas di bandung), Sakti Alamsyah dan Oot Hidayat Natasujana (keduanya sama-sama jebolan Deppen –Departemen Penerangan– seperti bapak sebelum aktif di media cetak/koran). Pak Sakti Alamsyah bersama beberapa rekannya, bahkan sukses mendirikan HU Pikiran Rakyat tempat saya bekerja sekarang ini. Dunia memang sempit!

Krisna Harahap dan MH Romli saat ultah Koran Mandala (Dok. Pribadi).*

Pada perayaan Hari Pers Nasional Tahun 1997 (1417 H) Tingkat Jabar, PWI Cabang Jawa Barat (Ketua PWI saat itu H.A.M Ruslan) menyerahkan piagam/penghargaan dan katineung kepada para “Perintis Pers Jabar” yaitu Atje Bastaman (85 thn), M.O. Koeman (80 thn), dan R. Rohdi Partaatmadja (80 thn). Sedangkan Moh. Romli (70 thn), memperoleh penghargaan sebagai “Perintis Penerus Pers Jawa Barat”. Bapak saya yang mendapatkan undangan pemberitahuan saat itu sempat terheran-heran. Kok lama dilupakan, tiba-tiba ada orang yang mau mengingat peran bapak dalam perjuangan pers Jabar. Meski sempat tak mau hadir, atas desakan beberapa orang, akhirnya bapak mau datang juga.

**

Mohammad Romli –terakhir menjabat sebagai staf ahli, sesepuh merangkap redaktur politik di koran berbahasa Sunda “Giwangkara”– pada Jumat, 6 April 2000, saat umat Islam masih dalam suasana memperingati Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram 1421, meninggal dalam usia 73 tahun. Beliau dikuburkan di Pemakaman Muslimin Cikutra, Bandung, tidak jauh dari makam ulama terkemuka Dr. KHEZ Muttaqien. Bapak merupakan anak pertama dari ajengan KH Soebandi yang cukup dikenal di Majalaya. Karena, selain ulama, KH Soebandi meski berasal dari Tasikmalaya, setelah pindah ke Majalaya ikut mengembangkan geliat bisnis di daerah itu.

Di Jawa Barat, wartawan senior yang telah berumur menyebutnya Kang Romli. Wartawan yang “agak muda-an” memanggilnya Pak Romli. Ciri panggilan “kang”, menandakan “mikokolot” dalam perkara jurnalistik.

Saat itu, sudah tidak ada lagi teman seangkatannya yang masih aktif sebagai wartawan. “Meh saumur Akang jeung Oot ti Ciamis!” ujar bapak saya kepada Rukmana HS teman sekantornya. Pak Oot Hidayat Natasujana adalah salah seorang sobat bapak sejak masih bersama-sama aktif jadi PNS di Departemen Penerangan Tahun 50-an.

Mh. Romli mulai aktif di dunia kewartawanan sejak tahun 1947. Pada tahun itu, Romli menjadi bewarawan warta berita Basa Sunda dan jadi “Translator Berita Basa Sunda” (Redaktur Pembantu) RRI Bandung. Redakturnya adalah Utuy Tatang Sontani. Ketika itu, RRI mengungsi ke Tasikmalaya. Di RRI, Romli sempat menjadi redaktur (diantaranya yang saya tahu adalah redaktur bidang seni & budaya). Ketika menjadi redaktur di RRI, Romli juga merangkap jadi wartawan di Kantor Berita PIA pimpinan Adinegoro. Saat itu, pimpinan PIA cabang Bandung, Ali Syahbana.

Setelah hijrah ke media cetak (awal 60-an), bapak banyak menukangi kelahiran media pada saat itu. Beberapa di antaranya Harian Karya, Harian Banteng, Mandala, Harian Berdikari/Bandung Pos, dan Giwangkara. Tahun 1959/1960 bersama AK Jacoby (mantan wartawan Pikiran Rakyat) menerbitkan surat kabar sore “Harian Karya”. Kemudian Romli menerbitkan Harian Banteng (Tahun 1963). Pada masa jayanya, Harian Banteng cukup fenomenal. Menjadi koran terbesar di Jawa Barat. Para pengelola koran ini selain bapak–yang langsung membawahi awak redaksi–, diantaranya adalah Oom Sanaya, Didin D. Basoeni (kartunis Mang Ohle) dan Onong Uchyana Effendy (guru besar fikom Unpad –teman bapak ketika masih di RRI). Pada saat itu, pemerintah membuat aturan koran-koran harus berafiliasi ke parpol atau ke Muspida daerahnya masing-masing. Pada masa itu pula, bersama beberapa jurnalis lain, Romli sempat melanglangbuana ke Eropa.

Setelah Harian Banteng berhenti di tahun 1967, Romli ditunjuk menjadi pemimpin perusahaan “Harian Berdikari” yang didirikan oleh tokoh-tokoh Pemda Jabar. Ketika itu, ketua DPRD Jabar adalah Kolonel Rachmat Sulaeman. Kemudian Harian Berdikari berganti nama menjadi Bandung Pos. Ketika masih dipimpin Rachmat Sulaeman, Romli sempat menjadi direksi Bandung Pos.

Pada 7 Desember 1969, Bapak bersama 3 orang rekannya mendirikan Koran “Mandala” (Mandala didirikan empat orang yaitu H. Krisna Harahap, S.H., Surya Susila, B.A., Rustandi Kartakusumah, dan Moch. Romli). Kemudian pada tahun 1979, bersama sekitar 7 rekannya, Romli mendirikan koran berbahasa sunda Giwangkara. Sampai akhir hayatnya, Romli mengabdi di Giwangkara.

Dalam bidang organisasi pers, Mh. Romli sempat menjadi Wakil Ketua PWI Jawa Barat dan Ketua SPS (Serikat Penerbit Surat Kabar) Jabar.

**

Menurut Pak Rukmana HS –salah seorang sobat bapak–, “Tulisan Kang Romli liuh linduk mun dibaca, tapi karasa seukeutna upami dilenyepan”. Tulisan bapak saya menurutnya, disebut sosial kontrol ala Sunda. Pak Rukmana HS mangaku, bahwa dirinya adalah murid bapak saya dalam menulis artikel dan cerpen. “Sing bener Yi, digawe teh. Tengetan tulisan Akang, dina perkara ganti alternatip, dina judul, dina rarangken. Ayi mah mindeng nulis kalimah dikantetkeun! Kudu ngarti, aya kecap pagawean jeung aya kecap barang!” kata-kata bapak yang selalu diingat Rukmana HS yang saat itu sering menulis artikel di salah satu koran di Bandung. Setelah Rukmana HS dan bapak bareng bekerja di Koran Giwangkara, bapak sudah tidak pernah “garah geureuh” lagi.

Bapak seorang avonturir, sekolahnya dari HIS, sempat ke MULO. Sempat pula di Fakultas Publisistik Unpad angkatan-angkatan awal/perintisan meski tidak tamat. Zaman revolusi fisik Tahun 1945, sabilulungan berjuang di medan perang di satu kesatuan, dengan pangkat Kapten.

Tahun 1950-an, saat jadi karyawan RRI Bandung, bapak pernah terkena penyakit liver cukup parah. “Harita mindeng ngadenge sora jurig heheotan di RRI teh, Yi. Mun aya nu kitu, geuring akang sok ripuh,” tutur bapak saya kepada Rukmana HS.***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: